Sahabat MQ Dialah Allah yang mengurus kita setiap saat. Nikmat apapun pasti dari Allah, tidak sesat pun kita lepas dari karunianya
Salah satu ciri orang bertakwa
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
alladzîna yu’minûna bil-ghaibi wa yuqîmûnash-shalâta wa mimmâ razaqnâhum yunfiqûn
(yaitu) orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (Qs. Al-Baqarah:3)
Semakin kuat ketakwaan seseorang, maka semakin besar keyakinannya terhadap hal-hal gaib, termasuk keyakinan adanya malaikat yang selalu mengawasi serta bisikan setan yang senantiasa berusaha menyesatkan. Setan seringkali menggoda dengan bisikan keburukan, dan salah satu jalan utama yang digunakan adalah melalui nafsu. Nafsu yang tidak terkendali dapat menjadi sarana setan untuk menjerumuskan kita ke dalam perbuatan dosa.
Namun, kita harus ingat bahwa setan itu lemah. Ia hanya bisa menyesatkan kita jika kita mengikuti bisikannya. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengendalikan nafsu agar tidak terjerumus dalam keburukan yang diinginkan oleh setan.
Orang yang mampu mengendalikan nafsunya dan menjaga ketakwaan, mereka adalah orang yang semakin sulit dibisiki oleh setan. Di antara mereka yang paling sulit tergoda oleh setan adalah orang yang mukhlis (sungguh-sungguh ikhlas) dan mutawakkil (berserah diri sepenuhnya kepada Allah).
اِنَّهٗ لَـيۡسَ لَهٗ سُلۡطٰنٌ عَلَى الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا وَعَلٰى رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُوۡنَ
Innahụ laisa lahụ sulṭānun ‘alallażīna āmanụ wa ‘alā rabbihim yatawakkalụn
Artinya: Sesungguhnya syaitan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya (Qs. An-Nahl:99)
Oleh karena itu, untuk melawan bisikan setan dan menghindari keburukan, kita perlu memperkuat ketakwaan, menjaga keikhlasan, dan selalu berserah diri kepada Allah dengan penuh tawakal. Ini adalah langkah penting untuk menjauhkan diri dari godaan setan dan menjalani hidup yang lebih baik.
Orang-orang yang selalu sibuk memikirkan penilaian orang lain, yang ingin terlihat pintar, saleh, atau keren, cenderung mudah tertipu oleh bisikan setan. Setan sering kali memanfaatkan untuk menjerumuskan untuk mendapatkan pujian dan pengakuan dari orang lain, sehingga rentan hidupnya tidak tenang karena dia akan terus tertipu oleh setan yang membuat dia capek mengejar pujian orang
Sebaliknya, orang yang tidak terlalu memikirkan bagaimana orang lain menilai dirinya, dan lebih fokus pada hati dan amal perbuatannya, adalah orang yang sulit ditipu oleh setan. Mereka memahami bahwa yang lebih penting dari penampilan luar adalah kebersihan hati dan kualitas amal yang ikhlas hanya karena Allah. Inilah yang menjadikan mereka lebih tangguh dalam menghadapi godaan setan, karena mereka tidak tergoda untuk melakukan perbuatan hanya demi pandangan manusia.
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ ». رواه مسلم
Artinya: Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik dan harta kalian tetapi Ia melihat hati dan amal kalian”. (HR. Muslim)
Ciri orang beriman adalah berbicara baik atau diam dan setiap bicara akan menjadi amal saleh dengan mengajak orang dalam kebaikan dan mencegah orang dari keburukan
مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Barangsiapa yang beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari akhir maka hendaknya dia berbicara yang baik atau (kalau tidak bisa hendaknya) dia diam.