Fenomena Perbedaan Sikap terhadap Al-Qur’an di Tengah Umat
Perbedaan sikap umat Islam terhadap Al-Qur’an sering menimbulkan rasa heran sekaligus pertanyaan batin. Di satu sisi, ada orang yang betah berjam-jam membaca Al-Qur’an tanpa merasa lelah, bahkan merasa waktu berlalu begitu cepat. Di sisi lain, tidak sedikit yang baru membaca beberapa ayat sudah merasa bosan, mengantuk, atau ingin segera berhenti. Fenomena ini nyata dan kerap disaksikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian orang menganggap perbedaan ini semata-mata soal kebiasaan atau kemampuan membaca. Padahal, dalam perspektif ruhiyah Islam, perbedaan tersebut lebih dalam daripada sekadar faktor teknis. Al-Qur’an adalah kitab yang sama, dibaca oleh manusia yang sama-sama beriman, namun respons hati terhadapnya bisa sangat berbeda.
Dalam kajian Inspirasi Qur’an MQFM Bandung dijelaskan bahwa perbedaan ini merupakan cerminan dari kondisi jiwa masing-masing. Al-Qur’an berinteraksi langsung dengan hati, sehingga kualitas hubungan seseorang dengan Al-Qur’an sangat dipengaruhi oleh kesiapan batin dan kebersihan jiwanya.
Tingkatan Jiwa Manusia dan Pengaruhnya terhadap Al-Qur’an
Para ulama menjelaskan bahwa jiwa manusia memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda. Al-Qur’an sendiri menyebutkan beberapa kondisi jiwa, di antaranya jiwa yang dikuasai hawa nafsu, jiwa yang sering mencela diri sendiri, dan jiwa yang tenang. Perbedaan kondisi inilah yang menentukan bagaimana seseorang merespons Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut jiwa yang tenang dalam firman-Nya:
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.”
(QS. Al-Fajr: 27–28)
Jiwa yang tenang adalah jiwa yang telah terbiasa dekat dengan Allah dan tunduk kepada-Nya. Dalam kajian MQFM dijelaskan bahwa jiwa seperti ini akan menikmati setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca. Al-Qur’an menjadi kebutuhan, bukan kewajiban yang memberatkan.
Sebaliknya, jiwa yang masih dikuasai hawa nafsu atau dipenuhi kelalaian akan merasakan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang berat. Bukan karena Al-Qur’an itu sulit, tetapi karena jiwa belum siap menerima tuntunan yang bertentangan dengan keinginan nafsu.
Jiwa yang Bersih Menikmati Al-Qur’an, Jiwa yang Kotor Membutuhkan Mujahadah
Jiwa yang bersih dan hidup akan merespons Al-Qur’an dengan rasa rindu dan kenikmatan. Membaca Al-Qur’an bukan sekadar aktivitas ibadah, tetapi menjadi momen perjumpaan batin dengan kalam Allah. Orang dengan jiwa seperti ini tidak mudah bosan, karena hatinya selalu menemukan makna dan ketenangan.
Sebaliknya, jiwa yang masih kotor membutuhkan mujahadah. Mujahadah adalah usaha sungguh-sungguh untuk memaksa diri tetap berada dalam ketaatan meskipun terasa berat. Proses ini sering kali melelahkan di awal, karena jiwa belum terbiasa tunduk kepada Al-Qur’an.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang pentingnya kesungguhan dalam berjuang mendekat kepada-Nya:
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
(QS. Al-Ankabut: 69)
Ayat ini menjadi penguat bahwa kenikmatan bersama Al-Qur’an tidak selalu datang di awal. Ia sering kali hadir setelah seseorang bersabar dan bersungguh-sungguh dalam prosesnya.
Bosan Membaca Al-Qur’an Bukan Akhir, Tetapi Awal Perjuangan
Rasa bosan saat membaca Al-Qur’an sering kali disalah artikan sebagai kegagalan spiritual. Padahal, dalam kajian ruhiyah, rasa bosan justru bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang berada dalam fase perjuangan. Jiwa belum sepenuhnya siap, tetapi masih mau mendekat dan berusaha.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Setiap amalan memiliki masa semangat, dan setiap masa semangat memiliki masa futur. Barangsiapa futur-nya masih berada dalam sunnahku, maka ia telah mendapatkan petunjuk.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini menunjukkan bahwa naik turunnya semangat adalah hal yang manusiawi. Yang terpenting adalah tidak berhenti dan tidak meninggalkan Al-Qur’an ketika rasa bosan datang.
Dalam kajian MQFM dijelaskan bahwa orang yang cepat bosan bukan berarti tidak cinta Al-Qur’an. Bisa jadi ia sedang berada dalam fase mujahadah, fase di mana jiwa sedang dilatih untuk tunduk dan patuh.
Islam Tidak Menuntut Hasil Instan dalam Hubungan dengan Al-Qur’an
Islam tidak mengajarkan hasil instan dalam mendekatkan diri kepada Al-Qur’an. Hubungan dengan Al-Qur’an dibangun melalui proses panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Setiap usaha membaca Al-Qur’an, meskipun terasa berat, tetap bernilai ibadah di sisi Allah.
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menjadi pedoman utama dalam membangun kedekatan dengan Al-Qur’an. Membaca sedikit namun rutin jauh lebih bermakna daripada membaca banyak namun hanya sesekali.
Dengan istiqomah, mujahadah, dan niat yang lurus, jiwa yang awalnya cepat bosan akan perlahan berubah. Dari terpaksa menjadi terbiasa, dari terbiasa menjadi cinta, hingga akhirnya Al-Qur’an menjadi sahabat yang dirindukan. Inilah proses alami yang Allah siapkan bagi setiap hamba yang ingin benar-benar dekat dengan kitab-Nya.