Kebijakan larangan penggunaan gawai di sekolah kembali menjadi perbincangan publik. Dinas Pendidikan Jakarta pada akhir Januari 2026 resmi membatasi penggunaan gadget di seluruh satuan pendidikan. Tujuannya jelas untuk mengembalikan fokus belajar dan membangun kedisiplinan siswa di ruang kelas.

Namun, di tengah apresiasi yang muncul, kebijakan ini juga menyisakan pertanyaan penting. Apakah larangan gawai benar-benar mampu meningkatkan kualitas belajar siswa secara berkelanjutan, atau justru hanya menciptakan ketenangan semu selama jam sekolah berlangsung.

Manfaat Cepat yang Langsung Terlihat di Ruang Kelas

Sejumlah sekolah melaporkan perubahan positif sejak kebijakan pembatasan gawai diterapkan. Gangguan selama pembelajaran berkurang, interaksi tatap muka antar siswa meningkat, dan suasana kelas menjadi lebih kondusif.

Hasil survei yang dirilis beberapa media nasional menunjukkan lebih dari separuh siswa mengaku lebih fokus belajar ketika gawai tidak digunakan selama jam pelajaran. Kondisi ini memperlihatkan bahwa secara jangka pendek, larangan gawai mampu menekan distraksi digital yang selama ini mengganggu proses belajar.

Fokus Belajar Tanpa Gawai Tidak Otomatis Mengubah Perilaku

Meski demikian, efektivitas kebijakan ini tidak bisa dilihat secara parsial. Penelitian menunjukkan bahwa pembatasan gawai di sekolah tidak selalu berbanding lurus dengan berkurangnya kecanduan digital di luar lingkungan pendidikan.

Tanpa pendekatan yang menyeluruh, siswa justru berpotensi melampiaskan penggunaan gawai secara berlebihan sepulang sekolah. Fokus belajar yang meningkat di kelas bisa menjadi ilusi sesaat jika tidak diiringi perubahan pola perilaku digital secara menyeluruh.

Pandangan Pengamat Pendidikan

Pengamat Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Jejen Musfah, M.A., yang mengudara di Radio MQFM Bandung Selasa 03/02/2026, menilai bahwa kebijakan larangan gawai perlu dibaca secara lebih proporsional.

Menurutnya, gawai sejatinya hanyalah alat. Dampaknya sangat ditentukan oleh cara penggunaan dan tingkat literasi digital penggunanya. Ia menegaskan bahwa tujuan utama larangan ini adalah mengembalikan fokus anak pada materi pelajaran, bukan memusuhi teknologi itu sendiri.

Dr. Jejen juga menyoroti bahwa kemampuan editorial dan literasi digital siswa justru perlu diperkuat. Anak-anak harus dibekali etika digital yang sungguh-sungguh agar mampu menyaring informasi di tengah arus big data yang masif.

Keteladanan Orang Dewasa Menjadi Kunci

Larangan gawai di sekolah akan sulit mencapai tujuan jika tidak didukung lingkungan rumah. Dr. Jejen menekankan pentingnya praktik nyata penggunaan gawai secara bijak oleh orang dewasa, baik guru maupun orang tua.

Interaksi semua pihak menjadi kunci. Anak belajar bukan hanya dari aturan, tetapi dari contoh yang mereka lihat setiap hari. Ketika sekolah dan rumah berjalan searah, pembentukan karakter digital yang sehat akan lebih mungkin terwujud.

Antara Disiplin dan Kesiapan Masa Depan

Di era digital, tantangan pendidikan bukan sekadar membatasi, tetapi menyiapkan generasi yang mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Larangan gawai dapat menjadi langkah awal membangun disiplin belajar, namun tidak cukup jika berdiri sendiri.

Pendekatan yang lebih holistik diperlukan, menggabungkan pembatasan, literasi digital, pendampingan keluarga, serta keteladanan nyata. Dengan cara ini, fokus belajar tidak hanya hadir sesaat di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi kebiasaan yang berkelanjutan dalam kehidupan siswa.