Pengadilan Hakiki yang Tidak Mengenal Kompromi
Bayangkan sebuah hari di mana tidak ada lagi pembela, tidak ada lagi jabatan, dan tidak ada satu pun kebohongan yang bisa disembunyikan. Mahkamah akhirat adalah muara terakhir bagi seluruh makhluk untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan, sekecil apa pun, di hadapan Zat yang Maha Adil. Pada hari itu, setiap manusia akan berdiri sendiri tanpa membawa apa pun kecuali amal ibadah yang telah dilakukan selama di dunia.
Dalam kajian “Mahkamah Akhirat” bersama Ustaz Abu Yahya, ditekankan bahwa semua makhluk pasti akan dihadapkan kepada Allah atau disebut dengan istilah Al-Ardu. Fenomena ini mencakup semua orang, baik yang akan diperiksa secara rinci maupun mereka yang mendapatkan keistimewaan untuk tidak dihisab sama sekali. Segala catatan amal akan terbuka nyata dan tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dari pandangan Allah Swt.
Keadilan di mahkamah ini bersifat mutlak dan tidak mengenal suap atau koneksi seperti di dunia. Seseorang yang membawa kezaliman dari dunia akan merasakan kerugian yang nyata karena setiap inci perbuatannya terekam dengan sangat canggih. Oleh karena itu, persiapan menghadapi momen besar ini harus dimulai sejak detik ini dengan menanamkan akidah yang lurus serta ketakutan yang mendalam kepada pengadilan-Nya.
Rahasia Mendapatkan Hisab yang Ringan (Hisab Yasirah)
Salah satu rahasia terbesar untuk lolos dari kengerian mahkamah akhirat adalah dengan mengusahakan Hisab Yasirah atau pemeriksaan yang ringan. Hisab ini diberikan kepada orang-orang beriman yang ketika di dunia selalu merasa takut kepada Allah dan tidak sombong akan dosa-dosanya. Mereka hanya akan diperlihatkan catatannya secara sepintas, lalu Allah akan menutupi aib mereka dan langsung memberikan ampunan tanpa mempermalukannya di depan makhluk lain.
Agar bisa mendapatkan kemudahan ini, seorang muslim harus menjauhi sifat mujahirah atau terang-terangan dalam berbuat maksiat. Orang yang sengaja memamerkan dosanya atau bangga dengan masa lalunya yang kelam tanpa rasa malu, berisiko menghadapi pemeriksaan yang sangat detail atau munaqasyah. Sesuai dengan pesan nabi, sesiapa yang diperiksa hisabnya secara rinci, maka ia pasti akan celaka karena tidak ada manusia yang benar-benar bersih dari khilaf.
Selain itu, membiasakan diri untuk selalu bertaubat dan mengakui kesalahan di hadapan Allah dalam sujud-sujud malam adalah kunci utama. Janganlah kita menjadi orang yang gemar berdebat atau mencari alasan atas kesalahan yang dilakukan. Pengakuan yang tulus di dunia akan membantu kita mendapatkan “mahkamah tertutup” di akhirat, di mana Allah Swt. akan berfirman bahwa Ia telah menutupi aib kita di dunia dan mengampuninya di hari pembalasan.
Menghindari Kebangkrutan di Hadapan Sang Pencipta
Mimpi buruk terbesar di mahkamah akhirat adalah menjadi orang yang muflis atau bangkrut secara amal. Kebangkrutan ini terjadi ketika seseorang datang membawa pahala solat, puasa, dan zakat yang melimpah, namun ia juga membawa dosa kezaliman kepada sesama manusia. Pahala-pahala kebaikannya akan diambil untuk membayar tuntutan orang-orang yang pernah dizaliminya, hingga akhirnya amalnya habis dan ia harus memikul dosa orang lain.
Oleh karena itu, rahasia lain untuk selamat adalah dengan menyelesaikan segala urusan dengan sesama manusia sebelum ajal menjemput. Meminta maaf, mengembalikan harta yang diambil secara haram, dan berhenti melakukan ghibah adalah langkah nyata untuk meringankan beban di mahkamah nanti. Jangan biarkan ada orang lain yang menagih keadilan di hadapan Allah karena pada saat itu, tidak ada lagi harta yang bisa digunakan untuk membayar kecuali pahala amalan kita sendiri.
Segala bentuk kesaksian di akhirat nanti tidak akan bisa dibantah karena mulut akan dikunci rapat-rapat. Hal ini sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: “Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka; tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Yasin: 65).