MQFMNETWORK.COM | Virus Hanta kembali menjadi perhatian publik setelah muncul laporan kasus yang dikaitkan dengan kapal pesiar internasional. Meski kasus tersebut terjadi di luar Indonesia, situasi itu memunculkan kewaspadaan baru terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis di tengah tingginya mobilitas manusia antarnegara.
Di Indonesia sendiri, sejumlah kasus suspek Virus Hanta dilaporkan muncul sejak 2024. Kondisi ini membuat berbagai pihak mulai menyoroti kesiapan sistem kesehatan nasional dalam melakukan mitigasi dan deteksi dini terhadap penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat tersebut.
Meski hingga kini belum ditemukan lonjakan kasus besar, para ahli menilai kewaspadaan tetap perlu diperkuat agar potensi penyebaran dapat dicegah sejak awal.
Virus dari Hewan Pengerat yang Perlu Diwaspadai
Praktisi dan Peneliti Global Health Security dan Pandemi pada Center for Environment and Population Health Griffith University Australia, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa Virus Hanta merupakan penyakit yang ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Dalam pembahasan pada program Sudut Pandang, ia menjelaskan penularan dapat terjadi melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengandung virus. Virus kemudian dapat masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan ketika partikel terkontaminasi terhirup.
Menurutnya, lingkungan dengan sanitasi buruk dan populasi tikus yang tidak terkendali menjadi faktor penting yang meningkatkan risiko penyebaran.
Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kewaspadaan karena kondisi iklim tropis dan kepadatan permukiman dapat mendukung berkembangnya populasi hewan pengerat di sejumlah wilayah.
Kasus Suspek di Indonesia Jadi Alarm Kewaspadaan
Sejak 2024, sejumlah laporan suspek Virus Hanta mulai muncul di Indonesia. Meski jumlahnya masih terbatas dan belum mengarah pada situasi wabah, kasus tersebut dinilai menjadi sinyal penting bagi sistem kesehatan nasional.
Dicky Budiman menilai keberadaan kasus suspek menunjukkan bahwa Indonesia tidak sepenuhnya bebas dari ancaman penyakit zoonosis global.
Menurutnya, tantangan utama saat ini adalah memastikan sistem surveilans kesehatan mampu mendeteksi kasus secara cepat dan akurat.
Ia juga menyoroti pentingnya kapasitas laboratorium dan pelaporan epidemiologi agar penanganan dapat dilakukan sebelum terjadi penyebaran yang lebih luas.
“Penyakit seperti Virus Hanta memang tidak menular secepat virus pernapasan antar manusia, tetapi tetap memiliki risiko serius jika deteksi dan mitigasinya lemah,” ujarnya dalam pembahasan tersebut.
Gejala Awal Sering Mirip Flu Biasa
Salah satu tantangan Virus Hanta adalah gejalanya pada tahap awal kerap menyerupai penyakit umum lainnya.
Penderita biasanya mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, kelelahan, hingga gangguan pernapasan ringan. Namun pada kondisi tertentu, penyakit dapat berkembang menjadi gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
Menurut Dicky Budiman, gejala yang tidak spesifik membuat masyarakat sering terlambat menyadari risiko infeksi.
Karena itu, ia menilai tenaga kesehatan perlu meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika menemukan pasien dengan riwayat paparan lingkungan yang berpotensi terkontaminasi tikus.
Ia juga mengingatkan bahwa kelompok dengan daya tahan tubuh lemah memiliki risiko komplikasi lebih besar.
Penyebaran Dipengaruhi Lingkungan dan Sanitasi
Virus Hanta termasuk penyakit zoonosis yang sangat dipengaruhi faktor lingkungan. Kondisi sanitasi yang buruk, penumpukan sampah, hingga keberadaan tikus di area permukiman menjadi faktor utama yang dapat meningkatkan risiko penularan.
Dicky Budiman menjelaskan bahwa pengendalian populasi tikus menjadi salah satu langkah penting dalam mitigasi penyakit ini.
Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Ia menilai edukasi publik mengenai bahaya paparan kotoran tikus dan cara membersihkan area terkontaminasi secara aman perlu terus diperkuat.
Mobilitas Global Tingkatkan Risiko Penyakit Zoonosis
Kasus yang dikaitkan dengan kapal pesiar internasional juga menunjukkan bagaimana mobilitas global dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit lintas negara.
Menurut Dicky Budiman, era globalisasi membuat penyakit zoonosis lebih mudah berpindah antarwilayah dalam waktu singkat.
Karena itu, pengawasan di pintu masuk negara seperti bandara dan pelabuhan dinilai tetap penting untuk mencegah potensi penyebaran penyakit menular.
Ia menilai Indonesia perlu memperkuat pendekatan global health security atau ketahanan kesehatan global agar mampu merespons ancaman penyakit baru maupun penyakit lama yang kembali muncul.
Mitigasi Dini Dinilai Jadi Kunci
Para ahli menilai mitigasi dini menjadi langkah paling penting dalam menghadapi potensi penyebaran Virus Hanta.
Langkah tersebut meliputi penguatan surveilans kesehatan, peningkatan kapasitas laboratorium, edukasi masyarakat, hingga pengendalian lingkungan yang berisiko menjadi habitat tikus.
Dicky Budiman menilai pemerintah perlu memastikan koordinasi lintas sektor berjalan baik, karena penanganan penyakit zoonosis tidak hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan semata.
Menurutnya, pendekatan berbasis lingkungan dan kesehatan masyarakat harus berjalan bersamaan agar risiko penyebaran dapat ditekan secara efektif.
Kewaspadaan Tanpa Kepanikan
Meski Virus Hanta perlu diwaspadai, para ahli mengingatkan masyarakat untuk tidak panik. Hingga saat ini, belum ada indikasi penyebaran luas di Indonesia.
Namun, meningkatnya mobilitas global dan munculnya kasus suspek menunjukkan pentingnya kewaspadaan sejak dini.
Seperti disampaikan Dicky Budiman, pandemi sebelumnya telah menjadi pelajaran bahwa kesiapan sistem kesehatan dan kesadaran masyarakat merupakan faktor penting dalam menghadapi ancaman penyakit menular.
Karena itu, mitigasi Virus Hanta dinilai perlu dilakukan secara serius agar potensi ancaman dapat dicegah sebelum berkembang menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar.