rupiah

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung. Fluktuasi nilai tukar tidak hanya berdampak pada sektor keuangan dan perdagangan internasional, tetapi juga berpotensi memengaruhi ketahanan pangan nasional.

Di tengah meningkatnya tantangan global, mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, hingga perlambatan ekonomi dunia, kemampuan Indonesia menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas pangan menjadi semakin penting.

Pertanyaannya, seberapa kuat ketahanan pangan Indonesia menghadapi tekanan ekonomi global ketika nilai tukar rupiah berada dalam tren pelemahan?

Ketahanan Pangan Tidak Hanya Soal Produksi

Ketahanan pangan seringkali dipahami sebatas kemampuan menghasilkan bahan pangan dalam jumlah cukup. Padahal, konsep ketahanan pangan jauh lebih luas.

Ketahanan pangan mencakup ketersediaan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, stabilitas pasokan, hingga kemampuan masyarakat membeli kebutuhan pangan dengan harga yang terjangkau.

Karena itu, gejolak ekonomi seperti pelemahan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi ketahanan pangan meskipun produksi pertanian dalam negeri masih berjalan dengan baik.

Ketika biaya produksi meningkat atau harga pangan naik akibat tekanan eksternal, masyarakat tetap dapat merasakan dampaknya secara langsung.

Nilai Tukar Berpengaruh terhadap Sistem Pangan

Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah komoditas impor, baik dalam bentuk pangan langsung maupun sarana produksi pertanian.

Beberapa kebutuhan seperti gandum, kedelai, bahan baku pakan ternak, pupuk tertentu, hingga komponen alat dan mesin pertanian masih dipengaruhi oleh kondisi pasar internasional.

Ketika nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya impor berbagai komoditas tersebut cenderung meningkat.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi biaya produksi pertanian, harga pangan, dan kemampuan pelaku usaha menjaga stabilitas pasokan.

Ketahanan Pangan Harus Dilihat Secara Menyeluruh

Peneliti Pusat Riset Koperasi, Korporasi, dan Ekonomi Kerakyatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erizal Jamal, menilai bahwa ketahanan pangan tidak boleh dipahami hanya dari sisi produksi semata.

Dalam pembahasan mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap ketahanan pangan, ia menjelaskan bahwa sistem pangan merupakan sebuah ekosistem yang melibatkan banyak faktor, mulai dari produksi, distribusi, perdagangan, hingga daya beli masyarakat.

Menurutnya, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi berbagai komponen dalam rantai pangan nasional.

“Ketahanan pangan harus dilihat secara komprehensif karena sangat terkait dengan kondisi ekonomi secara keseluruhan,” ujarnya.

Gejolak Global Memberikan Tekanan Berlapis

Menurut Prof. Erizal Jamal, tantangan yang dihadapi sektor pangan saat ini tidak hanya berasal dari pelemahan rupiah.

Ia menjelaskan bahwa dunia sedang menghadapi berbagai tekanan secara bersamaan, mulai dari konflik geopolitik, perubahan iklim, gangguan rantai pasok global, hingga ketidakpastian ekonomi internasional.

Kondisi tersebut menyebabkan harga berbagai komoditas dunia menjadi lebih mudah berfluktuasi.

Ketika gejolak global terjadi bersamaan dengan pelemahan nilai tukar, tekanan terhadap sistem pangan domestik dapat menjadi lebih besar.

“Karena itu, ketahanan pangan harus dibangun dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang berkembang di tingkat global,” katanya.

Produksi Dalam Negeri Menjadi Benteng Penting

Dalam pandangan Prof. Erizal Jamal, penguatan produksi pangan domestik menjadi salah satu strategi utama untuk mengurangi kerentanan terhadap gejolak nilai tukar.

Menurutnya, semakin besar kemampuan suatu negara memenuhi kebutuhan pangannya dari dalam negeri, semakin kecil pula dampak yang ditimbulkan oleh fluktuasi pasar internasional.

Ia menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian, perlindungan lahan pangan, serta penguatan teknologi pertanian perlu terus dilakukan agar kapasitas produksi nasional semakin kuat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memperkuat kemandirian pangan dalam jangka panjang.

Distribusi dan Logistik Tidak Boleh Diabaikan

Selain produksi, Prof. Erizal Jamal menyoroti pentingnya sistem distribusi dan logistik pangan.

Menurutnya, ketersediaan pangan yang cukup di tingkat nasional belum tentu menjamin stabilitas harga apabila distribusi tidak berjalan dengan baik.

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan tersendiri dalam memastikan pangan dapat menjangkau seluruh wilayah dengan biaya yang efisien.

Karena itu, penguatan infrastruktur logistik dan konektivitas menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan pangan.

Daya Beli Masyarakat Menentukan Akses Pangan

Dalam pembahasan tersebut, Prof. Erizal Jamal juga menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan pasokan, tetapi juga kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan.

Menurutnya, ketika harga pangan meningkat sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami kenaikan yang sebanding, maka akses terhadap pangan dapat terganggu.

Kelompok masyarakat berpenghasilan rendah biasanya menjadi pihak yang paling rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

Karena itu, menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi ketahanan pangan.

Diversifikasi Pangan Perlu Diperkuat

Prof. Erizal Jamal menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan pangan melalui diversifikasi konsumsi dan produksi pangan.

Menurutnya, ketergantungan yang terlalu besar terhadap beberapa komoditas tertentu dapat meningkatkan risiko ketika terjadi gangguan pasokan atau gejolak harga.

Indonesia memiliki beragam sumber pangan lokal yang dapat dikembangkan untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Selain mengurangi ketergantungan terhadap impor, diversifikasi juga dapat memperkuat ekonomi daerah dan meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketahanan Pangan Harus Menjadi Agenda Strategis

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan fluktuasi nilai tukar, ketahanan pangan semakin menjadi isu strategis yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebagaimana disampaikan Prof. Erizal Jamal, tantangan yang dihadapi sektor pangan saat ini bersifat multidimensi dan membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

Penguatan produksi dalam negeri, perbaikan distribusi, peningkatan daya beli masyarakat, pengembangan pangan lokal, serta pengurangan ketergantungan terhadap impor menjadi langkah penting untuk memperkuat ketahanan pangan nasional.

Pelemahan rupiah memang dapat memberikan tekanan terhadap sektor pangan. Namun dengan fondasi produksi yang kuat, sistem distribusi yang efisien, dan kebijakan yang tepat, Indonesia memiliki peluang untuk menjaga ketahanan pangannya di tengah berbagai gejolak ekonomi global yang terus berkembang.