MQFMNETWORK.COM | Bandung – Pelemahan nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Bagi sebagian masyarakat, perubahan kurs mungkin terasa sebagai isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Namun bagi sektor pangan, pergerakan nilai tukar memiliki dampak yang sangat nyata, mulai dari biaya produksi pertanian hingga harga kebutuhan pokok di pasar.
Kondisi ini memunculkan kekhawatiran baru. Jika rupiah terus mengalami tekanan, apakah harga bahan pangan akan semakin membebani masyarakat, terutama kelompok berpendapatan rendah yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari?
Nilai Tukar dan Harga Pangan Memiliki Keterkaitan
Secara umum, pelemahan nilai tukar rupiah dapat meningkatkan biaya impor berbagai barang dan komoditas yang dibutuhkan dalam sistem pangan nasional.
Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas pangan maupun bahan baku pendukung produksi pertanian. Gandum, kedelai, bahan baku pakan ternak, hingga beberapa jenis pupuk masih memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.
Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya pembelian komoditas tersebut menjadi lebih mahal. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi harga produk pangan yang dikonsumsi masyarakat.
Meski dampaknya tidak selalu terjadi secara langsung, tekanan biaya yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen.
Harga Pangan Menjadi Faktor Sensitif
Berbeda dengan komoditas lain, pangan merupakan kebutuhan dasar yang dikonsumsi setiap hari oleh seluruh lapisan masyarakat.
Karena itu, kenaikan harga pangan sering kali memiliki dampak sosial dan ekonomi yang lebih besar dibanding kenaikan harga barang lainnya.
Bagi rumah tangga berpenghasilan rendah, pengeluaran untuk pangan umumnya mengambil porsi terbesar dalam struktur konsumsi mereka. Ketika harga kebutuhan pokok meningkat, kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lainnya ikut tertekan.
Kondisi inilah yang membuat stabilitas harga pangan menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kesejahteraan masyarakat.
Pelemahan Rupiah Tidak Bisa Diabaikan
Peneliti Pusat Riset Koperasi, Korporasi dan Ekonomi Kerakyatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erizal Jamal, menilai bahwa pelemahan nilai tukar memang perlu dicermati karena memiliki keterkaitan dengan sistem pangan nasional.
Dalam pembahasan mengenai dampak pelemahan rupiah terhadap ketahanan pangan, ia menjelaskan bahwa sektor pangan tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan berbagai aktivitas ekonomi yang dipengaruhi oleh kondisi global.
Menurutnya, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi biaya produksi, distribusi, hingga harga yang harus dibayar konsumen.
“Ketika terjadi tekanan pada nilai tukar, berbagai komponen dalam sistem pangan juga berpotensi mengalami tekanan biaya,” ujarnya.
Kenaikan Biaya Produksi Bisa Merambat ke Harga Pangan
Prof. Erizal Jamal menjelaskan bahwa salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah meningkatnya biaya produksi di sektor pertanian dan peternakan.
Banyak kebutuhan produksi yang masih memiliki komponen impor atau bergantung pada harga internasional. Ketika biaya tersebut meningkat, pelaku usaha dan petani akan menghadapi beban produksi yang lebih besar.
Dalam jangka panjang, kenaikan biaya tersebut dapat memengaruhi harga jual produk pangan di pasar.
Meski tidak semua komoditas mengalami dampak yang sama, tekanan biaya yang terjadi secara luas berpotensi meningkatkan inflasi pangan.
Inflasi Pangan Menjadi Ancaman bagi Daya Beli
Menurut Prof. Erizal Jamal, persoalan utama bukan hanya soal kenaikan harga, tetapi bagaimana kenaikan tersebut memengaruhi daya beli masyarakat.
Ia menjelaskan bahwa ketika harga pangan naik sementara pendapatan masyarakat tidak mengalami peningkatan yang sepadan, maka kemampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan akan menurun.
Kelompok masyarakat berpendapatan rendah menjadi pihak yang paling rentan karena sebagian besar pendapatannya digunakan untuk kebutuhan konsumsi dasar.
“Ketahanan pangan tidak hanya soal tersedia atau tidaknya pangan, tetapi juga apakah masyarakat mampu membelinya,” katanya.
Gejolak Global Memperbesar Risiko
Dalam beberapa tahun terakhir, pasar pangan dunia menghadapi berbagai tekanan mulai dari konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan iklim, hingga ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Prof. Erizal Jamal, kondisi tersebut membuat harga berbagai komoditas internasional menjadi lebih mudah berfluktuasi.
Ketika tekanan global terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah, dampaknya terhadap harga pangan domestik bisa menjadi lebih besar.
Karena itu, penguatan ketahanan pangan nasional menjadi semakin penting untuk mengurangi kerentanan terhadap faktor-faktor eksternal.
Produksi Domestik Menjadi Kunci Stabilitas
Salah satu cara mengurangi dampak pelemahan rupiah terhadap harga pangan adalah memperkuat produksi dalam negeri.
Prof. Erizal Jamal menilai bahwa semakin besar kemampuan Indonesia memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, semakin kecil pula risiko yang muncul akibat gejolak pasar internasional.
Menurutnya, peningkatan produktivitas pertanian, perlindungan lahan pangan, penguatan riset pertanian, serta pemanfaatan teknologi perlu terus didorong.
Langkah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas pasokan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor.
Perlu Strategi Menjaga Keterjangkauan Harga
Selain memperkuat produksi, pemerintah juga perlu memastikan bahwa harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat.
Menurut Prof. Erizal Jamal, pengelolaan cadangan pangan, penguatan distribusi, pengawasan pasokan, serta berbagai program stabilisasi harga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan pasar.
Kebijakan tersebut diperlukan agar gejolak yang terjadi di tingkat global tidak langsung membebani masyarakat secara berlebihan.
Ia menilai perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan nasional.
Menjaga Harga Pangan Berarti Menjaga Kesejahteraan Masyarakat
Pelemahan nilai tukar rupiah memang tidak serta-merta menyebabkan lonjakan harga seluruh bahan pangan. Namun sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Erizal Jamal, tekanan terhadap nilai tukar dapat memengaruhi berbagai aspek dalam sistem pangan, mulai dari biaya produksi hingga harga yang dibayar konsumen.
Karena itu, stabilitas harga pangan tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi yang lebih luas.
Di tengah ketidakpastian global, penguatan produksi domestik, perbaikan distribusi, pengendalian inflasi pangan, dan perlindungan daya beli masyarakat menjadi langkah penting untuk memastikan kebutuhan pangan tetap dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.
Sebab pada akhirnya, menjaga keterjangkauan harga pangan bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga tentang menjaga kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.