pasar

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Pelemahan nilai tukar rupiah tidak hanya menjadi perhatian pelaku pasar keuangan atau eksportir dan importir. Di sektor pertanian, fluktuasi kurs juga dapat memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap biaya produksi yang harus ditanggung petani.

Di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan pangan nasional, kenaikan harga pupuk, benih, pestisida, hingga alat dan mesin pertanian akibat tekanan nilai tukar berpotensi menjadi tantangan baru. Jika biaya produksi terus meningkat sementara harga jual hasil panen tidak mengalami kenaikan yang seimbang, maka petani menjadi pihak yang paling rentan menanggung dampaknya.

Lalu, seberapa besar ancaman pelemahan rupiah terhadap keberlanjutan usaha pertanian di Indonesia?

Pertanian Masih Bergantung pada Komponen Impor

Meski Indonesia merupakan negara agraris, sektor pertanian nasional masih memiliki keterkaitan yang cukup kuat dengan pasar global.

Berbagai sarana produksi pertanian seperti pupuk tertentu, bahan baku pupuk, pestisida, benih unggul, hingga komponen alat dan mesin pertanian masih dipengaruhi oleh harga internasional dan nilai tukar.

Ketika rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat, biaya pengadaan berbagai kebutuhan tersebut cenderung meningkat.

Kondisi ini menyebabkan biaya produksi yang harus dikeluarkan petani menjadi lebih besar dibanding sebelumnya.

Kenaikan Biaya Produksi Menjadi Tantangan Nyata

Dalam praktiknya, petani tidak hanya menghadapi risiko cuaca, serangan hama, dan fluktuasi harga hasil panen. Mereka juga harus berhadapan dengan kenaikan biaya produksi yang terus berubah mengikuti kondisi pasar.

Ketika harga pupuk, benih, atau sarana produksi lainnya meningkat, margin keuntungan petani dapat menyusut apabila harga jual hasil pertanian tidak ikut naik secara proporsional.

Situasi ini menjadi semakin berat bagi petani kecil yang memiliki keterbatasan modal dan akses pembiayaan.

Dampak Pelemahan Rupiah Tidak Selalu Langsung

Peneliti Pusat Riset Koperasi, Korporasi dan Ekonomi Kerakyatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erizal Jamal, menjelaskan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap sektor pertanian perlu dilihat secara menyeluruh.

Dalam pembahasan mengenai hubungan nilai tukar dan ketahanan pangan, ia menilai bahwa pelemahan rupiah memang berpotensi meningkatkan biaya produksi pertanian, terutama pada komponen yang masih memiliki ketergantungan terhadap pasar internasional.

Namun menurutnya, dampak tersebut dapat berbeda pada setiap komoditas dan wilayah tergantung struktur biaya produksi yang digunakan.

“Yang perlu dicermati adalah bagaimana perubahan nilai tukar memengaruhi biaya input pertanian dan kemampuan petani untuk mempertahankan produktivitasnya,” ujarnya.

Harga Pupuk Menjadi Sorotan

Salah satu komponen yang paling sering menjadi perhatian dalam pembahasan biaya produksi adalah pupuk.

Menurut Prof. Erizal Jamal, pupuk memiliki kontribusi besar terhadap produktivitas pertanian sehingga perubahan harga pupuk dapat memengaruhi biaya usaha tani secara keseluruhan.

Ia menjelaskan bahwa ketika biaya pupuk meningkat, petani sering kali dihadapkan pada pilihan sulit antara menambah modal produksi atau mengurangi penggunaan pupuk.

Padahal pengurangan penggunaan pupuk dapat berdampak terhadap produktivitas dan hasil panen.

Karena itu, stabilitas pasokan dan keterjangkauan harga pupuk menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Benih dan Teknologi Pertanian Ikut Terpengaruh

Selain pupuk, biaya benih dan teknologi pertanian juga berpotensi mengalami tekanan ketika nilai tukar melemah.

Banyak inovasi pertanian modern masih menggunakan teknologi, komponen, atau bahan yang memiliki keterkaitan dengan pasar internasional.

Menurut Prof. Erizal Jamal, peningkatan biaya tersebut dapat memengaruhi kemampuan petani untuk mengadopsi teknologi yang sebenarnya dibutuhkan guna meningkatkan produktivitas.

Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, proses modernisasi sektor pertanian dapat berjalan lebih lambat.

Petani Kecil Menjadi Kelompok Paling Rentan

Dalam pembahasan tersebut, Prof. Erizal Jamal menyoroti bahwa petani kecil merupakan kelompok yang paling rentan menghadapi kenaikan biaya produksi.

Berbeda dengan perusahaan pertanian berskala besar yang memiliki akses modal dan cadangan keuangan lebih kuat, petani kecil sering kali memiliki ruang yang terbatas untuk menyerap kenaikan biaya.

Akibatnya, mereka lebih mudah terdampak ketika terjadi gejolak harga sarana produksi.

“Petani kecil memerlukan dukungan yang memadai agar tidak menjadi pihak yang paling dirugikan ketika terjadi tekanan ekonomi,” katanya.

Produktivitas Menjadi Kunci Ketahanan Pangan

Menurut Prof. Erizal Jamal, tantangan biaya produksi harus dijawab dengan upaya meningkatkan produktivitas pertanian.

Ia menilai bahwa peningkatan hasil panen per hektare dapat membantu petani menjaga pendapatan meskipun biaya produksi mengalami kenaikan.

Karena itu, penguatan riset pertanian, penggunaan teknologi tepat guna, pengembangan benih unggul, serta pendampingan kepada petani perlu terus diperkuat.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menjaga daya saing sektor pertanian di tengah berbagai tekanan ekonomi.

Kemandirian Sarana Produksi Perlu Dipercepat

Salah satu pelajaran yang dapat diambil dari gejolak nilai tukar adalah pentingnya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

Prof. Erizal Jamal menilai Indonesia perlu terus memperkuat kemampuan memproduksi sarana produksi pertanian di dalam negeri.

Menurutnya, pengembangan industri pupuk, benih, dan alat pertanian nasional dapat membantu mengurangi kerentanan terhadap fluktuasi kurs dan gejolak pasar internasional.

Selain meningkatkan ketahanan sektor pertanian, langkah tersebut juga dapat menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Menjaga Petani Berarti Menjaga Ketahanan Pangan

Pelemahan rupiah memang bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi sektor pertanian. Namun sebagaimana disampaikan Prof. Dr. Erizal Jamal, tekanan nilai tukar dapat memengaruhi biaya produksi dan pada akhirnya berdampak terhadap kemampuan petani menjaga produktivitas.

Karena itu, perhatian terhadap kesejahteraan petani tidak boleh hanya difokuskan pada harga hasil panen, tetapi juga pada biaya yang harus mereka keluarkan untuk berproduksi.

Penguatan produksi sarana pertanian dalam negeri, peningkatan produktivitas, dukungan teknologi, serta kebijakan yang melindungi petani dari gejolak ekonomi menjadi langkah penting untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian.

Sebab pada akhirnya, ketahanan pangan nasional sangat bergantung pada kemampuan petani untuk terus berproduksi secara optimal di tengah berbagai tantangan ekonomi yang terus berkembang.