pendidikan

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 pada jenjang SD dan SMP kembali memantik diskusi mengenai kualitas pendidikan nasional. Rendahnya capaian siswa, terutama pada aspek literasi dan numerasi, tidak hanya memunculkan pertanyaan tentang efektivitas kurikulum atau kebijakan pendidikan, tetapi juga tentang peran para pihak yang selama ini menjadi aktor utama dalam proses pendidikan: guru, sekolah, dan keluarga.

Pendidikan pada dasarnya merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah menjadi tempat berlangsungnya proses pembelajaran formal, guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping belajar, sementara keluarga menjadi lingkungan pertama yang membentuk karakter dan kebiasaan anak.

Karena itu, ketika hasil TKA menunjukkan capaian yang belum optimal, muncul pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur, seberapa besar kontribusi masing-masing pihak dalam membentuk hasil belajar siswa, dan apa yang perlu diperbaiki ke depan?

Hasil TKA Tidak Bisa Dilihat Secara Parsial

Bagi banyak pemerhati pendidikan, hasil TKA tidak boleh dipahami semata-mata sebagai ukuran kemampuan akademik peserta didik.

Di balik angka-angka yang muncul, terdapat berbagai faktor yang memengaruhi proses belajar seorang anak, mulai dari kualitas pengajaran di kelas, lingkungan sekolah, kondisi keluarga, hingga budaya belajar yang berkembang di masyarakat.

Karena itu, rendahnya hasil TKA tidak bisa dibebankan kepada siswa semata.

Evaluasi perlu dilakukan terhadap seluruh ekosistem pendidikan yang membentuk pengalaman belajar mereka.

Guru Tetap Menjadi Faktor Paling Berpengaruh

Aktivis Pendidikan sekaligus Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, menilai bahwa guru masih menjadi faktor paling penting dalam menentukan kualitas pembelajaran.

Dalam pembahasan mengenai hasil TKA 2026, ia menjelaskan bahwa secanggih apapun kurikulum yang disusun, keberhasilannya sangat bergantung pada kemampuan guru menerjemahkan kurikulum tersebut ke dalam proses belajar yang efektif.

Menurutnya, guru bukan hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga membangun motivasi belajar, membimbing siswa memahami konsep, serta membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

“Pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada kualitas interaksi antara guru dan murid,” ujarnya.

Beban Administrasi Mengurangi Fokus Pembelajaran

Meski memiliki peran yang sangat strategis, guru saat ini masih menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan tugasnya.

Salah satu persoalan yang disoroti Indra Charismiadji adalah besarnya beban administrasi yang harus dikerjakan oleh guru.

Menurutnya, banyak guru menghabiskan waktu untuk menyelesaikan berbagai laporan dan dokumen administratif yang sebenarnya tidak berhubungan langsung dengan proses belajar siswa.

Akibatnya, waktu untuk mempersiapkan pembelajaran yang kreatif dan melakukan pendampingan terhadap peserta didik menjadi berkurang.

Ia menilai bahwa perbaikan kualitas pendidikan harus dimulai dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi guru untuk fokus pada pembelajaran.

Sekolah Harus Menjadi Ekosistem Belajar

Selain guru, sekolah juga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kualitas pendidikan.

Sekolah bukan sekadar tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar, tetapi juga ekosistem yang memengaruhi perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik.

Menurut Indra Charismiadji, sekolah perlu menciptakan lingkungan yang mendorong rasa ingin tahu, kreativitas, keberanian bertanya, dan kemampuan berpikir kritis.

Namun dalam praktiknya, masih banyak sekolah yang terlalu berorientasi pada pencapaian nilai dan penyelesaian materi pelajaran.

Padahal pendidikan yang berkualitas membutuhkan ruang yang lebih luas bagi siswa untuk mengeksplorasi pengetahuan dan mengembangkan potensinya.

Keluarga Menjadi Sekolah Pertama Anak

Dalam pandangan Indra Charismiadji, keluarga memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap keberhasilan pendidikan anak.

Ia menegaskan bahwa pendidikan tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, melainkan sejak mereka berada di lingkungan keluarga.

Kebiasaan membaca, berdiskusi, bertanya, serta sikap terhadap proses belajar banyak dibentuk oleh lingkungan rumah.

Menurutnya, salah satu tantangan yang dihadapi saat ini adalah masih adanya anggapan bahwa pendidikan sepenuhnya menjadi tanggung jawab sekolah.

Padahal keberhasilan belajar anak sangat dipengaruhi oleh keterlibatan orang tua dalam mendampingi dan mendukung proses pendidikan mereka.

“Sekolah tidak mungkin bekerja sendiri tanpa dukungan keluarga,” katanya.

Budaya Belajar Perlu Dibangun Bersama

Rendahnya hasil literasi dan numerasi tidak hanya berkaitan dengan metode pembelajaran di sekolah, tetapi juga dengan budaya belajar yang berkembang di lingkungan anak.

Menurut Indra Charismiadji, budaya belajar yang kuat tidak dapat dibangun hanya melalui tugas sekolah atau persiapan menghadapi ujian.

Anak-anak perlu dibiasakan untuk membaca, berdiskusi, mencari informasi, dan berpikir kritis dalam kehidupan sehari-hari.

Proses tersebut membutuhkan keterlibatan aktif dari sekolah maupun keluarga secara bersamaan.

Ketika lingkungan belajar terbentuk secara positif, kemampuan akademik siswa cenderung berkembang lebih baik.

Kolaborasi Menjadi Kunci Perbaikan

Indra Charismiadji menilai bahwa salah satu kelemahan yang masih sering ditemukan dalam sistem pendidikan adalah kurangnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga.

Komunikasi antara guru dan orang tua sering kali hanya terjadi ketika muncul masalah atau menjelang pembagian rapor.

Padahal kolaborasi yang berkelanjutan dapat membantu memantau perkembangan siswa dan memberikan dukungan yang lebih tepat sesuai kebutuhan mereka.

Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan hubungan yang lebih erat antara sekolah, guru, dan orang tua.

Tantangan Pendidikan Semakin Kompleks

Di era digital saat ini, tantangan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pelajaran.

Anak-anak juga harus dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, kreativitas, komunikasi, dan kemampuan memecahkan masalah.

Menurut Indra Charismiadji, kemampuan-kemampuan tersebut tidak dapat dibangun melalui pembelajaran satu arah.

Diperlukan pendekatan yang lebih partisipatif dan kolaboratif agar siswa mampu berkembang sesuai kebutuhan zaman.

Karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam pendidikan perlu terus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi.

Hasil TKA Harus Menjadi Momentum Evaluasi Bersama

Rendahnya hasil TKA 2026 seharusnya tidak menjadi alasan untuk saling menyalahkan antara sekolah, guru, orang tua, atau peserta didik.

Sebaliknya, hasil tersebut perlu dijadikan momentum untuk melakukan evaluasi bersama terhadap sistem pendidikan yang ada.

Sebagaimana disampaikan Indra Charismiadji, kualitas pendidikan merupakan hasil dari kerja kolektif seluruh elemen yang terlibat dalam proses belajar anak.

Jika salah satu unsur tidak berjalan optimal, maka hasil pendidikan secara keseluruhan juga akan terpengaruh.

Pendidikan Berkualitas Dibangun Melalui Kemitraan

Hasil TKA yang belum memuaskan menjadi pengingat bahwa peningkatan kualitas pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada satu pihak.

Guru membutuhkan dukungan yang memadai untuk mengajar secara optimal. Sekolah perlu menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan inspiratif. Sementara keluarga harus hadir sebagai mitra aktif dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Menurut Indra Charismiadji, keberhasilan pendidikan akan lebih mudah dicapai ketika guru, sekolah, dan keluarga bekerja dalam satu visi yang sama, yaitu membantu anak berkembang sesuai potensi terbaiknya.

Dengan memperkuat kolaborasi ketiga unsur tersebut, hasil asesmen seperti TKA tidak hanya dapat meningkat, tetapi yang lebih penting adalah lahirnya generasi muda yang memiliki kemampuan belajar, berpikir, dan beradaptasi untuk menghadapi tantangan masa depan.