MQFMNETWORK.COM | BANDUNG — Modus penipuan digital di Indonesia terus berkembang dengan pola yang semakin kompleks dan sulit dikenali. Jika dulu penipuan identik dengan pesan undian palsu, kini pelaku memanfaatkan data pribadi, manipulasi psikologis, hingga teknologi canggih untuk menjerat korban.

Laporan Global Fraud Index 2025 yang menempatkan Indonesia sebagai negara paling rentan kedua terhadap penipuan digital memperlihatkan bahwa persoalan ini bukan lagi kasus sporadis, melainkan ancaman sistemik.

Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community IDIEC M. Tesar Sandikapura, S.T., M.T menilai bahwa pola penipuan saat ini didominasi teknik social engineering.

“Lebih dari sekadar meretas sistem, pelaku sekarang meretas psikologi manusia. Mereka membangun skenario yang sangat meyakinkan, seolah benar benar dari lembaga resmi,” ujar Tesar dalam keterangannya.

Social Engineering Jadi Senjata Utama

Menurut Tesar, sebagian besar kasus penipuan terjadi bukan karena sistem teknologi sepenuhnya gagal, melainkan karena korban berhasil dimanipulasi secara emosional.

Modus yang sering muncul antara lain chat mengaku dari bank dan meminta kode OTP, tautan phishing mengatasnamakan ekspedisi atau marketplace, hingga panggilan telepon yang mengaku aparat atau instansi resmi.

“Mereka memanfaatkan rasa panik, rasa takut, dan rasa ingin cepat menyelesaikan masalah. Begitu korban panik, proses verifikasi diabaikan,” jelasnya.

Tak hanya itu, akun media sosial dan marketplace yang diretas juga sering digunakan untuk menipu lingkar pertemanan korban karena dianggap lebih terpercaya.

Teknologi Canggih Dimanfaatkan Pelaku

Tesar mengingatkan bahwa perkembangan artificial intelligence turut dimanfaatkan dalam praktik penipuan.

Email palsu kini tampak lebih rapi dan profesional. Tautan tiruan dibuat menyerupai situs resmi. Bahkan skrip percakapan bisa disesuaikan dengan profil korban.

“Dengan AI, pelaku bisa menyusun pesan yang sangat personal. Ini membuat masyarakat semakin sulit membedakan mana yang asli dan mana yang palsu,” ungkapnya.

Kondisi ini menuntut masyarakat untuk tidak hanya waspada secara umum, tetapi juga lebih kritis terhadap setiap permintaan data pribadi atau transaksi mendadak.

Waspada Tanpa Panik

Di tengah keragaman modus yang semakin canggih, Tesar menekankan pentingnya membangun kebiasaan verifikasi.

Ia menyarankan masyarakat untuk tidak pernah membagikan kode OTP, tidak mengklik tautan yang tidak jelas asal usulnya, serta selalu menghubungi kanal resmi jika menerima pesan mencurigakan.

“Prinsipnya sederhana. Jangan pernah mengambil keputusan dalam keadaan panik. Berhenti sejenak, cek ulang, dan pastikan lewat jalur resmi,” tegasnya.

Sudut Pandang MQFM mengajak Sahabat MQ untuk memahami bahwa penipuan digital kini bergerak sangat cepat dan adaptif. Kecanggihan teknologi harus diimbangi dengan kecermatan pengguna.

Karena di era digital, keamanan bukan hanya soal sistem yang kuat, tetapi juga soal kewaspadaan dan literasi masyarakat dalam menghadapi modus yang terus berubah.