ihsg

MQFMNETWORK.COM | Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap dipandang sebagai barometer utama kondisi ekonomi nasional. Ketika indeks mengalami tekanan signifikan, hal tersebut sering diartikan sebagai sinyal melemahnya kepercayaan pelaku pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Gejolak IHSG pada periode tertentu tidak hanya dipengaruhi faktor domestik, tetapi juga dinamika global, seperti kebijakan suku bunga negara maju, konflik geopolitik, hingga perlambatan ekonomi dunia. Tekanan eksternal ini kemudian berimbas pada arus modal, nilai tukar, serta stabilitas sektor keuangan nasional.

Ekonom Universitas Gadjah Mada, Dr. Tony Prasetiantono, menilai bahwa fluktuasi IHSG mencerminkan interaksi kompleks antara kondisi global dan fundamental ekonomi domestik. Menurutnya, ketahanan ekonomi tidak dapat diukur hanya dari stabilitas indeks, tetapi juga dari kemampuan negara menjaga daya beli dan produktivitas.

Fundamental Ekonomi dan Daya Tahan Nasional

Di balik gejolak pasar saham, fundamental ekonomi menjadi faktor penentu utama ketahanan nasional. Pertumbuhan ekonomi, inflasi yang terkendali, stabilitas fiskal, serta kesehatan perbankan merupakan indikator penting dalam menilai daya tahan Indonesia menghadapi tekanan eksternal.

Pemerintah dalam beberapa tahun terakhir berupaya menjaga defisit anggaran, memperkuat cadangan devisa, serta meningkatkan investasi sektor riil. Langkah-langkah ini menjadi penyangga ketika pasar keuangan mengalami volatilitas tinggi.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia, Dr. Faisal Basri, menyampaikan bahwa fondasi ekonomi yang kuat akan meredam dampak gejolak pasar. Menurutnya, selama sektor produksi dan konsumsi domestik tetap tumbuh, tekanan di pasar saham tidak serta-merta mengganggu stabilitas nasional.

Peran Kebijakan Fiskal dan Moneter

Ketahanan ekonomi nasional tidak terlepas dari sinergi kebijakan fiskal dan moneter. Pemerintah melalui kebijakan anggaran berperan menjaga daya beli masyarakat, sementara Bank Indonesia mengatur stabilitas nilai tukar dan inflasi melalui instrumen moneter.

Dalam situasi pasar saham yang bergejolak, koordinasi antarlembaga menjadi krusial. Stimulus fiskal, penyesuaian suku bunga, serta intervensi pasar valas dapat menjadi instrumen penyangga untuk menjaga kepercayaan investor.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai bahwa respons kebijakan yang cepat dan terukur sangat menentukan. Menurutnya, keterlambatan dalam merespons tekanan pasar berpotensi memperbesar dampak terhadap sektor riil.

Dampak Gejolak Pasar terhadap Sektor Riil

Fluktuasi IHSG tidak hanya berdampak pada investor, tetapi juga berpengaruh terhadap dunia usaha dan sektor riil. Penurunan indeks yang berkepanjangan dapat menekan ekspansi perusahaan, menghambat investasi, serta memengaruhi penciptaan lapangan kerja.

Ketika nilai saham melemah, perusahaan cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan pendanaan melalui pasar modal. Kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan sektor-sektor strategis, terutama yang bergantung pada pembiayaan jangka panjang.

Ekonom INDEF, Dr. Abra Talattov, menyebut bahwa hubungan antara pasar saham dan sektor riil bersifat timbal balik. Menurutnya, pelemahan pasar yang tidak diimbangi pemulihan sektor produksi berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh.

Membangun Ketahanan Jangka Panjang Ekonomi Indonesia

Menghadapi dinamika pasar global yang semakin tidak pasti, penguatan ketahanan ekonomi jangka panjang menjadi agenda utama. Diversifikasi ekonomi, penguatan industri dalam negeri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi fondasi penting dalam menghadapi tekanan eksternal.

Transformasi digital, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM juga dipandang sebagai strategi untuk memperluas basis ekonomi nasional. Dengan struktur ekonomi yang lebih seimbang, ketergantungan terhadap arus modal asing dapat dikurangi.

Pengamat kebijakan publik dari Universitas Padjadjaran, Dr. Yanuar Nugroho, menegaskan bahwa ketahanan ekonomi tidak hanya soal angka pertumbuhan, tetapi juga soal inklusivitas dan keberlanjutan. Menurutnya, ekonomi yang kuat adalah ekonomi yang mampu melindungi kelompok rentan di tengah gejolak global.