MQFMNETWORK.COM | Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bandung mendorong Pemerintah Kota Bandung untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem lampu lalu lintas yang dinilai menjadi salah satu sumber utama kemacetan di sejumlah titik strategis. Selama ini, sinyal lampu merah masih diatur dengan durasi konstan tanpa mempertimbangkan kondisi lalu lintas secara nyata di lapangan. Kebijakan tersebut justru memicu antrean panjang dan memperburuk kemacetan, khususnya di ruas jalan dengan volume kendaraan tinggi.
Menurut dinas terkait, alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) atau lampu merah memiliki fungsi vital untuk mengatur arus lalu lintas dan mencegah terjadinya kecelakaan. Namun, efektivitasnya dalam menjaga kelancaran kendaraan kerap dipertanyakan masyarakat. Salah satu kritik yang mencuat adalah penggunaan durasi lampu yang sama pada semua arah, sehingga menimbulkan ketidakseimbangan arus kendaraan dan mengacaukan lalu lintas di simpang perempatan maupun pertigaan.
Salah satu titik yang mendapat perhatian adalah perempatan Jalan Soekarno Hatta, yang menjadi jalur utama keluar dan masuk Kota Bandung. Siklus pergantian lampu di lokasi ini memiliki durasi relatif lama karena perannya yang krusial. Akibatnya, kepadatan kendaraan sering kali tidak terhindarkan.
Sejumlah peneliti transportasi dan pakar sistem pengendalian lalu lintas atau Intelligent Transportation System (ITS) menilai bahwa persoalan ini dapat diatasi dengan mengubah sistem pewaktuan statis menjadi sistem lampu lalu lintas adaptif. Sistem adaptif mampu menyesuaikan durasi lampu hijau dan merah secara dinamis berdasarkan data waktu nyata (real-time). Mekanisme ini memproses input seperti panjang antrean kendaraan dan tingkat kepadatan pada tiap jalur, sehingga lampu lalu lintas dapat berubah sesuai kebutuhan aktual di lapangan.
Penelitian yang dimuat dalam Jurnal Universitas Indonesia menunjukkan bahwa sistem adaptif, yang diuji menggunakan SUMO Simulator dan perangkat Arduino, mampu mengurangi panjang antrean kendaraan hingga 86% dibandingkan sistem konvensional. Penerapan algoritma machine learning atau deep reinforcement learning pada sistem Adaptive Traffic Signal Control bahkan terbukti dapat mengurangi waktu tunda kendaraan hingga 47%–86%, terutama pada kondisi lalu lintas padat. Dengan teknologi ini, lampu lalu lintas dapat lebih cepat memberi giliran kendaraan dari arah yang lebih padat, sekaligus mempersingkat waktu tunggu di arah yang lebih sepi.
Selain itu, inovasi digital twin technology menawarkan solusi yang lebih canggih. Teknologi ini dapat memodelkan dan memprediksi perilaku arus lalu lintas di setiap persimpangan secara real-time, sehingga keputusan pengaturan lampu lalu lintas dapat dilakukan dengan akurasi tinggi. Para pengamat menilai, penerapan teknologi adaptif berbasis kecerdasan buatan perlu didukung oleh kebijakan yang progresif agar implementasinya dapat berjalan efektif.
Dengan evaluasi menyeluruh dan pemanfaatan teknologi terkini, diharapkan kemacetan di Kota Bandung dapat berkurang signifikan. Langkah ini bukan hanya akan memperlancar arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan keselamatan pengguna jalan dan efisiensi waktu masyarakat.
Program: Sudut Pandang – Inspirasi Pagi
Narasumber: Ir. M. Isnaeni, MT