Ternyata Ini Waktu Terbaik untuk Ngaji Bareng Keluarga Menurut Ahli Qur’an!
Ketika Kesibukan ‘Mencuri’ Waktu Spiritual Keluarga
Di banyak rumah hari ini, waktu seperti berlari. Pagi terburu-buru, siang tenggelam dalam pekerjaan, malam dihabiskan dengan tugas sekolah atau rebahan untuk menghapus lelah. Tanpa sadar, hari-hari berganti tanpa ada ruang untuk sekadar duduk sejenak membaca Al-Qur’an bersama keluarga.
Namun seorang ahli qiraah bersanad internasional menyampaikan sebuah nasihat yang membuka mata yaitu ngaji bareng keluarga itu tidak memerlukan waktu panjang yang dibutuhkan hanyalah momen yang tepat dan hati yang siap menerima cahaya Al-Qur’an.
Rutinitas Modern Mengikis Kedekatan dengan Al-Qur’an
Keluarga modern menghadapi masalah baru yaitu kekurangan waktu spiritual.
Gadget menguasai ruang keluarga. Televisi menyala tanpa arah. Percakapan berganti menjadi scroll timeline. Anak-anak lebih hafal nama karakter animasi dibanding nama surah dalam Al-Qur’an. Padahal, Allah telah mengingatkan:
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit.”
(QS. Thaha: 124)
Kehidupan yang sempit bukan hanya tentang ekonomi, tetapi sempitnya hati gelisah, mudah marah, mudah tersinggung, dan kehilangan ketenangan.
Karena itu, KH. Haris Safarjan Mursi, seorang guru sanad Al-Qur’an, kembali mengingatkan bahwa keluarga tidak akan pernah meraih sakinah tanpa menghadirkan Al-Qur’an dalam rutinitasnya.
Apa Sebenarnya yang Dimaksud “Ngaji Bareng”?
Dalam penjelasan KH. Haris, yang dimaksud dengan ngaji bareng bukanlah pengajian panjang atau halaqah resmi yang formal. Melainkan:
- Aktivitas membaca Al-Qur’an bersama
- Bisa hanya beberapa ayat
- Bisa dilakukan sebelum atau sesudah salat
- Tidak perlu suasana tegang
- Tidak harus membaca keras-keras
- Cukup duduk bersama dan menghadirkan Al-Qur’an dalam satu momen keluarga
Tujuan utamanya bukan menyelesaikan target bacaan, melainkan mengikat hati antar anggota keluarga dengan tali yang sama dengan ayat Allah.
Dalam siaran Inspirasi Qur’an MQFM Bandung, KH. Haris menyampaikan bahwa keluarga tidak perlu memikirkan “berapa lama” durasi ngaji. Justru yang harus dipikirkan adalah:
- kapan waktu paling mudah berkumpul,
- kapan hati sedang lembut, dan
- kapan pikiran belum terbebani aktivitas dunia.
Beliau menyebut dua waktu sebagai “jam emas” keluarga untuk ngaji:
- Setelah Subuh: Momen Hati Paling Bersih
Waktu Subuh adalah waktu yang diberkahi. Saat itu:
- udara masih sejuk,
- pikiran jernih,
- hati lembut,
- dan aktivitas belum berjalan.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya salat Subuh disaksikan oleh para malaikat.”
(QS. Al-Isra: 78)
Jika salat Subuh saja menjadi momen saksi para malaikat, maka memperpanjang ibadah dengan membaca Qur’an setelahnya menjadi waktu yang sangat kuat untuk menanamkan ketenangan.
Ngaji 10 menit selepas Subuh mampu memberi efek luar biasa:
- membuat hari terasa lebih ringan,
- membuka pintu rezeki,
- mengharmonikan suasana pagi,
- menjadikan ayah dan ibu lebih sabar dalam mendidik anak,
- serta menanamkan kebiasaan spiritual yang tidak mudah hilang.
Bahkan psikolog menyatakan bahwa “ritual pagi bersama” memperkuat bonding keluarga lebih dalam dibanding percakapan malam.
- Setelah Magrib: Waktu Bersama di Tengah Keheningan
Saat Magrib tiba, keluarga biasanya sudah kembali ke rumah. Setelah salat Magrib, suasana rumah menjadi lebih tenang. Waktu ini disebut sebagai “golden hour spiritual” oleh para ulama, karena:
- hari sudah berakhir,
- beban pikiran mulai hilang,
- hati lebih mudah menerima nasihat,
- dan anak-anak berada dalam kondisi lebih rileks.
Rasulullah SAW mengingatkan:
“Rumah yang dibacakan Surah Al-Baqarah tidak dimasuki setan.”
(HR. Muslim)
Membaca Al-Qur’an setelah Magrib adalah salah satu cara menghidupkan rumah agar dilindungi dari gangguan syaitan, terutama pada waktu-waktu malam.
Tidak Perlu Lama Cuman 10–15 Menit Sudah Cukup
KH. Haris menjelaskan bahwa keluarga sering terlambat mulai karena berpikir ngaji harus panjang. Padahal:
- 1 ayat dengan tadabbur jauh lebih bermanfaat daripada 2 halaman tanpa pemahaman.
- 10 menit setiap hari lebih efektif daripada 1 jam tapi jarang.
Inilah prinsip yang sering dilupakan keluarga modern:
Al-Qur’an bukan soal panjangnya waktu, tapi soal kehadiran hati.
Solusi untuk Keluarga yang Tinggal Berjauhan
Di zaman ini, banyak keluarga memiliki anak yang:
- mondok,
- kuliah di luar kota,
- bekerja di kota lain,
- atau tinggal terpisah karena tuntutan hidup.
Namun KH. Haris menegaskan bahwa jarak bukan halangan.
Beliau memberi contoh sederhana:
- Setelah Magrib, ayah menelepon anak 5–7 menit
- Anak membaca 3–5 ayat
- Ayah menanyakan satu makna atau memberi nasihat
- Lalu ditutup dengan doa
Cara ini:
- menanamkan disiplin Qur’ani
- menjaga hubungan batin ayah-anak
- membuat anak merasa diperhatikan
- menjadi rantai spiritual yang menyambungkan hati mereka
Tidak sedikit keluarga yang merasakan perubahan emosional yang sangat kuat hanya dari rutinitas singkat ini.
Tadabbur Menjadi Kunci Agar Al-Qur’an Hidup Dalam Keluarga
KH. Haris menegaskan bahwa tadabbur adalah bagian terpenting dari ngaji keluarga. Allah berfirman:
“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an?”
(QS. Muhammad: 24)
Cara sederhana tadabbur di rumah:
- Baca satu ayat
- Baca terjemahannya
- Diskusikan:
- “Apa makna ayat ini?”
- “Apa yang bisa kita terapkan di rumah?”
Misalnya membaca ayat tentang menahan amarah. Maka orang tua bisa berkata:
“Hari ini kita coba belajar menahan marah ya. Kalau ayah atau bunda marah, ingatkan dengan lembut.”
Tadabbur seperti ini:
- Menghidupkan ayat dalam perilaku
- Mengubah akhlak keluarga
- Membuat anak melihat bahwa Al-Qur’an itu relevan
Al-Qur’an bukan lagi hanya dibaca tetapi menjadi cahaya yang mengatur kehidupan rumah.
Waktu Singkat yang Melahirkan Keluarga Qur’ani
Ngaji bareng keluarga tidak harus menunggu waktu luang, tidak perlu menunggu hari kosong, dan tidak perlu suasana formal. Yang diperlukan hanya:
- 10–15 menit
- Hati yang hadir
- Konsistensi
- Kesediaan membangun kebiasaan
Ketika Al-Qur’an hadir dalam rutinitas keluarga meski sebentar akan lahir perubahan besar:
- suasana rumah lebih teduh,
- hati lebih sabar,
- hubungan antaranggota lebih hangat,
- dan rumah dipenuhi rahmat serta perlindungan Allah.
Di tengah dunia yang semakin sibuk dan bising, momen tilawah singkat inilah yang menjadi jangkar ketenangan keluarga.