KEHANGATAN RUMAH TANGGA

Banyak keluarga hari ini merasa hidupnya semakin mudah. Komunikasi cepat, informasi melimpah, dan jarak terasa lebih dekat berkat media sosial. Dalam satu sentuhan layar, seseorang bisa menyapa keluarga di kota lain, berbagi kabar, bahkan menjalankan pekerjaan. Tidak sedikit yang mengira kehadiran media sosial otomatis membawa kebaikan bagi kehidupan keluarga.

Namun dalam siaran Inspirasi Keluarga Indonesia di MQFM, dibahas satu kegelisahan besar yang mulai dirasakan banyak rumah tangga. Mengapa di tengah kemudahan komunikasi, justru banyak keluarga merasa semakin jauh satu sama lain. Mengapa rumah terasa ramai secara fisik, tetapi sepi secara emosional. Di sinilah media sosial perlu dibaca bukan hanya sebagai teknologi, tetapi sebagai ujian.

Narasumber, Teh Sasa Esa Agustiana, mengingatkan bahwa media sosial adalah ruang baru dalam keluarga yang tidak netral. Ia bisa menjadi pintu pahala, tetapi juga bisa menjadi pintu kerusakan jika tidak dikendalikan oleh iman. Pertanyaannya bukan lagi sekadar “boleh atau tidak”, tetapi “ke mana arah hati kita ketika menggunakannya”.

Media Sosial Itu Mubah, Tapi Tidak Netral

Dalam Islam, tidak semua hal baru langsung dihukumi haram atau wajib. Media sosial termasuk dalam perkara mubah, sebagaimana dijelaskan dalam siaran MQFM. Artinya, ia boleh digunakan dan tidak berdosa selama tidak melanggar batasan syariat. Namun mubah bukan berarti bebas tanpa konsekuensi.

Teh Sasa Esa Agustiana menegaskan bahwa nilai media sosial sangat bergantung pada niat dan cara penggunaannya. Media sosial bisa menjadi sarana silaturahmi, dakwah, empati, dan kebaikan. Tetapi pada saat yang sama, ia juga bisa menjadi sebab lalainya seseorang dari keluarga, dari ibadah, bahkan dari Allah.

Allah Subhanahu wa Taala mengingatkan bahwa setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban:

ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيمِ
“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan.”
(QS. At-Takatsur: 8)

Media sosial termasuk nikmat zaman ini. Ia bukan hanya alat komunikasi, tetapi amanah. Apa yang kita lihat, apa yang kita unggah, dan apa yang kita abaikan karenanya, semua akan kembali kepada kita sebagai hisab.

Mendekatkan yang Jauh, Menjauhkan yang Dekat

Salah satu fenomena yang paling disorot dalam siaran MQFM adalah paradoks media sosial. Ia mampu mendekatkan orang yang berjauhan, tetapi seringkali justru menjauhkan orang yang seharusnya paling dekat. Suami dan istri satu rumah, tetapi jarang saling menatap. Anak dan orang tua satu ruangan, tetapi sibuk dengan dunia masing-masing.

Teh Sasa menyebut kondisi ini sebagai bentuk kehadiran tanpa keterhubungan. Secara fisik ada, tetapi secara batin tidak hadir. Percakapan digantikan pesan singkat. Sentuhan digantikan emoji. Dan perhatian digantikan notifikasi.

Padahal Rasulullah ﷺ memberikan teladan yang sangat jelas tentang kehadiran dalam keluarga. Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Tirmidzi)

Kebaikan kepada keluarga bukan sekadar nafkah, tetapi kehadiran hati, perhatian, dan komunikasi. Ketika media sosial mengambil porsi itu, maka ia tidak lagi netral, tetapi mulai merusak.

Rumah Ramai, Tapi Hati Kehilangan Sakinah

Dalam siaran tersebut, ditekankan bahwa salah satu dampak paling serius dari media sosial adalah hilangnya komunikasi tatap muka. Banyak keluarga tidak lagi memiliki ruang dialog yang hangat. Segala hal disampaikan lewat pesan, bahkan kepada orang yang ada di rumah yang sama.

Akibatnya, kelekatan emosional melemah. Anak kehilangan figur yang benar-benar mendengarkan. Pasangan merasa tidak diperhatikan. Dan rumah tidak lagi menjadi tempat berlabuhnya ketenangan.

Allah menggambarkan tujuan berkeluarga sebagai terciptanya sakinah. Firman-Nya:

لِتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا
“Agar kamu merasa tenteram kepadanya.”
(QS. Ar-Rum: 21)

Sakinah tidak lahir dari kecanggihan teknologi, tetapi dari kehadiran, perhatian, dan kasih sayang yang nyata. Jika media sosial menggerus itu, maka ia sedang mengambil fungsi yang bukan miliknya.

Bahagia di Layar, Luka di Rumah

Media sosial juga menghadirkan ilusi kebahagiaan. Banyak keluarga terlihat harmonis di layar, penuh senyum, penuh momen manis. Namun Teh Sasa mengingatkan bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak pernah mewakili isi hati.

Foto tidak menunjukkan konflik. Video tidak menampilkan luka. Unggahan tidak merekam air mata. Ketika seseorang membandingkan hidupnya dengan tampilan orang lain di media sosial, ia sedang membandingkan realitas dengan ilusi.

Allah mengingatkan agar manusia tidak terjebak dalam perbandingan yang melemahkan hati:

وَلَا تَتَمَنَّوْا۟ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۢ
“Janganlah kamu iri terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.”
(QS. An-Nisa: 32)

Keluarga yang kuat bukan keluarga yang terlihat sempurna, tetapi keluarga yang jujur memperbaiki diri di dalam rumahnya sendiri.

Media Sosial Harus Menjadi Alat, Bukan Pusat Keluarga

Kesimpulan besar dari siaran MQFM adalah satu hal mendasar. Media sosial boleh hadir, tetapi tidak boleh menjadi pusat kehidupan keluarga. Ia hanyalah alat, bukan tujuan. Ia sarana, bukan tempat bergantung.

Teh Sasa Esa Agustiana menekankan pentingnya muraqabah, merasa diawasi Allah dalam setiap aktivitas digital. Ketika seseorang membuka gawai tanpa kesadaran iman, ia mudah terjerumus. Tetapi ketika hati terikat kepada Allah, media sosial bisa menjadi jalan pahala.

Pada akhirnya, media sosial akan memperlihatkan siapa kita sebenarnya. Apakah ia menghangatkan rumah atau meretakkannya, jawabannya bukan pada teknologinya, tetapi pada hati penggunanya.

Kesimpulan

Media sosial tidak menentukan kebahagiaan keluarga. Hati manusialah yang menentukan. Rumah akan tetap hangat selama anggota keluarga memilih untuk hadir satu sama lain, bukan sekadar terhubung secara digital. Sebab keluarga yang sakinah tidak dibangun di layar, tetapi di hati yang saling terikat karena Allah.