Misteri di Balik Doa yang Tertunda

Banyak dari kita yang merasa sudah berdoa habis-habisan namun merasa tidak ada perubahan. Aa Gym memberikan pencerahan bahwa Allah mungkin tidak memberikan apa yang kita inginkan, tapi memberikan apa yang kita butuhkan. Kurangnya pengenalan kita terhadap sifat Al-Hakim (Maha Bijaksana) seringkali membuat kita berprasangka buruk kepada takdir.

Allah berfirman dalam Al-Qur’an (QS. Al-Baqarah: 216)

 وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ

Artinya: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu.”

Adab Bertanya kepada Sang Raja

Dalam Ma’rifatullah, doa bukan sekadar daftar permintaan, melainkan bentuk penghambaan dan pengenalan posisi kita di hadapan Allah. Kita harus tahu siapa yang kita minta dan bagaimana posisi kita sebagai hamba yang fakir. Memperbaiki adab dan mengenal keagungan Allah akan membuat kita lebih sabar dan rida terhadap segala keputusan-Nya.

Keyakinan yang Menggetarkan Arsy

Doa yang dikabulkan adalah doa yang lahir dari keyakinan penuh akan kemahakuasaan Allah. Artikel ini membahas pentingnya membuang keraguan saat meminta kepada Allah. Jika kita sudah mengenal Allah dengan benar, maka kita tidak akan pernah kecewa meski keinginan kita belum terwujud, karena kita yakin pilihan Allah adalah yang terbaik.

Rasulullah bersabda Hadist (HR. Ahmad)

 مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ وَلا قَطِيعَةُ رَحِمٍ إِلا أَعْطَاهُ اللَّهُ بِهَا إِحْدَى ثَلاثٍ

Artinya: “Tidaklah seorang muslim berdoa dengan suatu doa yang tidak mengandung dosa dan pemutusan silaturahmi, kecuali Allah akan memberinya salah satu dari tiga perkara: dikabulkan, disimpan untuk di akhirat, atau dijauhkan dari keburukan yang semisal.”