Sholat bukan sekadar gerakan fisik yang dilakukan lima kali sehari, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya. Banyak dari kita yang masih merasa hampa atau tidak tenang meskipun sudah melaksanakan sholat secara rutin. Ustadz Hendra Wiracandra dalam kajian Inspirasi Malam menekankan bahwa kunci utama ketenangan sholat terletak pada *thuma’ninah*, yakni memberikan jeda sejenak pada setiap gerakan agar jiwa ikut hadir dalam setiap ruku dan sujud yang dilakukan.
Dampak Psikologis Sholat yang Terburu-buru
Secara deskriptif, sholat yang dilakukan dengan tergesa-gesa sering kali kehilangan esensi spiritualnya dan hanya menjadi beban rutinitas. Gerakan yang terlalu cepat tidak memberikan kesempatan bagi jantung dan pikiran untuk sinkron dalam mengagungkan Allah. Fenomena “sholat kilat” ini justru bisa memicu stres karena kita tidak benar-benar melepaskan beban dunia saat berdiri di hadapan Allah. Sholat yang benar seharusnya menjadi “oase” di tengah hiruk-pikuk kesibukan malam.
Allah berfirman dalam Al-Qur’an (Surah Al-Ankabut: 45):
Arinya: (…dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.)
Tips Membangun Koneksi Spiritual dengan Sang Khaliq
Untuk mencapai level khusyuk, mulailah dengan memahami setiap bacaan sholat yang diucapkan. Persiapan sebelum sholat, seperti berwudhu dengan sempurna dan hadir di sajadah beberapa menit lebih awal, sangat membantu dalam mengkondisikan hati. Dengan memposisikan diri seolah ini adalah sholat terakhir kita, maka setiap gerakan akan terasa lebih bermakna dan menenangkan jiwa.
Rasulullah bersabda
ارْجِعْ فَصَلِّ فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ
Artinya: (Kembalilah dan shalatlah, karena sesungguhnya engkau belum shalat.)* (HR. Bukhari & Muslim – Terkait perintah thuma’ninah)
• Live Streaming
102.7 MQFM Bandung
Assalamu'alaykum Sahabat MQ, silahkan dapat menyampaikan pertanyaan disini melalui WhatsApp MQFM
Iklan yang tampil di website ini merupakan layanan pihak ketiga melalui Google AdSense yang dapat disesuaikan dengan preferensi masing-masing pengguna. MQFM berupaya menghadirkan konten yang sejalan dengan nilai-nilai kebaikan dan kebermanfaatan, namun tidak memiliki kendali langsung atas materi iklan yang ditampilkan.