Meneladani Tradisi Rasulullah di Bulan Kemenangan
Sahabat MQ pasti sering mendengar bahwa bulan Syawal adalah waktu favorit untuk melangsungkan pernikahan. Hal ini bukan tanpa alasan, melainkan bentuk meneladani Baginda Nabi Muhammad SAW yang menikahi Ibunda Aisyah RA di bulan tersebut untuk mematahkan mitos jahiliah.
Rasulullah SAW ingin menunjukkan bahwa semua bulan adalah baik untuk beribadah. Menikah di bulan Syawal menjadi simbol kemenangan setelah satu bulan penuh kita berpuasa dan menempa diri di bulan Ramadan. Allah SWT berfirman mengenai hakikat pasangan dalam surah Ar-Rum ayat 21:
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَٰجًا لِّتَسْكُنُوٓا۟ إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً
Artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya.”
Memulai lembaran baru di bulan suci ini diharapkan membawa keberkahan yang melimpah. Persiapan batin yang sudah terbentuk selama Ramadan menjadi modal awal yang kuat untuk membangun keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah bagi Sahabat MQ.
Menghapus Mitos Sial dengan Keyakinan Tauhid
Pada masa lalu, ada anggapan bahwa bulan Syawal membawa ketidakberuntungan untuk menikah. Namun, Kang Arif Rahman Lubis menekankan bahwa seorang mukmin harus memiliki keyakinan tauhid yang lurus, bahwa manfaat dan mudarat hanya datang dari Allah SWT.
Sahabat MQ perlu meyakini bahwa langkah menuju pelaminan adalah langkah menuju rida-Nya. Pernikahan yang didasari iman tidak akan goyah hanya karena mitos-mitos yang tidak berdasar secara syariat. Sebagaimana hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Aisyah RA:
تَزَوَّجَنِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّMَ فِي شَوَّالٍ وَبَنَى بِي فِي شَوَّالٍ
Artinya: “Rasulullah SAW menikahiku di bulan Syawal dan mengadakan pesta pernikahan denganku di bulan Syawal pula.”
Keyakinan inilah yang harus tertanam dalam hati. Bahwa kebahagiaan rumah tangga ditentukan oleh kesiapan ilmu dan ketakwaan, bukan sekadar pemilihan tanggal atau bulan di kalender.
Menyiapkan Mental Menuju Ibadah Terpanjang
Setelah perayaan Idulfitri, semangat baru biasanya muncul dalam diri Sahabat MQ. Namun, pernikahan bukan hanya soal pesta atau baju baru, melainkan kesiapan mental untuk memikul tanggung jawab sebagai nakhoda atau madrasah pertama bagi anak-anak kelak.
Kang Arif sering mengingatkan bahwa visi pernikahan harus jelas sejak awal. Apakah Sahabat MQ menikah karena ingin menyempurnakan agama atau hanya karena lelah ditanya “kapan nikah”? Visi yang kuat akan membantu menghadapi badai rumah tangga di masa depan.
Oleh karena itu, manfaatkan momentum Syawal ini untuk terus memperdalam ilmu agama. Bekal ilmu jauh lebih berharga daripada bekal materi semata, karena dengan ilmulah sebuah keluarga bisa berjalan di atas rida-Allah SWT.