Melepaskan Ketergantungan pada Selain Allah
Ketakutan akan hari esok sering kali muncul karena Sahabat MQ terlalu menggantungkan harapan pada jabatan, harta, atau manusia. Ma’rifatullah mengajarkan bahwa semua itu adalah makhluk yang lemah dan tidak memiliki daya. Ketika sandaran hidup adalah sesuatu yang fana, maka kegelisahan akan selalu membayangi setiap langkah yang diambil.
Aa Gym dalam kajiannya mengajak untuk memindahkan sandaran hati hanya kepada Allah Yang Maha Kekal. Saat seseorang sudah “meng-nol-kan” diri di hadapan Allah, maka segala ketakutan akan kemiskinan atau kegagalan akan sirna. Fokus hidup berubah dari “bagaimana esok” menjadi “bagaimana agar Allah rida dengan apa yang dilakukan hari ini”.
Allah SWT berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3).
Menemukan Kekuatan di Balik Kepasrahan Total
Kepasrahan bukan berarti menyerah tanpa usaha, melainkan sebuah kekuatan jiwa setelah semua daya dikerahkan. Sahabat MQ yang memiliki tauhid yang kokoh akan memahami bahwa jaminan rezeki sudah diatur oleh Allah sejak sebelum kita dilahirkan. Rasa takut muncul karena kita merasa seolah-olah kitalah yang mengatur segalanya, padahal kita hanyalah pelaksana takdir.
Dalam suasana Masjid DT Bandung yang syahdu, diajarkan bahwa kepasrahan total melahirkan keberanian. Jika Allah sudah berkehendak menolong, maka tidak ada satu pun kekuatan di bumi ini yang bisa menghalangi. Sebaliknya, jika Allah tidak mengizinkan, maka segala upaya manusia tidak akan membuahkan hasil. Keyakinan inilah yang menjadi obat paling ampuh bagi kecemasan masa depan.
Rasulullah SAW bersabda:
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ
Artinya: “Sungguh, seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana rezeki burung.” (HR. Tirmidzi).
Menjadikan Zikir sebagai Perisai dari Rasa Cemas
Zikir bukan hanya sekadar ucapan di bibir, melainkan kehadiran hati yang merasa selalu diawasi dan ditemani oleh Allah. Sahabat MQ yang membasahi lidahnya dengan zikir akan merasakan kehadiran perlindungan Ilahi di setiap waktu. Zikir mengubah persepsi kita terhadap ancaman masa depan menjadi peluang untuk membuktikan kesetiaan kepada Sang Pencipta.
Melalui kajian Ma’rifatullah, kita diajak untuk menjadikan Hasbunallah wa ni’mal wakil sebagai wirid harian. Kalimat ini bukan sekadar kata-kata, melainkan deklarasi bahwa Allah adalah satu-satunya penolong yang paling baik. Dengan kekuatan zikir, Sahabat MQ akan memiliki mental yang tangguh dan tidak mudah goyah oleh isu atau berita yang menakutkan di luar sana.
Allah SWT berfirman:
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
Artinya: “…Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali ‘Imran: 173).