Awal Mula Kebahagiaan Sejati

Sahabat MQ, Hadirnya rasa tenang di tengah hiruk-pikuk dunia sering kali menjadi dambaan setiap insan perlu disadari bahwa kebahagiaan yang hakiki tidaklah bersumber dari tumpukan materi atau jabatan yang mentereng, melainkan dari kemuliaan akhlak yang terjaga. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi ini dengan misi utama yang sangat mulia, yaitu menyempurnakan perangai manusia agar selamat dunia dan akhirat.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menegaskan tujuan risalahnya:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR. Al-Bukhari). Melalui dalil ini, kita diajak untuk memahami bahwa pondasi dasar dari agama Islam adalah perilaku yang terpuji. Sesuatu yang selalu dicari manusia setiap hari adalah kenikmatan dan kebahagiaan hidup. Demi meraihnya, orang-orang dengan sukarela melakukan berbagai rutinitas dan kegiatan.

Umumnya, ketika sudah didapat, tidak mustahil kenikmatan dan kebahagiaan tersebut menghilang, bahkan dapat berubah menjadi kesedihan.

Hadis Rasul SAW yang menjelaskan tentang syukur tidaklah sedikit. Salah satunya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah berikut:

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ

Artinya: “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Lihatlah orang yang berada di bawah kamu, dan jangan lihat orang yang berada di atas kamu, karena dengan begitu kamu tidak meremehkan nikmat Allah yang diberikan-Nya kepada kamu” (HR. Bukhari-Muslim) Hadis di atas menjelaskan bahwa manusia dituntut untuk bersyukur atas apa yang telah diberikan oleh Allah SWT. dengan bersyukur, maka tidak akan ada sifat iri hati, dengki, dan tamak yang berlebihan. Sifat-sifat buruk tersebut menjadikan hati seseorang tenang, tentram, dan tentu bahagia karena jauh dari sifat membanding-bandingkan dengan lainnya.


Akhlak sebagai Timbangan Terberat

Ketika kelak seluruh amal diperhitungkan, ternyata ada satu amalan yang memiliki bobot luar biasa di timbangan mizan. Sahabat MQ, amalan tersebut bukanlah sekadar banyaknya harta yang disedekahkan, melainkan kebaikan akhlak kepada sesama makhluk Allah. Semakin baik etika seseorang, maka semakin berat pula timbangan kebaikannya di hari kiamat kelak, melebihi amalan-amalan sunah lainnya.

Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW yang sangat menggetarkan hati:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat melainkan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi). Mari kita jadikan kemuliaan perilaku sebagai prioritas utama dalam menjalani sisa usia yang singkat ini. Ini adalah akhlak mulia, ternyata memiliki seperti ini dapat memberatkan timbangan.

Dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا شَىْءٌ أَثْقَلُ فِى مِيزَانِ الْمُؤْمِنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ خُلُقٍ حَسَنٍ وَإِنَّ اللَّهَ لَيَبْغَضُ الْفَاحِشَ الْبَذِىءَ

Artinya: “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat dalam timbangan seorang mukmin selain akhlak yang baik. Sungguh, Allah membenci orang yang berkata keji dan kotor.” (HR. Tirmidzi, no. 2002. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini sahih).

Juga dari Abu Ad-Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

Artinya: “Tidak ada sesuatu amalan yang jika diletakkan dalam Timbangan lebih berat dari akhlak yang mulia. Sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa menggapai derajat orang yang rajin puasa dan rajin shalat.” (HR. Tirmidzi, no. 2003. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan).

Al-fahisy yang dimaksud dalam hadits adalah orang yang mengeluarkan perkataan yang tidak enak didengar atau perkataan yang tidak pantas. Al-badzi adalah orang yang berkata kotor. Jadi, orang yang bisa menjaga perkataannya adalah orang yang akan berat timbangannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ الْجَنَّةَ فَقَالَ « تَقْوَى اللَّهِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ ». وَسُئِلَ عَنْ أَكْثَرِ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ فَقَالَ « الْفَمُ وَالْفَرْجُ »

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai perkara yang banyak memasukkan seseorang ke dalam surga, beliau menjawab, “Takwa Kepada Allah dan berakhlak yang baik.” Beliau ditanya pula mengenai perkara yang banyak memasukkan orang dalam neraka, jawab beliau, “Perkara yang disebabkan karena mulut dan kemaluan.” (HR. Tirmidzi, no. 2004 dan Ibnu Majah, no. 4246. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini sahih).

Meneladani Sang Uswatun Hasanah

Mencapai derajat akhlak yang tinggi memerlukan figur teladan yang sempurna, dan tidak ada sosok yang lebih patut dicontoh selain Baginda Nabi Muhammad SAW. Sahabat MQ, beliau adalah pribadi yang dipuji langsung oleh Allah SWT karena keagungan budi pekertinya yang melampaui batas logika manusia. Dengan mempelajari sejarah hidup beliau, kita akan menemukan panduan praktis tentang cara berinteraksi dengan penuh kasih sayang dan kejujuran.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk memuji kemuliaan beliau:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

Artinya: “Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4).

Dengan mengikuti jejak beliau, insyaallah kita akan mendapatkan kedudukan yang dekat dengan beliau di surga nanti.