Keutamaan Mencari Nafkah yang Setara dengan Nilai Jihad
Bagi seorang suami, setiap tetes keringat yang keluar saat bekerja mencari nafkah yang halal demi menghidupi anak dan istri memiliki nilai yang sangat mulia di mata agama. Sahabat MQ, terkadang rasa lelah yang mendera setelah seharian beraktivitas membuat seseorang lupa bahwa dirinya sedang berada dalam posisi ibadah yang agung. Mencari nafkah bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan sebuah bentuk implementasi takwa yang nyata.
Setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membelikan makanan, pakaian, atau memenuhi kebutuhan pendidikan keluarga nilainya jauh lebih utama daripada sedekah yang diberikan kepada orang lain secara acak. Islam sangat menghargai tanggung jawab seorang kepala keluarga yang berusaha menjaga anggota keluarganya agar tidak hidup terlantar. Oleh karena itu, rasa ikhlas dalam bekerja harus selalu dihadirkan di dalam hati setiap saat.
Rasulullah SAW dalam sebuah hadis sahih memberikan perbandingan yang sangat kontras mengenai keutamaan dinar yang dibelanjakan oleh seorang manusia. Simak penuturan Rasulullah SAW berikut agar motivasi dalam menjemput rezeki yang halal semakin membubung tinggi:
دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللهِ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ
Artinya: “Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau infakkan kepada keluargamu; maka yang paling besar pahalanya adalah yang engkau infakkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim).
Ketaatan Istri sebagai Kunci Pembuka Delapan Pintu Surga
Di sisi lain, seorang istri juga memiliki peluang emas yang sangat luar biasa untuk meraih derajat tertinggi di surga melalui jalur pernikahan yang dijalaninya dengan ikhlas. Sahabat MQ, syariat Islam memberikan kemudahan yang begitu besar bagi seorang wanita saleha untuk memilih pintu surga mana saja yang ia sukai. Syaratnya sangat sederhana untuk diucapkan, meskipun membutuhkan keistiqamahan yang luar biasa dalam mempraktikkannya.
Ketaatan seorang istri kepada suaminya dalam hal-hal yang tidak bermaksiat kepada Allah adalah sebuah bentuk ibadah yang nilainya menyamai jihadnya kaum laki-laki. Menjaga kehormatan diri saat suami tidak ada di rumah serta mengelola rumah tangga dengan penuh amanah adalah pilar-pilar utama yang mendatangkan rida Ilahi. Indahnya konsep ini membuat setiap wanita muslimah memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi ratu di surga kelak.
Mari kita renungkan bersama sabda Rasulullah SAW yang sangat memotivasi dan memberikan kabar gembira bagi seluruh wanita muslimah di dunia yang sedang berjuang menjaga keharmonisan rumah tangganya:
إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ
Artinya: “Jika seorang wanita menjaga salat lima waktunya, berpuasa pada bulannya (Ramadhan), menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya: ‘Masuklah ke dalam surga dari pintu surga mana saja yang engkau kehendaki’.” (HR. Ahmad).
Saling Memaafkan sebagai Penggugur Dosa di Dalam Rumah
Tidak ada satu pun rumah tangga di dunia ini yang berjalan tanpa adanya riak-riak kecil berupa kesalahpahaman atau perbedaan pendapat antar-pasangan. Sahabat MQ, dinamika tersebut adalah hal yang sangat wajar terjadi karena menyatukan dua kepala yang berbeda latar belakang tentu membutuhkan proses adaptasi yang tiada henti. Yang membedakan rumah tangga berkah dengan yang tidak adalah bagaimana cara mereka menyelesaikan konflik tersebut.
Menjadikan pemaafan sebagai budaya sehari-hari di dalam rumah adalah salah satu cara tercepat untuk meruntuhkan ego dan mengundang rahmat Allah SWT. Ketika suami atau istri dengan berlapang dada mengakui kesalahan dan pasangannya menyambut dengan senyuman tulus, saat itulah dosa-dosa mereka berguguran. Saling menggenggam tangan dengan rasa penuh kasih sayang setelah perselisihan adalah pemandangan yang sangat dicintai oleh para malaikat.
Al-Qur’an secara tegas memerintahkan kita untuk selalu mengedepankan sikap pemaaf dan membalas keburukan dengan kebaikan yang lebih utama agar hubungan interpersonal, terutama dengan pasangan, tetap terjaga keharmonisannya. Konsep mulia ini menjadi panduan universal bagi siapa saja yang mendambakan kedamaian batin yang sejati di dalam hidupnya.
Perhatikan firman Allah SWT dalam Surah Asy-Syura ayat 40 yang menekankan betapa besarnya pahala yang disediakan bagi orang-orang yang memilih jalan damai dan pemaafan:
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Artinya: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berbuat zalim.”