Mengenal Sifat Riya dan Sumah yang Menjadi Perusak Keikhlasan
Melakukan amal kebaikan seperti salat, sedekah, dan membaca Al-Qur’an tentu merupakan hal yang sangat mulia. Namun, tahukah sahabat MQ bahwa ada musuh dalam selimut yang siap menerkam dan menghanguskan seluruh pahala tersebut dalam sekejap? Musuh itu bernama riya (ingin dilihat orang lain) dan sumah (ingin didengar orang lain). Penyakit hati ini sering kali menyusup dengan sangat halus, bahkan tanpa disadari oleh pelakunya saat sedang beraktivitas sosial.
Ketika motivasi beramal bergeser dari mencari rida Allah Swt. menjadi mencari pujian, sanjungan, atau pengakuan dari manusia, maka nilai spiritual dari amal tersebut langsung sirna. Aa Gym sering mengingatkan dalam Kajian MQ Pagi bahwa pujian makhluk tidak memberikan manfaat apa pun bagi keselamatan di akhirat. Sahabat MQ harus ekstra waspada terhadap bisikan-bisikan halus yang mengarahkan hati untuk pamer atas segala pencapaian ibadah yang telah dilakukan.
Allah Swt. memberikan peringatan keras mengenai kesia-siaan amal yang dicampuri dengan sifat riya ini dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 264:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُبْطِلُوْا صَدَقٰتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْاَذٰى كَالَّذِيْ يُنْفِقُ مَالَهٗ رِئَاۤءَ النَّاسِ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu merusak sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan penerima), seperti orang yang menginfakkan hartanya karena riya (pamer) kepada manusia…” Ayat ini menjadi pengingat bagi sahabat MQ agar selalu menjaga kebersihan niat.
Bahaya Tersembunyi dari Sifat Ujub dan Sombong dalam Beragama
Selain riya, ada pula penyakit hati bernama ujb, yaitu perasaan kagum terhadap diri sendiri atas ketaatan atau kelebihan yang dimiliki. Sifat ini sangat berbahaya karena membuat seseorang merasa lebih suci, lebih pintar, atau lebih mulia dibandingkan dengan orang lain. Sahabat MQ yang terjangkit penyakit ujb cenderung meremehkan sesama dan melupakan bahwa segala petunjuk serta kekuatan untuk berbuat baik murni berasal dari pertolongan Allah Swt.
Kesombongan spiritual ini dapat meruntuhkan fondasi akhlak yang telah dibangun dengan susah payah. Ketika merasa diri sudah aman dan penuh pahala, seseorang akan berhenti melakukan introspeksi diri dan mudah menyalahkan orang lain. Sahabat MQ perlu menumbuhkan sifat tawadu (rendah hati) dengan menyadari bahwa tanpa rahmat dari Allah Swt., manusia tidaklah memiliki daya dan kekuatan apa pun untuk melakukan kebajikan.
Rasulullah saw. menegaskan bahwa kesombongan, sekecil apa pun itu, akan menjadi penghalang besar untuk memasuki surga, seperti yang disabdakan beliau:
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarrah (biji sawi) dari kesombongan.” (HR. Muslim). Hadis ini mengisyaratkan sahabat MQ untuk senantiasa membersihkan diri dari keangkuhan sekecil apa pun.
Strategi Ampuh Menjaga Kesucian Niat di Setiap Lini Kehidupan
Menjaga niat agar tetap lurus dan ikhlas memerlukan perjuangan yang dilakukan secara terus-menerus sepanjang hayat. Setiap kali ingin melangkah, sedang melakukan pekerjaan, maupun setelah menyelesaikan suatu amal, pemeriksaan niat harus selalu dilakukan. Sahabat MQ dapat melatih diri dengan cara memperbanyak amal ibadah yang sifatnya rahasia, yang hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah Swt., seperti sedekah sembunyi-sembunyi atau salat tahajud.
Menyembunyikan kebaikan dari pandangan publik sangat membantu dalam mengikis keinginan untuk dipuji oleh makhluk. Selain itu, membiasakan diri berdoa memohon perlindungan dari syirik khafi (syirik yang samar) juga menjadi benteng pertahanan yang sangat kokoh. Sahabat MQ akan merasakan kebebasan yang luar biasa ketika pandangan manusia tidak lagi menjadi standar dalam bertindak, melainkan hanya pandangan dari Sang Pencipta semata.
Keikhlasan mutlak ini diperintahkan oleh Allah Swt. dalam Al-Qur’an Surat Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…” Melalui ayat ini, sahabat MQ diajak untuk selalu meluruskan niat dalam setiap aktivitas harian agar bernilai pahala.