Membongkar Hakikat Istidraj dalam Perspektif Al-Hikam
Di balik kemudahan hidup, tumpukan materi yang kian bertambah, serta karier yang terus menanjak, sering kali tersimpan sebuah ujian tak kasatmata yang jauh lebih berbahaya daripada sebuah musibah fisik. Sebagaimana yang diuraikan secara mendalam oleh Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. dalam program siaran Inspirasi Qur’an – Kajian Kitab Al Hikam, kondisi di mana seorang hamba terus-menerus dilimpahi kenikmatan duniawi padahal ia konsisten berada dalam kelalaian dan maksiat disebut dengan istilah istidraj. Melalui pemaparan jernih yang beliau sampaikan, kita diingatkan bahwa tidak semua kenyamanan adalah tanda cinta dari Sang Pencipta; sebagian di antaranya justru merupakan cara Allah membiarkan seorang hamba semakin terperosok ke dalam jarak yang jauh dari-Nya.
Sahabat MQ, jebakan spiritual ini sering kali gagal dideteksi karena ego manusia cenderung mengaitkan kesuksesan materi dengan kemuliaan diri di hadapan Allah. Ketika seseorang jarang beribadah namun bisnisnya semakin menggurita, atau ketika ia gemar berbuat zalim namun kesehatannya tetap prima, di situlah qolbu sedang diuji dengan penguluran waktu dan kenikmatan. Jika rasa mawas diri telah hilang dari dalam sanubari, maka manusia akan berjalan dengan penuh kesombongan menuju jurang kehancurannya sendiri tanpa pernah sempat menyadarinya.
Ancaman mengenai penguluran siksaan secara perlahan melalui limpahan kesenangan duniawi bagi orang-orang yang mendustakan ayat-ayat-Nya ini telah digariskan dengan sangat tegas di dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 182:
وَٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُم مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf: 182)
Tanda-Tanda Kehilangan Kompas Spiritual dalam Diri
Ustadz Suherman Ar-Rozy, M.Ag. kemudian menjelaskan beberapa indikator utama yang menunjukkan bahwa kenikmatan yang kita terima sudah mulai bergeser menjadi sebuah istidraj. Tanda yang paling mencolok adalah ketika bertambahnya fasilitas dunia justru membuat kita semakin malas untuk menegakkan salat malam, enggan bersedekah, dan semakin jauh dari majelis ilmu. Hati menjadi keras dan mati, sehingga nasihat kebaikan tidak lagi mampu menembus dinding keangkuhan yang menyelimuti ruang qolbu kita.
Sahabat MQ, indikator berbahaya lainnya adalah hilangnya rasa bersalah saat melakukan dosa dan pudarnya rasa takut akan datangnya hari pembalasan. Ketika kemudahan hidup membuat kita merasa “aman-aman saja” meskipun hak-hak orang lain telah kita langgar, itu adalah alarm spiritual yang sangat darurat. Kenikmatan yang sehat seharusnya bertindak sebagai pemicu ruku’ dan sujud yang lebih panjang, bukan justru menjadi dinding tebal yang memisahkan seorang hamba dengan rahmat dan ampunan Tuhannya.
Mengenai peringatan keras Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fenomena pemberian dunia di tengah kemaksiatan yang tiada henti, beliau menyampaikannya dalam sebuah hadis yang sangat menggetarkan hati:
إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنَ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ
“Apabila kamu melihat Allah memberikan kenikmatan dunia kepada seorang hamba yang dicintainya, padahal hamba tersebut terus berada dalam kemaksiatan, maka ketahuilah bahwa hal itu tidak lain adalah istidraj.” (HR. Ahmad)
Langkah Preventif Menghindari Jebakan Istidraj
Agar terhindar dari lubang kehancuran spiritual ini, langkah konkret yang wajib diambil adalah dengan terus-menerus menghidupkan budaya muhasabah atau introspeksi diri secara ketat setiap waktu. Sahabat MQ, setiap kali mendapatkan bonus rezeki, kenaikan jabatan, atau pujian dari sesama manusia, jangan terburu-buru merayakannya dengan euphoria yang berlebihan. Ambil jeda sejenak untuk duduk di hamparan sajadah, lalu tanyakan pada diri sendiri: “Apakah nikmat ini membuatku semakin dekat dengan Allah, atau justru sebaliknya?”
Selain introspeksi, memperbanyak doa memohon keteguhan iman dan perlindungan dari tipu daya dunia yang melalaikan adalah tameng terbaik bagi qolbu kita. Menjaga kedekatan dengan lingkungan orang-orang saleh dan ulama juga akan membantu kita untuk selalu mendapatkan teguran yang jujur saat arah kompas spiritual kita mulai melenceng. Mari kita ubah setiap fasilitas dunia yang mampir di hidup kita menjadi kendaraan takwa yang mengantarkan kita menuju rida-Nya yang abadi.
Sebagai penutup ikhtiar kita agar senantiasa diberikan ketetapan hati dalam ketaatan dan terhindar dari hati yang memalingkan kebenaran, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan sebuah doa yang wajib kita basahkan di lisan setiap hari:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
“Wahai Zat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi)