MQFMNETWORK.COM | Bandung – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 kembali memunculkan kekhawatiran mengenai kualitas pendidikan dasar di Indonesia. Rendahnya capaian siswa, terutama pada aspek numerasi dan kemampuan memahami materi secara mendalam, menjadi sinyal bahwa persoalan pendidikan nasional belum sepenuhnya teratasi.
Literasi dan numerasi selama ini dianggap sebagai fondasi utama dalam proses belajar. Kemampuan membaca, memahami informasi, berpikir logis, serta menyelesaikan masalah menjadi bekal dasar yang menentukan keberhasilan peserta didik dalam mempelajari berbagai bidang ilmu lainnya.
Namun ketika hasil asesmen menunjukkan bahwa kemampuan tersebut masih berada di bawah harapan, muncul pertanyaan mendasar, di mana sebenarnya letak persoalan utama pendidikan dasar Indonesia?
Apakah masalahnya terletak pada kurikulum, metode pembelajaran, kualitas guru, lingkungan keluarga, atau justru kombinasi dari berbagai faktor yang saling berkaitan?
Literasi dan Numerasi Menjadi Fondasi Pendidikan
Dalam dunia pendidikan modern, literasi dan numerasi tidak lagi dipahami secara sempit sebagai kemampuan membaca dan berhitung.
Literasi mencakup kemampuan memahami informasi, menganalisis isi bacaan, berpikir kritis, serta menggunakan pengetahuan untuk menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan.
Sementara numerasi berkaitan dengan kemampuan memahami konsep matematika dan menerapkannya dalam situasi nyata.
Kedua kemampuan tersebut menjadi fondasi bagi penguasaan berbagai kompetensi lain yang dibutuhkan peserta didik di masa depan.
Karena itu, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi menjadi perhatian serius bagi banyak kalangan.
Hasil TKA Menunjukkan Tantangan yang Masih Besar
Capaian TKA 2026 menunjukkan bahwa kemampuan dasar peserta didik Indonesia masih menghadapi tantangan yang cukup besar, khususnya dalam aspek numerasi.
Bagi para pemerhati pendidikan, kondisi tersebut tidak bisa dipandang sebagai persoalan individu siswa semata.
Hasil asesmen pada dasarnya merupakan refleksi dari proses pendidikan yang berlangsung selama bertahun-tahun, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Karena itu, upaya mencari akar persoalan perlu dilakukan secara lebih komprehensif.
Persoalan Tidak Bisa Dibebankan kepada Siswa
Aktivis Pendidikan sekaligus Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, menilai bahwa rendahnya kemampuan literasi dan numerasi tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan kemampuan siswa.
Dalam pembahasan mengenai hasil TKA 2026, ia menjelaskan bahwa capaian peserta didik merupakan hasil dari seluruh ekosistem pendidikan yang ada.
Menurutnya, ketika hasil belajar belum optimal, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya peserta didik, tetapi juga sistem yang membentuk proses pembelajaran mereka.
“Kalau hasil belajar rendah, berarti kita harus melihat seluruh sistem yang ada di belakangnya,” ujarnya.
Budaya Belajar Belum Terbangun Kuat
Salah satu faktor yang disoroti Indra Charismiadji adalah belum kuatnya budaya belajar dan budaya literasi di banyak lingkungan pendidikan.
Menurutnya, pendidikan seringkali masih berfokus pada penyelesaian materi dan pencapaian nilai, bukan pada pembangunan kebiasaan belajar yang berkelanjutan.
Padahal kemampuan membaca, berpikir kritis, dan memahami informasi tidak bisa dibentuk secara instan.
Diperlukan lingkungan yang mendorong anak untuk terbiasa membaca, bertanya, berdiskusi, dan mengeksplorasi berbagai pengetahuan sejak usia dini.
“Literasi itu bukan soal membaca buku saat ada tugas sekolah saja, tetapi menjadi bagian dari budaya sehari-hari,” katanya.
Pembelajaran Terlalu Berorientasi Hafalan
Menurut Indra Charismiadji, salah satu persoalan yang masih sering ditemukan dalam pendidikan dasar adalah dominannya pendekatan hafalan.
Peserta didik sering kali diajarkan untuk mengingat jawaban, rumus, atau definisi tanpa benar-benar memahami konsep yang dipelajari.
Akibatnya, ketika mereka dihadapkan pada soal yang membutuhkan analisis atau penerapan konsep dalam konteks baru, banyak yang mengalami kesulitan.
Padahal asesmen seperti TKA lebih menekankan kemampuan memahami, menalar, dan memecahkan masalah dibanding sekadar mengingat informasi.
Numerasi Bukan Sekadar Matematika
Rendahnya nilai numerasi sering kali dianggap sebagai masalah dalam pelajaran matematika semata.
Namun menurut Indra Charismiadji, numerasi sebenarnya merupakan kemampuan berpikir logis yang dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan.
Kemampuan membaca data, memahami informasi berbentuk angka, membuat perhitungan sederhana, hingga mengambil keputusan berdasarkan informasi merupakan bagian dari numerasi.
Karena itu, pengembangan numerasi tidak cukup dilakukan hanya di ruang kelas matematika, tetapi perlu menjadi bagian dari pendekatan pembelajaran secara keseluruhan.
Kualitas Interaksi Guru dan Siswa Menentukan
Dalam pandangan Indra Charismiadji, guru tetap menjadi salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan kualitas pendidikan.
Ia menilai bahwa proses belajar yang efektif lahir dari interaksi yang berkualitas antara guru dan peserta didik.
Namun dalam praktiknya, banyak guru masih dibebani berbagai tugas administratif yang menyita waktu mereka.
Akibatnya, kesempatan untuk memberikan pendampingan yang lebih personal kepada siswa menjadi berkurang.
Menurutnya, peningkatan kualitas pendidikan harus dimulai dengan memberikan ruang yang lebih besar bagi guru untuk fokus pada pembelajaran.
Kesenjangan Antarwilayah Masih Menjadi Tantangan
Persoalan literasi dan numerasi juga tidak bisa dilepaskan dari kondisi pendidikan yang sangat beragam di berbagai daerah.
Perbedaan akses terhadap fasilitas pendidikan, kualitas tenaga pendidik, teknologi pembelajaran, dan dukungan lingkungan belajar masih menjadi tantangan yang dihadapi Indonesia.
Indra Charismiadji menilai bahwa kebijakan pendidikan perlu mempertimbangkan kondisi nyata yang dihadapi sekolah-sekolah di berbagai wilayah.
Pendekatan yang seragam belum tentu mampu menjawab kebutuhan yang berbeda-beda di setiap daerah.
Peran Keluarga Sangat Menentukan
Selain sekolah, keluarga memiliki kontribusi besar dalam membentuk kemampuan literasi dan numerasi anak.
Menurut Indra Charismiadji, kebiasaan membaca, berdiskusi, dan mengeksplorasi pengetahuan sering kali terbentuk pertama kali di lingkungan rumah.
Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan membutuhkan keterlibatan aktif orang tua dalam mendukung proses belajar anak.
Kolaborasi antara sekolah dan keluarga menjadi salah satu kunci penting untuk memperkuat fondasi pendidikan dasar.
Saatnya Membangun Ekosistem Pendidikan yang Lebih Kuat
Hasil TKA 2026 menunjukkan bahwa persoalan literasi dan numerasi di Indonesia tidak dapat diselesaikan melalui satu kebijakan atau program jangka pendek.
Sebagaimana disampaikan Indra Charismiadji, tantangan yang dihadapi pendidikan dasar merupakan persoalan ekosistem yang melibatkan banyak faktor sekaligus.
Mulai dari budaya belajar, metode pembelajaran, kualitas guru, peran keluarga, hingga pemerataan akses pendidikan perlu diperbaiki secara bersamaan.
Karena itu, fokus perbaikan tidak boleh hanya tertuju pada hasil asesmen, tetapi juga pada proses yang membentuk capaian tersebut.
Literasi dan Numerasi Menentukan Masa Depan Bangsa
Kemampuan literasi dan numerasi bukan sekadar indikator akademik, melainkan fondasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas.
Jika kemampuan dasar ini masih rendah, maka tantangan yang lebih besar akan muncul ketika generasi muda harus menghadapi transformasi teknologi, ekonomi digital, dan persaingan global.
Hasil TKA 2026 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa peningkatan kualitas pendidikan dasar tidak bisa ditunda.
Dengan membangun budaya belajar yang kuat, memperkuat kualitas pembelajaran, serta menciptakan kolaborasi yang lebih erat antara sekolah, guru, dan keluarga, Indonesia memiliki peluang untuk memperbaiki kualitas literasi dan numerasi generasi muda secara berkelanjutan.
Sebab pada akhirnya, kualitas pendidikan dasar hari ini akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.