Fenomena Lelah Mental Akibat Terlalu Berambisi pada Hasil Akhir

Pada zaman modern ini, kita sering mendengar istilah burnout atau kelelahan mental yang luar biasa akibat tekanan kerja. Banyak orang yang sudah mengorbankan waktu tidur, kesehatan fisik, bahkan waktu bersama keluarga demi mengejar sebuah target pencapaian karier atau bisnis. Melalui tayangan Inspirasi Quran yang mengupas Kajian Kitab Al Hikam, KH Abdullah Gymnastiar mengajak Sahabat MQ untuk mengevaluasi kembali tujuan terdalam dari setiap peluh yang kita keluarkan sehari-hari.

KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) menjelaskan bahwa letak kesalahan utama yang bikin manusia mudah stres adalah karena hati yang sudah terikat dan bergantung sepenuhnya pada hasil akhir. Kita sering kali mengira bahwa kebahagiaan, kecukupan, dan kesuksesan mutlak ditentukan oleh seberapa besar usaha fisik yang kita lakukan di dunia nyata. Anggapan keliru inilah yang membuat aktivitas mencari nafkah terasa bagai beban yang sangat menjerat dan menyiksa batin.

Ambiguitas tujuan hidup dan hilangnya nilai ibadah dari pekerjaan membuat jiwa kita menjadi cepat lelah dan hampa. Kita menjadi pribadi yang mudah kecewa saat kenyataan tidak berjalan lurus dengan ekspektasi yang sudah dibangun. Oleh karena itu, Sahabat MQ perlu memahami konsep manajemen hati agar setiap kerja keras yang dilakukan berubah menjadi ketenangan, bukan sumber stres.

Menempatkan Ikhtiar sebagai Ibadah dan Membebaskan Hati dari Hasil

Konsep yang diajarkan dalam Islam mengenai bekerja sangatlah menyejukkan batin kita semua. Ikhtiar atau usaha lahiriah adalah sebuah kewajiban dan bentuk ketaatan kita kepada perintah Allah, sehingga prosesnya bernilai ibadah yang mulia. Tugas kita sebagai manusia hanyalah berusaha dengan cara yang halal, jujur, dan seoptimal mungkin sesuai dengan batas kemampuan yang telah Allah titipkan.

Namun, setelah usaha maksimal dikerahkan, posisi hati Sahabat MQ harus segera dibebaskan dari intervensi atau ketergantungan terhadap hasil akhir. Hasil adalah wilayah prerogatif dan hak mutlak milik Allah subhanahu wa ta’ala yang tidak boleh kita campuri dengan rasa cemas kita. Dengan memisahkan secara tegas antara kewajiban berusaha dan hak Allah dalam menentukan takdir, kita akan terhindar dari penyakit stres.

Jika hasil yang didapatkan sesuai dengan harapan, kita akan bersyukur tanpa menjadi tinggi hati dan sombong. Sebaliknya, jika hasilnya belum sesuai, hati akan tetap tenang karena tahu bahwa Allah pasti merencanakan hal lain yang jauh lebih baik untuk kehidupan kita. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam setiap perbuatan melalui sabdanya:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

Artinya: “Sesungguhnya amalan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan Orang yang Mengombinasikan Usaha Maksimal dengan Tawakal Total

Mereka yang mampu memadukan antara kerja keras yang cerdas dengan rasa tawakal yang tinggi adalah pemenang kehidupan yang sesungguhnya. Mereka tidak akan pernah kehilangan arah hidup ataupun berputus asa meskipun bisnis mereka sedang jatuh atau karier mereka sedang mandek. Bagi tipe orang seperti ini, pujian manusia maupun materi duniawi bukanlah berhala utama yang harus dikejar mati-matian.

Sahabat MQ yang menempuh jalan tawakal ini akan selalu dinaungi oleh rasa cukup dan kemudahan dari arah yang tidak pernah diduga sebelumnya. Allah telah berjanji untuk menjadi penjamin tunggal bagi siapa saja yang mau menaruh rasa percaya dan kepasrahan-Nya secara penuh kepada-Nya. Janji suci yang sangat menenangkan ini tertuang indah dalam firman-Nya:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Artinya: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. At-Talaq: 3).