Ancaman Nyata “Phubbing” di Tengah Kehidupan Keluarga
Di era modern yang serbadigital ini, sebuah fenomena miris sering kali terjadi di mana dua orang duduk berdampingan namun masing-masing asyik menatap layar gawainya. Fenomena yang dikenal dengan istilah phubbing (phone snubbing) ini dibahas secara tajam dalam program Inspirasi Keluarga – Keluarga Bahagia bersama Dr. Ipah Saripah, M.Pd., seorang penggiat keluarga dari Giga Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa gawai secara perlahan bisa mengikis kedekatan emosional antar-pasangan tanpa disadari. Sahabat MQ, gawai yang semula diciptakan untuk mendekatkan yang jauh, justru kerap kali menjauhkan sosok nyata yang ada di depan mata.
Ketika perhatian lebih banyak tersedot oleh notifikasi media sosial atau pesan pekerjaan, pasangan akan merasa diabaikan dan ditempatkan pada nomor sekian dalam skala prioritas. Rasa sunyi di tengah keramaian rumah tangga ini menjadi pemicu utama munculnya kerenggangan batin yang mendalam. Kehadiran fisik tanpa disertai kehadiran pikiran seutuhnya adalah salah satu bentuk pengabaian emosional yang halus namun merusak kebahagiaan.
Islam mengajarkan agar setiap individu memberikan hak secara proporsional kepada lingkungan sekitarnya, terutama keluarga, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
إِنَّ لِزَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya pasanganmu memiliki hak atas dirimu.” (HR. Bukhari).
Menaruh gawai demi memberikan perhatian penuh kepada pasangan adalah bagian dari menunaikan hak emosional mereka yang wajib kita penuhi.
Mengapa Kualitas Pertemuan Jauh Lebih Utama daripada Kuantitas
Menghabiskan waktu bersama selama berjam-jam namun penuh dengan distraksi digital tidak akan pernah bisa menandingi kekuatan sepuluh menit interaksi yang fokus dan intim. Kualitas sebuah pertemuan diukur dari seberapa dalam detak emosi dan pikiran yang saling bertukar di antara suami dan istri. Ritual sederhana tanpa gawai ini memungkinkan terjadinya kontak mata yang tulus dan sentuhan fisik yang mampu menenangkan jiwa yang lelah.
Dalam durasi yang singkat namun intens tersebut, sepasang suami istri dapat saling berbagi cerita, tawa, bahkan keluh kesah terkecil yang mereka rasakan sepanjang hari. Sahabat MQ akan merasakan energi positif yang mengalir kembali, menyegarkan hubungan yang mungkin sempat terasa hambar akibat rutinitas. Dedikasi waktu yang murni ini menumbuhkan kembali perasaan dihargai dan dicintai dengan tulus oleh pasangan hidup.
Pentingnya menjaga kebersamaan yang bermutu ini juga selaras dengan firman Allah SWT yang memerintahkan manusia untuk saling memperlakukan pasangan dengan cara yang baik dalam Surat An-Nisa ayat 19:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
“Dan bergaullah dengan mereka secara patut.”
Bergaul dengan patut melibatkan pemberian perhatian yang utuh, mendengarkan keluh kesah mereka, dan menghormati keberadaan mereka seutuhnya di sisi kita.
Cara Membangun Rutinitas “Saling Cerita” yang Menyenangkan
Rutinitas ini dapat dimulai dengan menetapkan satu waktu khusus setiap harinya, misalnya sebelum tidur atau sembari menikmati teh hangat di sore hari. Buatlah kesepakatan bersama untuk meletakkan seluruh gawai di ruangan lain atau mengubahnya ke mode senyap selama sesi ini berlangsung. Fokuskan topik pembicaraan pada hal-hal personal yang menyenangkan, impian bersama, atau sekadar bertukar cerita lucu yang mencairkan suasana.
Jadikan momen ini sebagai zona bebas kritik dan evaluasi, di mana masing-masing pihak merasa bebas mengekspresikan diri tanpa takut disalahkan. Nikmati setiap detik kebersamaan dengan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran sosok penglipur lara di dalam kehidupan. Dengan konsistensi yang terjaga setiap hari, ritual kecil ini akan menjadi benteng pertahanan yang kokoh bagi keharmonisan rumah tangga Sahabat MQ.
Rasa syukur atas karunia pasangan hidup yang menenangkan hati digambarkan dalam doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an Surat Al-Furqan ayat 74:
رَبَّنَا هَب| لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”
Waktu berkualitas tanpa gawai adalah sarana nyata untuk mewujudkan pasangan sebagai qurrota a’yun atau penyenang hati yang sejati.