Menilik Fakta Persentase Sakit Medis Versus Nonmedis
Banyak orang mengira bahwa setiap gangguan kesehatan murni disebabkan oleh malafungsi organ tubuh atau serangan virus berbahaya. Padahal, jika dipetakan secara mendalam, sakit secara medis sebenarnya hanya mengambil porsi sekitar 30 persen dari total kasus yang ada. Sementara itu, 70 persen sisanya didominasi oleh faktor nonmedis yang sering kali luput dari pemeriksaan laboratorium rumah sakit. Sahabat MQ perlu membuka mata terhadap realitas ini agar tidak terjebak dalam pengobatan jasad yang tiada ujungnya.
Ketidakseimbangan dalam memahami porsi penyakit ini membuat banyak orang merasa frustrasi karena obat-obatan kimiawi tidak kunjung memberikan perubahan berarti. Ketika dokter menyatakan tidak ada kelainan fisik, di situlah indikasi besar bahwa sumber penyakit berada di ranah yang berbeda. Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan bahwa manusia diciptakan dengan komponen yang kompleks, tidak hanya sekadar tumpukan daging dan tulang:
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: “Dan demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (QS. Asy-Syams: 7-8).
Bahaya Tersembunyi dari Gangguan Gaib Luar dan Sisi Psikologis Diri
Dari total 70 persen penyakit nonmedis tersebut, pembagiannya kembali mengejutkan banyak pihak yang belum memahaminya. Sebesar 30 persen berasal dari faktor luar ghaib, seperti gangguan jin, sihir, maupun pandangan mata yang dengki (ain). Namun, porsi terbesar justru dipegang oleh diri sendiri, yaitu sebesar 40 persen yang bersumber dari gangguan psikis, kecemasan, dan emosi negatif yang tidak terkendali. Sahabat MQ harus waspada karena musuh terbesar yang memicu penyakit sering kali adalah pikiran dan luapan perasaan sendiri.
Kecemasan yang berlebihan terhadap masa depan dan ketakutan yang tidak beralasan memicu kontraksi hebat pada organ fisik, seperti lambung dan jantung. Kondisi jiwa yang lemah ini akhirnya dimanfaatkan oleh setan untuk memperparah keadaan dengan bisikan-bisikan yang melemahkan iman. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa mengajarkan doa perlindungan agar terhindar dari lilitan beban psikologis yang merusak kesehatan:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ
Artinya: “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari keluh kesah dan kesedihan, dari kelemahan dan kemalasan.” (HR. Bukhari).
Mengapa Kunci Kesembuhan Harus Dimulai dengan Kembali pada Diri Sendiri?
Ketika menyadari bahwa sebagian besar penyakit bersumber dari dalam diri, maka arah pengobatan pun harus segera diubah secara total. Berhenti menyalahkan lingkungan sekitar atau mencari kambing hitam atas kemalangan kesehatan yang sedang menimpa. Sahabat MQ diundang untuk duduk merenung, melakukan introspeksi mendalam, dan merapikan kembali tatanan hati yang sempat berantakan.
Kembali pada diri sendiri berarti berani mengakui kesalahan, menurunkan ego, dan memperbaiki hubungan dengan Sang Pencipta yang memegang kendali atas segala kehidupan. Langkah awal ini akan membuka sumbatan energi negatif yang selama ini mengendap di dalam tubuh dan menghalangi datangnya obat. Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan dengan tegas bahwa perubahan nasib, termasuk kesehatan, ada di tangan manusia itu sendiri:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).