Rahasia Di Balik Istilah Warak dalam Mengarungi Samudra Ilmu
Menuntut ilmu bukan sekadar menyerap informasi, melainkan sebuah perjalanan spiritual yang sakral. Sahabat MQ, di dalam Kitab Ta’lim al-Muta’allim, Syekh al-Zarnuji menekankan sebuah konsep penting bernama warak, yaitu sikap berhati-hati dalam menjaga diri dari perkara haram maupun syubhat. Sikap ini menjadi benteng utama agar hati tetap bersih dan mampu menerima pancaran cahaya ilmu tanpa penghalang.
Ketika kehati-hatian ini sirna, esensi utama dari belajar akan ikut lenyap dan berganti dengan kekosongan batin. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan yang sangat tegas mengenai pentingnya menjaga diri selama proses belajar. Kehilangan sifat ini bukan hanya menghambat proses belajar, melainkan memicu ancaman spiritual yang nyata bagi kehidupan seorang penuntut ilmu.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَتَوَرَّعْ فِي تَعَلُّمِهِ ابْتَلَاهُ اللَّهُ تَعَالَى بِأَحَدِ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ: إِمَّا أَنْ يُمِيتَهُ فِي شَبَابِهِ، أَوْ يُوقِعَهُ فِي الرَّسَاتِيقِ، أَوْ يَبْتَلِيَهُ بِخِدْمَةِ السُّلْطَانِ
Artinya: “Barang siapa tidak bersikap warak dalam menuntut ilmunya, maka Allah Ta’ala akan mengujinya dengan salah satu dari tiga hal: dimatikan di usia mudanya, ditempatkan di lingkungan orang-orang bodoh, atau diuji dengan menjadi pelayan penguasa.”.
Ancaman Hilangnya Keberkahan Umur dan Lingkungan yang Buruk
Sahabat MQ, salah satu dampak mengerikan dari hilangnya sifat warak adalah ancaman kematian di usia muda atau hilangnya keberkahan umur. Umur yang tidak berkah membuat waktu produktif terbuang sia-sia tanpa menghasilkan amal yang berbobot. Takdir ini merupakan pengingat bahwa kebersihan hati dalam menuntut ilmu berkorelasi langsung dengan ketetapan Allah yang dinamis dalam kehidupan sehari-hari.
Ujian berikutnya yang tidak kalah berat adalah ditempatkan di lingkungan yang dipenuhi oleh kebodohan dan kelalaian. Ketika seorang penuntut ilmu kehilangan benteng warak, mereka sering kali diletakkan di tengah masyarakat yang jauh dari zikir dan syariat. Lingkungan yang asing dari nilai-nilai agama ini lambat laun dapat mengikis sisa-sisa ilmu yang pernah dipelajari dengan susah payah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai pentingnya menjaga diri:
يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim: 6).
Bahaya Menjadi Budak Dunia dan Kehilangan Orientasi Akhirat
Hukuman ketiga bagi pengabaian sikap warak adalah terjebak dalam kesibukan duniawi yang melalaikan, seperti menjadi pelayan penguasa yang zalim atau sibuk dengan urusan birokrasi tanpa nilai ibadah. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mengajar dan menyebarkan kebaikan akhirnya habis untuk urusan kedinasan yang tidak berujung. Ilmu agama yang berharga menjadi tersia-siakan akibat ambisi duniawi semata.
Sinergi antara menjaga makanan yang halal, menjaga lisan, serta menjaga adab kepada guru merupakan kunci utama agar terhindar dari tiga petaka ini. Tanpa warak, seorang penuntut ilmu hanya akan mendapatkan lelah tanpa membawa pulang keberkahan yang sejati. Keberhasilan hakiki senantiasa bertumpu pada keridaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan dalam sebuah hadis:
تَعِسَ عَبْدُ الدِّيْنَارِ وَعَبْدُ الدِّرْهَمِ
Artinya: “Celakalah budak dinar dan budak dirham.” (HR. Bukhari).