Dampak Lingkungan Pergaulan Terhadap Karakter Penuntut Ilmu
Sahabat MQ, karakter seseorang sering kali terbentuk dari dengan siapa mereka menghabiskan waktu sehari-hari. Dalam dunia menuntut ilmu, memilih teman pergaulan yang tepat adalah bagian esensial dari menjaga sikap warak. Teman yang baik akan menjadi pengingat saat lalai, sementara teman yang buruk akan menjadi penarik menuju jurang maksiat.
Kitab Ta’lim al-Muta’allim memberikan panduan ketat agar menjauhi kelompok orang yang suka melakukan kerusakan dan maksiat. Energi negatif dari lingkungan yang rusak dapat meresap ke dalam jiwa seorang pelajar secara perlahan tanpa disadari. Perlindungan terhadap kebersihan pergaulan harus dijaga dengan penuh ketegasan demi keselamatan iman.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang penyesalan salah memilih teman:
وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَىٰ يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا يَا وَيْلَتَىٰ لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا
Artinya: “Dan (ingatlah) pada hari (kiamat) ketika orang yang zalim menggigit kedua tangannya, seraya berkata, ‘Wahai, sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul. Wahai, celaka aku! Sekiranya dulu aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku).'” (QS. Al-Furqan: 27-28).
Menghindari Ahli Maksiat dan Kaum Pengangguran yang Malas
Kelompok pertama yang harus dihindari oleh seorang penuntut ilmu adalah mereka yang gemar melakukan perbuatan maksiat. Kemaksiatan yang dilakukan secara terang-terangan dapat mengikis rasa takut kepada Allah dan mematikan cahaya ilmu di dalam dada. Berada di sekitar kemaksiatan secara terus-menerus lambat laun akan membuat hati terbiasa dengan dosa.
Selain pelaku maksiat, kaum pengangguran yang tidak memiliki semangat hidup dan malas berikhtiar juga harus dijauhi. Sifat malas adalah penyakit mental yang sangat menular dan dapat merusak produktivitas seorang penuntut ilmu. Berteman dengan orang yang kehilangan orientasi hidup hanya akan membuang waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk belajar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda mengenai pengaruh teman:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ
Artinya: “Seseorang itu tergantung pada agama teman dekatnya, maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat siapa yang digandengnya menjadi teman dekat.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).
Kekuatan Sinergi Melalui Doa Orang-Orang Saleh
Sebagai ganti dari pergaulan yang merusak, seorang penuntut ilmu dianjurkan untuk mendekatkan diri kepada ahli kebaikan. Mengambil keberkahan dari majelis orang-orang saleh dan meminta doa dari mereka adalah sarana efektif untuk meraih kesuksesan belajar. Doa tulus dari hamba-hamba Allah yang bertakwa memiliki kekuatan besar untuk membuka pintu kemudahan batin.
Sahabat MQ, penting juga untuk selalu menjaga sikap agar tidak menzalimi sesama manusia dalam interaksi sosial. Doa dari orang-orang yang teraniaya atau terzalimi adalah doa yang langsung menembus langit tanpa ada penghalang. Menjaga diri dari berbuat zalim adalah bagian inti dari warak yang akan menyelamatkan perjalanan keilmuan seseorang.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan tentang doa orang terzalimi:
وَاتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهُ لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ
Artinya: “Dan takutlah kamu akan doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doanya dengan Allah.” (HR. Bukhari).