Memahami Hakikat Fitnah Historis dengan Kacamata Iman yang Jernih
Lembaran sejarah Islam pernah melewati masa-masa kelam yang penuh ujian berupa ketegangan politik dan konflik internal di antara para sahabat setelah syahidnya Khalifah Usman bin Affan. Peristiwa pembunuhan tersebut membuka pintu fitnah besar yang menguji kekokohan barisan kaum muslimin kala itu. Bagi mata awam yang mengabaikan kacamata iman, kejadian-kejadian faksional tersebut sering kali disalahpahami sebagai perebutan kekuasaan yang profan.
Ahlusunah waljamaah menatap dinamika tersebut dengan penuh kearifan dan ketenangan jiwa yang bersumber dari prinsip husnuzan (berprasangka baik). Ketegangan yang terjadi antara kubu Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan radhiallahu anhum bukanlah didorong oleh ambisi duniawi yang rendah. Kedua belah pihak digerakkan oleh tanggung jawab besar untuk menegakkan keadilan dan menjaga stabilitas negara berdasarkan ijtihad masing-masing.
Sikap terbaik yang diadopsi oleh para ulama adalah mengunci lisan dari menganalisis konflik tersebut secara liar tanpa bekal ilmu yang memadai. Menghindari polemik sejarah yang tidak mendatangkan manfaat amal merupakan bukti kematangan berpikir seorang mukmin. Sahabat MQ perlu menyadari bahwa tugas hari ini adalah mengukir kesalehan pribadi, bukan bertindak sebagai hakim atas masa lalu yang telah berlalu.
Larangan Keras Mengungkit Luka Lama Berdasarkan Konsep Ijtihad
Kaidah emas yang wajib tertanam dalam benak setiap muslim adalah keyakinan bahwa para sahabat yang terlibat dalam perselisihan tersebut adalah para mujtahid yang tulus. Dalam dunia hukum Islam, seorang mujtahid mendapatkan garansi pahala atas curahan energinya dalam mencari kebenaran, terlepas dari apakah kesimpulan akhirnya tepat atau keliru. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menetapkan aturan baku ini melalui sabda beliau yang agung:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ وَاحِدٌ
artinya: “Apabila seorang hakim berijtihad lalu benar, maka baginya dua pahala. Dan jika ia berijtihad lalu keliru, maka baginya satu pahala.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Melalui kacamata hadis ini, kubu yang berada di atas kebenaran mendapatkan dua pahala, sementara kubu yang keliru dalam ijtihadnya tetap dianugerahi satu pahala serta ampunan dari Allah Subhanahu wa taala. Kenyataan bahwa para tokoh utama konflik seperti Ali dan Muawiyah tidak pernah saling mencaci maki membuktikan betapa mereka saling menghormati status kerasulan masing-masing.
Keberanian mengungkit-ungkit dan menyebarkan riwayat-riwayat palsu seputar keburukan mereka hanya akan mengotori kesucian hati dari sifat rida. Memahami konsep uzur ijtihad ini menuntun sahabat MQ untuk senantiasa menaruh rasa hormat yang tak tergoyahkan kepada seluruh generasi sahabat tanpa terkecuali.
Fokus pada Amal Sendiri dan Stop Menilai Dosa Orang Lain
Prinsip dasar akidah salaf menegaskan bahwa setiap manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas lembaran amalnya sendiri, bukan atas perbuatan generasi masa lalu. Allah Subhanahu wa taala telah menutup rapat tirai sejarah mereka dengan memberikan jaminan rida dan ampunan yang bersifat final. Membuang-buang waktu dalam perdebatan kusir mengenai siapa yang bersalah dalam Perang Siffin atau Perang Jamal adalah sebuah kesia-siaan yang nyata.
Kitab suci Al-Qur’an memberikan arahan teologis yang sangat tegas agar umat Islam memutus rantai perdebatan sejarah yang tidak produktif. Allah Subhanahu wa taala berfirman dengan kalimat yang penuh peringatan:
تِلْكَ اُمَّةٌ قَدْ خَلَتْ ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَلَكُمْ مَّا كَسَبْتُمْ ۚ وَلَا تُسْـَٔلُوْنَ عَمَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
artinya: “Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan dan bagimu apa yang telah kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta pertanggungjawaban tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 134).
Ayat yang agung ini memotong segala bentuk rasa ingin tahu yang tidak sehat dan mengarahkan fokus energi untuk mempersiapkan bekal menghadapi hari kiamat. Energi kedengkian yang muncul akibat membaca narasi sejarah yang menyimpang harus segera diredam dengan memperbanyak istigfar. Tugas utama sahabat MQ adalah memastikan bahwa lisan dan hati bersih dari noda kebencian terhadap sesama mukmin, terutama kepada para pembela awal agama ini.