Bahaya Sifat Riya dan Haus Pujian Makhluk

Penyakit rohani yang paling sering merusak nilai amal kebaikan manusia adalah sifat riya atau kecenderungan ingin dipuji oleh sesama makhluk. Ketika seseorang beribadah atau melakukan aksi sosial dengan tujuan utama agar dinilai saleh, dermawan, atau hebat, maka ia sedang membangun kebahagiaan di atas fatamorgana. Pujian manusia adalah sesuatu yang sangat semu, fluktuatif, dan sama sekali tidak memberikan manfaat spiritual bagi keselamatan di akhirat. Jiwa yang haus akan sanjungan akan selalu merasa lelah karena terus-menerus memakai topeng kepalsuan di hadapan publik.

Sahabat MQ perlu melatih diri untuk menyembunyikan amal kebaikan sebagaimana cara menyembunyikan aib-aib pribadi dari pandangan orang lain. Keikhlasan sejati ditandai dengan konsistensi dalam berbuat baik, tetap bersemangat saat sendiri maupun ketika berada di tengah keramaian. Pengakuan dari Allah Subhanahu wa taala adalah satu-satunya hal yang wajib dikejar karena Dialah yang memegang kendali atas segala balasan. Membebaskan diri dari ketergantungan terhadap penilaian makhluk akan mendatangkan kemerdekaan batin yang sangat luar biasa.

Perbuatan menyekutukan niat ibadah kepada selain Allah ini termasuk ke dalam syirik kecil yang sangat ditakuti merusak iman. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan kekhawatiran beliau yang mendalam kepada umatnya:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

“Sesungguhnya yang paling aku takuti menimpa kalian adalah syirik kecil. Para sahabat bertanya: Apakah syirik kecil itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Riya.” (HR. Ahmad). Berdoa memohon perlindungan dari sifat ini harus senantiasa dipanjatkan setiap hari.

Kesombongan Manusia yang Menolak Kebenaran

Sifat sombong sering kali merayap masuk ke dalam hati manusia secara halus tanpa disadari, terutama ketika merasa memiliki kelebihan ilmu, harta, atau status sosial. Kesombongan ini membuat seseorang merasa lebih tinggi daripada orang lain dan memandang rendah sesama dengan tatapan penuh penghinaan. Akibat yang lebih fatal adalah tertutupnya pintu hati dari menerima nasihat kebaikan dan kebenaran yang datang dari orang lain yang dianggap lebih rendah. Jiwa yang sombong akan selalu merasa terancam dan tidak akan pernah merasakan kedamaian batin yang sejati.

Sahabat MQ semestinya merenungkan kembali asal-usul penciptaan manusia yang berasal dari sesuatu yang lemah dan tidak memiliki daya apa pun tanpa pertolongan Allah. Segala kelebihan yang melekat pada diri saat ini hanyalah ujian titipan yang bisa diambil kembali oleh Pemiliknya dalam sekejap mata. Menatap diri dengan penuh kerendahan hati atau tawaduk akan membuat seseorang lebih mudah bersyukur dan menghargai keberadaan orang lain. Hanya dengan menurunkan ego, kedamaian dalam interaksi sosial dan kedekatan dengan Allah dapat terwujud.

Definisi kesombongan yang sesungguhnya telah dijelaskan secara gamblang agar manusia tidak salah dalam menilai kondisi hatinya sendiri. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai hakikat dari penyakit hati yang berbahaya ini:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan itu adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim). Jiwa yang memiliki sifat ini meskipun sebesar biji sawi akan terhalang dari merasakan indahnya aroma surga.

Mengobati Sakit Rohani dengan Memperbanyak Tobat dan Istigfar

Ketika hati mulai terasa sempit, gelisah tanpa sebab yang jelas, dan malas untuk menjalankan ketaatan, itu adalah sinyal kuat bahwa rohani sedang mengalami sakit. Tumpukan dosa dan kelalaian harian yang tidak segera dibersihkan akan membentuk noda hitam yang lama-kelamaan mengeraskan dinding hati. Solusi utama untuk mengembalikan kebugaran spiritual ini bukanlah dengan mencari hiburan duniawi yang melalaikan, melainkan dengan bersujud memohon ampunan. Memperbanyak membaca istigfar dengan penuh penghayatan akan meruntuhkan hijab yang membatasi datangnya cahaya petunjuk.

Sahabat MQ dapat mengawali proses kesembuhan ini dengan melakukan tobat nasuha, menyesali kesalahan masa lalu, dan bertekad kuat untuk tidak mengulanginya. Pintu ampunan Allah selalu terbuka lebar bagi setiap hamba yang mau datang bersimpuh mengakui segala kelemahan dan kekhilafannya. Menghadiri majelis ilmu dan berkumpul dengan orang-orang saleh juga menjadi terapi yang efektif untuk menyiram hati yang kering. Perjalanan tobat yang dilakukan secara konsisten akan mengubah pribadi yang penuh dosa menjadi kekasih Allah yang berjiwa tenang.

Kewajiban untuk selalu memperbarui tobat setiap waktu merupakan teladan langsung yang dicontohkan oleh Nabi yang maksum dari dosa. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda mengenai kebiasaan mulia beliau dalam memohon ampunan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, karena sesungguhnya aku bertobat kepada-Nya dalam sehari sebanyak seratus kali.” (HR. Muslim). Istigfar yang konsisten akan membuka jalan keluar dari setiap kesedihan hidup.