hukum

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Aksi begal masih menjadi salah satu bentuk kejahatan jalanan yang paling meresahkan masyarakat. Tidak hanya menyebabkan kerugian materi, tindak kejahatan ini kerap disertai kekerasan yang membahayakan keselamatan korban. Di berbagai daerah, terutama pada ruas jalan yang minim penerangan atau sepi aktivitas, kasus begal masih terus terjadi dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.

Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah muncul berbagai upaya untuk menekan angka kejahatan jalanan, termasuk gagasan pemberian sayembara bagi masyarakat yang membantu menangkap pelaku begal. Namun, sebelum membahas efektivitas berbagai kebijakan tersebut, pertanyaan mendasar yang perlu dijawab adalah mengapa kejahatan begal masih terus berulang meskipun berbagai langkah penegakan hukum telah dilakukan?

Begal Bukan Sekadar Kejahatan Pencurian

Dalam perspektif kriminologi, begal tidak dapat dipahami hanya sebagai tindak pencurian kendaraan atau barang milik korban.

Sebagian besar aksi begal melibatkan ancaman, intimidasi, bahkan kekerasan fisik terhadap korban. Hal inilah yang membuat dampaknya jauh lebih besar dibandingkan kejahatan terhadap harta benda pada umumnya.

Selain kerugian ekonomi, korban juga dapat mengalami trauma psikologis yang berkepanjangan sehingga memengaruhi rasa aman ketika beraktivitas di ruang publik.

Karena itu, penanganan kejahatan begal membutuhkan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada penangkapan pelaku, tetapi juga pada upaya pencegahan secara menyeluruh.

Kejahatan Jalanan Dipengaruhi Banyak Faktor

Fenomena begal tidak muncul karena satu penyebab tunggal.

Berbagai penelitian kriminologi menunjukkan bahwa kejahatan jalanan dipengaruhi oleh kombinasi faktor sosial, ekonomi, lingkungan, hingga lemahnya pengawasan di lokasi tertentu.

Kondisi lingkungan yang gelap, minim pengawasan, rendahnya aktivitas masyarakat pada waktu-waktu tertentu, hingga adanya peluang bagi pelaku sering kali menjadi faktor yang dimanfaatkan untuk melakukan aksi kriminal.

Di sisi lain, persoalan seperti pengangguran, tekanan ekonomi, pergaulan yang menyimpang, maupun residivisme juga dapat menjadi faktor yang berkontribusi terhadap munculnya kejahatan, meskipun tidak dapat dijadikan pembenaran atas tindakan kriminal.

Begal Harus Dipahami sebagai Persoalan Kriminologis yang Kompleks

Dalam perbincangan Sudut Pandang MQFM, Yogo Tri Hendiarto, S.Sos., M.Si., Pengamat Kriminologi sekaligus Sekretaris Program Studi Sarjana Kriminologi FISIP Universitas Indonesia, menjelaskan bahwa kejahatan begal merupakan fenomena yang memiliki banyak dimensi sehingga tidak dapat diselesaikan hanya dengan satu pendekatan.

Menurutnya, setiap tindak kejahatan lahir dari interaksi berbagai faktor, baik yang berasal dari individu pelaku maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

Yogo menilai bahwa ketika masyarakat hanya berfokus pada penangkapan pelaku, akar persoalan yang melatarbelakangi munculnya kejahatan berpotensi tidak terselesaikan.

Karena itu, upaya pemberantasan begal perlu disertai langkah-langkah preventif, mulai dari penguatan pengawasan lingkungan, peningkatan kesempatan ekonomi, hingga pembinaan terhadap kelompok masyarakat yang rentan terlibat dalam tindak kriminal.

Rasa Aman Menjadi Hak Masyarakat

Keberadaan aksi begal bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi juga menyangkut kualitas kehidupan masyarakat.

Ketika warga merasa tidak aman untuk beraktivitas, terutama pada malam hari, maka mobilitas, kegiatan ekonomi, hingga interaksi sosial dapat ikut terdampak.

Rasa takut yang muncul akibat maraknya kejahatan juga dapat menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap kemampuan sistem keamanan dalam memberikan perlindungan.

Oleh karena itu, menjaga keamanan ruang publik menjadi bagian penting dari pelayanan kepada masyarakat.

Pencegahan Lebih Efektif daripada Penindakan Semata

Dalam kajian kriminologi, penegakan hukum memang penting untuk memberikan efek jera kepada pelaku.

Namun, Yogo menekankan bahwa penindakan setelah kejahatan terjadi tidak selalu cukup untuk menurunkan angka kriminalitas dalam jangka panjang.

Pencegahan melalui perbaikan lingkungan, peningkatan patroli di kawasan rawan, pemasangan penerangan jalan, pemanfaatan teknologi pengawasan seperti CCTV, serta penguatan sistem keamanan lingkungan dapat mengurangi peluang terjadinya kejahatan.

Pendekatan ini dikenal sebagai upaya mengurangi kesempatan pelaku melakukan tindak kriminal, sehingga risiko kejahatan dapat ditekan sebelum terjadi.

Peran Masyarakat Tetap Penting dalam Pencegahan

Pemberantasan begal tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada aparat penegak hukum.

Masyarakat memiliki peran penting dalam membangun lingkungan yang aman melalui kepedulian terhadap kondisi sekitar, pelaporan dini apabila menemukan aktivitas mencurigakan, serta penguatan komunikasi di tingkat lingkungan.

Namun demikian, partisipasi masyarakat perlu tetap berada dalam koridor hukum dan tidak menggantikan fungsi aparat penegak hukum.

Kolaborasi yang baik antara masyarakat dan kepolisian akan lebih efektif dibandingkan tindakan yang berpotensi menimbulkan risiko baru.

Penanganan Begal Membutuhkan Pendekatan yang Menyeluruh

Upaya mengatasi begal perlu dilakukan melalui kombinasi berbagai strategi.

Penegakan hukum yang tegas harus berjalan beriringan dengan pencegahan berbasis lingkungan, pendidikan, pemberdayaan sosial, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Selain itu, evaluasi terhadap kawasan yang rawan kejahatan juga perlu dilakukan secara berkala agar langkah-langkah pencegahan dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi di lapangan.

Pendekatan yang komprehensif akan memberikan hasil yang lebih berkelanjutan dibandingkan hanya mengandalkan tindakan represif.

Mewujudkan Rasa Aman Memerlukan Komitmen Bersama

Fenomena begal menunjukkan bahwa persoalan kejahatan jalanan tidak dapat diselesaikan melalui satu kebijakan atau satu pendekatan saja. Sebagaimana disampaikan Yogo Tri Hendiarto, kejahatan merupakan persoalan yang kompleks sehingga penanganannya harus dilakukan secara menyeluruh dengan menggabungkan penegakan hukum, pencegahan, serta penguatan kondisi sosial masyarakat.

Pada akhirnya, menciptakan rasa aman merupakan tanggung jawab bersama. Aparat penegak hukum memiliki peran dalam melakukan penindakan dan pengawasan, pemerintah bertugas memperkuat sistem keamanan publik, sementara masyarakat dapat berkontribusi melalui kewaspadaan dan kerja sama yang tetap berada dalam koridor hukum. Dengan sinergi tersebut, upaya menekan angka kejahatan begal diharapkan tidak hanya memberikan efek jera kepada pelaku, tetapi juga membangun lingkungan yang lebih aman dan nyaman bagi seluruh masyarakat.