Niat dan Memahami Penyebab Mandi Besar

Keraguan seputar sah atau tidaknya mandi wajib (mandi junub) sering kali menghantui dan menimbulkan penyakit was-was. Sahabat MQ, langkah paling awal untuk menghilangkan keraguan tersebut adalah dengan memahami niat yang benar. Niat tidak harus diucapkan secara lisan, cukup diyakinkan dalam hati bahwa aktivitas mandi yang dilakukan adalah untuk mengangkat hadas besar demi menjalankan ibadah.

Hadas besar sendiri bisa disebabkan oleh beberapa kondisi yang telah ditetapkan syariat, seperti bertemunya dua kemaluan, keluarnya air mani, selesainya masa haid, atau nifas. Mengetahui kapan diwajibkan mandi besar akan membuat seseorang lebih disiplin dan tidak menunda-nunda proses penyucian ini, agar ibadah wajib lainnya tidak terbengkalai.

Dalil mengenai kewajiban mandi besar ini sangat jelas tercantum dalam Al-Qur’an Surah Al-Ma’idah ayat 6:

وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا

(Dan jika kamu junub, maka mandilah.)

Tata Cara Mandi Junub Sesuai Tuntunan Rasulullah

Mandi wajib sejatinya sangat sederhana jika mengikuti tuntunan langsung dari Rasulullah. Sunnahnya dimulai dengan membasuh kedua telapak tangan, kemudian membersihkan kemaluan dari segala kotoran menggunakan tangan kiri. Setelah itu, dilanjutkan dengan berwudhu secara sempurna sebagaimana wudhu untuk salat.

Sahabat MQ, proses selanjutnya adalah menyela-nyela rambut kepala dengan jari yang basah hingga air menyentuh kulit kepala, lalu mengguyurkan air ke seluruh tubuh yang dimulai dari bagian kanan, baru kemudian bagian kiri. Pastikan air merata ke daerah lipatan-lipatan tubuh seperti ketiak dan pusar.

Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan tata cara mandi Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا اغْتَسَلَ مِنَ الجَنَابَةِ غَسَلَ يَدَيْهِ، ثُمَّ تَوَضَّأَ وُضُوءَهُ لِلصَّلاَةِ، ثُمَّ اغْتَسَلَ….

(Biasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila mandi junub, beliau mencuci kedua tangannya, kemudian berwudhu sebagaimana wudhunya untuk salat, kemudian mandi…)

Menghilangkan Was-was dari Setan

Perasaan tidak yakin apakah air sudah merata atau keraguan niat batal di tengah mandi adalah murni tipu daya setan. Setan selalu berusaha membuat ibadah terasa memberatkan. Sahabat MQ, kunci menepis was-was adalah dengan mengandalkan keyakinan dasar (yakin air sudah merata) dan mengabaikan keraguan yang datang tiba-tiba.

Jika sudah berusaha membasahi seluruh tubuh, tidak perlu mengulang-ulang siraman secara berlebihan yang berujung pada pemborosan air. Islam itu agama yang memudahkan, bukan menyulitkan pemeluknya. Yakini dalam hati bahwa Allah Maha Menerima niat baik hamba-Nya.

Teruslah menuntut ilmu agama agar fondasi keyakinan semakin kuat. Dengan ilmu yang benar, rasa was-was akan hilang dengan sendirinya, digantikan oleh ketenangan dalam menjalankan setiap syariat-Nya.