Adab Menghormati Ilmu dan Guru dalam Menuntut Ilmu
Adab menghormati ilmu adalah sikap memuliakan ilmu, guru, dan segala hal yang berkaitan dengan proses belajar. Dalam kitab Ta‘lim Muta‘allim, Syekh Az-Zarnuji menjelaskan bahwa seseorang tidak akan mendapatkan manfaat dari ilmunya tanpa menghormati ilmu dan ahlinya. Ilmu bukan hanya dihafal, tetapi juga diiringi dengan akhlak mulia kepada guru dan sumber ilmu.
Ilmu adalah cahaya, dan cahaya itu hanya akan masuk ke hati yang bersih dan penuh hormat. Rasulullah sallallahu alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim). Karena itu, setiap pencari ilmu wajib memiliki adab dalam menghormati ilmu, guru, dan kitab yang dipelajarinya.
Yang termasuk dalam ahlul ilmi orang yang harus dihormati adalah para ustaz, guru, dosen, kiai, dan siapa pun yang menjadi perantara kita memahami ilmu. Bahkan Sayyidina Ali karamallahu wajhah berkata, “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajarkan kepadaku satu huruf.” Ungkapan ini menunjukkan betapa tinggi penghargaan seorang ulama terhadap guru.
Seseorang yang tidak menghormati ilmu dan gurunya akan kehilangan keberkahan. Imam Sya’rani menegaskan, pelajar yang menghormati gurunya baik di depan maupun di belakangnya akan mendapatkan keberkahan ilmu. Sebaliknya, yang merendahkan guru akan dicabut keberkahannya. Rasa hormat bukan hanya bentuk sopan santun, tetapi juga kunci agar ilmu menembus hati dan membawa manfaat dunia-akhirat.
Adab terhadap ilmu tidak terbatas waktu dan tempat. Baik di pesantren, sekolah, majelis taklim, maupun dunia kerja, nilai-nilai takzim tetap harus dijaga. Hormat kepada guru di ruang kelas, menjaga sopan santun di lingkungan belajar, bahkan memuliakan kitab dan alat tulis termasuk bagian dari adab.
Bagaimana Bentuk Nyata Menghormati Ilmu? Syekh Az-Zarnuji memberikan beberapa tuntunan:
1. Tidak berjalan di depan guru dan tidak duduk di tempat beliau.
2. Menjaga ucapan tidak mendahului bicara sebelum diizinkan.
3. Menjaga waktu guru, tidak mengganggu saat beliau beristirahat.
4. Memuliakan kitab tidak meletakkan barang di atasnya, tidak menyentuh Al-Qur’an tanpa wudhu, dan menaruh kitab tafsir di tempat tertinggi.
5. Menjaga kesucian diri ketika belajar, Bahkan Imam Syamsul Aimmah menuturkan, “Aku mendapatkan ilmu ini karena senantiasa berwudhu ketika memegang kitab.” Beliau terus memperbarui wudhu meski dalam keadaan sakit, demi menjaga kesucian saat belajar.
Program: Inspirasi Malam – Kajian Ahklak
Narasumber: Ustadz Olis Abdul Kholis
Penyiar: Zaeni