anak sulit di atur

Mengapa Banyak Anak Sulit Diarahkan?

Dalam berbagai forum keluarga dan pendidikan, keluhan mengenai anak yang sulit dinasehati semakin sering terdengar. Anak-anak yang awalnya tampak penurut berubah menjadi sulit dikendalikan, melakukan maksiat, terpengaruh lingkungan yang buruk, atau menjauh dari nilai-nilai agama. Banyak orang tua merasa bingung, bahkan putus asa, meskipun sudah memberikan banyak nasihat, larangan, dan pengawasan.

Fenomena ini tidak hanya terjadi pada keluarga tertentu. Ia menjadi persoalan umum di masyarakat modern dimana gawai, media sosial, pergaulan bebas, dan pengaruh budaya luar begitu kuat menguasai perilaku anak. Namun dalam kajian Al-Hikam yang disampaikan KH. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), akar masalah ini ternyata tidak selalu terletak pada anak. Ada fakta yang lebih dalam dan jarang disadari banyak orang tua.

Ketika seorang jamaah bertanya mengenai anak laki-lakinya yang tenggelam dalam perilaku maksiat, Aa Gym memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus menyadarkan: “Tobat.” Bukan untuk sang anak tetapi untuk orang tuanya terlebih dahulu.

Mengapa Tobat Orang Tua Menjadi Kunci?

Jawaban ini terasa tidak biasa, tetapi sangat kuat secara teologis. Aa Gym mengutip firman Allah:

“Musibah apa pun yang menimpa kalian adalah karena perbuatan tangan kalian sendiri.”
(QS. Asy-Syura: 30)

Ayat ini menegaskan bahwa setiap masalah yang muncul dalam kehidupan, termasuk soal anak, tidak lepas dari keterlibatan diri kita. Bahkan ketika orang tua merasa telah melakukan yang terbaik, sering kali ada kekeliruan yang tidak disadari.

Dalam kajian tersebut, Aa Gym menyampaikan beberapa pertanyaan reflektif yang seharusnya ditanyakan setiap orang tua kepada dirinya sendiri sebelum menyalahkan anak:

  1. Sudahkah saya memberi teladan yang benar?

Anak meniru lebih banyak daripada mendengar. Jika orang tua:

  1. marah berlebihan,
  2. tidak menjaga lisan
  3. tidak disiplin ibadah,
  4. tidak jujur,
  5. atau tidak menjaga adab,

maka semua itu direkam oleh anak dan menjadi pola perilaku yang ditiru.
Rasulullah bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Teladan adalah pendidikan yang paling kuat. Tanpanya, nasihat tidak akan berpengaruh.

  1. Sudahkah saya mendidik dengan cara yang benar?

Banyak orang tua merasa sudah mendidik sebaik-baiknya. Padahal cara mendidik yang keras, penuh kemarahan, minim dialog, dan tidak memahami kebutuhan emosional anak justru menjauhkan anak dari agama.

Islam menekankan kelembutan dalam mendidik. Rasulullah bersabda:

“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu melainkan merusaknya.”
(HR. Muslim)

Pendekatan yang salah dapat merusak hati anak, sekalipun orang tua berniat baik.

  1. Sudahkah saya sungguh-sungguh mendoakan anak?

Doa orang tua adalah senjata paling ampuh dalam pendidikan. Banyak orang tua rajin menasehati anak, tetapi jarang berdoa untuknya dengan penuh kesungguhan, terutama di waktu-waktu mustajab.

Sedangkan para nabi memberi teladan jauh sebelum memiliki anak. Nabi Ibrahim berdoa:

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan keturunanku termasuk orang-orang yang mendirikan shalat.”
(QS. Ibrahim: 40)

Doa bukan pelengkap pendidikan, melainkan pondasinya.

  1. Sudahkah saya menjaga keberkahan makanan dan lingkungan anak?

Berkah bukan sekadar banyak atau sedikit, tetapi keberkahan menentukan kebeningan hati seorang anak. Jika keluarga mengkonsumsi harta yang haram atau syubhat, maka doa sulit dikabulkan dan hati anak menjadi keras.

Rasulullah menggambarkan orang yang berdoa namun makanannya haram:

“Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?”
(HR. Muslim)

Selain makanan, lingkungan bermain, tontonan, pergaulan, dan pendidikan anak harus dipilih dengan bijak. Tanpa itu, nasihat akan sulit masuk ke dalam hatinya.

Kesalahan Terbesar, Mengandalkan Nasihat, Bukan Keteladanan

Mengapa Anak Tidak Mengikuti Perintah Orang Tua?

Menurut Aa Gym, banyak orang tua mengira bahwa anak jauh dari agama karena kurangnya nasihat. Padahal penyebab yang lebih utama adalah kurangnya keteladanan.
Anak yang sering mendengar orang tua berkata “shalatlah”, “jangan marah”, “jangan berbohong”, tetapi melihat orang tuanya melakukan sebaliknya, akan bingung. Mereka menangkap kontradiksi antara ajaran dan realitas.

Inilah sebabnya banyak anak berkata dalam hati:
“Kalau shalat membuat orang pemarah, buat apa aku shalat?”
“Kalau ibadah membuat orang tidak sabar, mengapa aku harus ikut?”

Ketika perilaku orang tua tidak sejalan dengan ucapan, anak kehilangan rasa hormat terhadap nilai yang diajarkan. Inilah yang disebut oleh Aa Gym sebagai pendidikan yang kontradiktif nasihat yang bertentangan dengan contoh nyata.

Sebaliknya, orang tua yang memperbaiki diri secara konsisten akan memudahkan Allah membuka hati anak-anak mereka. Ketika orang tua berubah, Allah akan memberikan pertolongan dalam bentuk yang tidak disangka-sangka:
– anak yang dulu keras menjadi lembut,
– anak yang dulu jauh dari agama menjadi dekat,
– anak yang dulu sulit diarahkan mulai menemukan jalan pulang.

Kunci Perbaikan Anak Dimulai dari Orang Tua

Kajian Al-Hikam ini memberikan pesan mendalam bahwa perbaikan anak dimulai dari perbaikan orang tua. Orang tua tidak boleh hanya menuntut anak berubah tanpa terlebih dahulu mengubah diri mereka.

Tugas orang tua bukan memaksa anak menjadi saleh, melainkan memperbaiki diri sehingga Allah melayakkan mereka memiliki anak yang mendapat hidayah.
Allah berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.”
(QS. Ar-Ra’d: 11)

Jika orang tua bertaubat, memperbaiki akhlak, memperbaiki ibadah, dan menjaga keberkahan rumah tangga, maka Allah-lah yang akan menuntun anak-anak mereka. Ketika orang tua berubah, keluarga berubah. Ketika keluarga berubah, Allah membuka jalan yang selama ini terasa buntu.