kesehatan mental

MQFMNETWORK.COM | Penggunaan istilah “ODGJ” (Orang Dengan Gangguan Jiwa) kembali menjadi sorotan di tengah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental remaja Indonesia. Istilah ini diperdebatkan karena dinilai terlalu menyederhanakan kondisi yang sebenarnya kompleks. Di ruang publik, ODGJ sering langsung diasosiasikan dengan gangguan jiwa berat, padahal dalam konteks kesehatan, cakupannya jauh lebih luas.

Perdebatan ini semakin menguat setelah muncul data yang menyebut jutaan remaja masuk dalam kategori tersebut. Banyak pihak menilai, persoalan utamanya bukan hanya pada angka, tetapi pada cara istilah itu digunakan dan dipahami oleh masyarakat.

Spektrum Luas yang Kerap Disederhanakan

Dalam praktik medis, gangguan kesehatan mental berada dalam spektrum yang beragam mulai dari stres, kecemasan, depresi ringan, hingga gangguan berat yang membutuhkan penanganan intensif. Namun di masyarakat, seluruh spektrum ini sering kali dilebur dalam satu label: ODGJ.

Penyederhanaan ini menimbulkan konsekuensi serius. Remaja yang mengalami tekanan psikologis ringan bisa merasa terstigma, seolah-olah mereka berada dalam kondisi yang sama dengan gangguan berat. Akibatnya, tidak sedikit yang memilih untuk diam dan menyembunyikan kondisinya.

Framing Data dan Istilah Harus Tepat

Menurut Sayyid Muhammad Jundullah dari Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), penggunaan istilah dan penyampaian data harus dilakukan dengan hati-hati dan berbasis konteks.

Dalam perbincangan publik, ia menekankan bahwa angka besar yang beredar tidak bisa langsung diartikan sebagai lonjakan gangguan jiwa berat. Sebagian besar justru menggambarkan kondisi tekanan mental yang umum dialami remaja, seperti stres dan kecemasan.

Ia juga mengingatkan bahwa framing yang keliru dapat memperburuk stigma. Ketika istilah digunakan secara tidak tepat, masyarakat cenderung memberi label tanpa memahami kondisi sebenarnya. Hal ini berpotensi menghambat remaja untuk mencari bantuan.

Krisis yang Nyata di Balik Perdebatan

Di tengah perdebatan istilah, satu hal yang tidak bisa diabaikan adalah meningkatnya tekanan mental pada remaja. Berbagai faktor berkontribusi terhadap kondisi ini, mulai dari tuntutan akademik, tekanan sosial, hingga pengaruh media digital.

Remaja saat ini hidup dalam lingkungan yang serba cepat dan kompetitif. Mereka dihadapkan pada ekspektasi tinggi, baik dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Di saat yang sama, media sosial menciptakan standar kehidupan yang sering kali tidak realistis, memicu perbandingan yang berujung pada tekanan psikologis.

Kondisi ini diperparah dengan minimnya ruang aman untuk berbicara. Banyak remaja yang tidak memiliki tempat untuk mengekspresikan perasaan tanpa takut dihakimi atau disalahpahami.

Keterbatasan Layanan dan Literasi

Masalah kesehatan mental remaja juga diperburuk oleh keterbatasan sistem layanan. Jumlah tenaga profesional seperti psikolog dan psikiater masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia.

Selain itu, layanan kesehatan mental di tingkat dasar belum sepenuhnya optimal. Banyak kasus yang seharusnya bisa ditangani sejak dini justru terlewat karena kurangnya akses dan pemahaman.

Literasi kesehatan mental di masyarakat juga masih menjadi tantangan besar. Tidak sedikit orang tua yang belum mampu mengenali tanda-tanda awal gangguan psikologis, sehingga respons yang diberikan sering kali tidak tepat.

Mendorong Pendekatan yang Lebih Manusiawi

Perdebatan tentang istilah ODGJ seharusnya menjadi pintu masuk untuk memperbaiki cara pandang terhadap kesehatan mental. Bukan sekadar mengganti istilah, tetapi juga membangun pemahaman yang lebih utuh dan empatik.

Menurut Sayyid Muhammad Jundullah, pendekatan yang dibutuhkan adalah kombinasi antara edukasi, pencegahan, dan penguatan sistem layanan. Sekolah, keluarga, dan komunitas harus berperan sebagai ruang aman bagi remaja.

Penting untuk memastikan bahwa setiap remaja memiliki akses terhadap dukungan yang mereka butuhkan, tanpa takut dilabeli atau dihakimi. Dengan cara ini, isu kesehatan mental tidak lagi menjadi sesuatu yang ditakuti, tetapi dipahami dan ditangani bersama.

Di tengah perdebatan istilah, yang paling mendesak bukanlah apa sebutannya, melainkan bagaimana respons yang diberikan. Karena di balik istilah dan angka, ada jutaan remaja yang membutuhkan perhatian, pemahaman, dan dukungan nyata.