Kegelisahan di Tengah Hidup yang Terlihat Baik-Baik Saja
Di era modern, kegelisahan hati menjadi persoalan yang semakin jamak dirasakan. Banyak orang secara lahiriah tampak baik-baik saja. Pekerjaan ada, keluarga lengkap, aktivitas padat, bahkan sebagian telah mencapai posisi sosial yang mapan. Namun di balik semua itu, hati justru sering merasa kosong, mudah lelah, dan sulit merasakan ketenangan yang utuh.
Fenomena ini menjadi pembahasan dalam siaran Inspirasi Quran MQ FM Bandung bersama Ustaz Asdan. Beliau menjelaskan bahwa kegelisahan tidak selalu disebabkan oleh kekurangan materi, melainkan oleh hati yang kehilangan arah. Ketika hati tidak memiliki pegangan yang kokoh, maka ia mudah diguncang oleh perubahan keadaan, tekanan hidup, dan masalah yang silih berganti.
Islam memandang hati sebagai pusat kendali kehidupan manusia. Baik buruknya sikap, tenang atau gelisahnya jiwa, sangat ditentukan oleh kondisi hati. Karena itu, ketika hati tidak diarahkan dengan benar, maka ketenangan tidak akan pernah benar-benar hadir, meskipun kebutuhan lahiriah terpenuhi.
Allah mengingatkan tentang pentingnya hati dalam firman-Nya:
“Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami.”
(QS. Al-Hajj: 46)
Ayat ini menunjukkan bahwa hati bukan sekadar organ emosional, tetapi pusat kesadaran dan pemahaman manusia.
Hati yang Mudah Berbolak-Balik dan Rentan Dikuasai Emosi
Ustaz Asdan menjelaskan bahwa kegelisahan hati berakar dari sifat dasar hati manusia yang mudah berubah. Rasulullah ﷺ menyebut hati sebagai sesuatu yang cepat berbolak-balik. Tanpa pegangan yang kuat, hati akan mudah dipengaruhi suasana, perkataan orang lain, dan kondisi lingkungan.
Ketika hati tidak diikat dengan Al-Qur’an, emosi negatif dengan mudah mengambil alih. Rasa iri muncul saat melihat keberhasilan orang lain. Amarah meledak ketika keinginan tidak terpenuhi. Kekecewaan menumpuk saat realitas tidak sesuai harapan. Dalam jangka panjang, kondisi ini melahirkan kelelahan batin dan kegelisahan yang berkepanjangan.
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa khusus untuk kondisi ini:
“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku diatas agama-Mu.”
(HR. Tirmidzi)
Doa ini menjadi bukti bahwa bahkan Rasulullah menyadari betapa rapuhnya hati manusia jika tidak dijaga dan diarahkan oleh Allah.
Tanpa bimbingan wahyu, hati akan mencari pegangan pada hal-hal duniawi. Padahal dunia bersifat tidak stabil. Ketika dunia dijadikan sandaran utama, maka kegelisahan menjadi konsekuensi yang tidak terhindarkan.
Al-Qur’an sebagai Penenang Jiwa dan Penata Batin
Dalam siaran tersebut, Ustaz Asdan menegaskan bahwa Al-Qur’an memiliki fungsi utama sebagai penenang jiwa. Ketenangan ini tidak hadir secara instan, tetapi tumbuh perlahan seiring kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an melalui tilawah dan tadabbur.
Tilawah Al-Qur’an menghadirkan ketenangan karena ia adalah kalam Allah. Setiap ayat yang dibaca membawa energi ketentraman bagi hati yang mau mendengarkan. Sementara tadabbur membuat seseorang memahami bahwa apapun yang ia alami bukanlah sesuatu yang lepas dari kehendak Allah.
Allah berfirman:
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa ketenangan sejati bukan berasal dari perubahan keadaan, melainkan dari hubungan hati dengan Allah. Al-Qur’an menjadi sarana utama untuk membangun hubungan tersebut.
Ketika seseorang rutin membaca dan merenungi Al-Qur’an, pikirannya menjadi lebih jernih. Ia tidak mudah bereaksi berlebihan terhadap masalah. Ia mulai mampu membedakan antara hal yang harus dikejar dan hal yang perlu dilepaskan. Inilah awal tertatanya jiwa.
Menata Jiwa Berarti Mengarahkan Cara Pandang Hidup
Ustaz Asdan menjelaskan bahwa menata jiwa tidak cukup dengan meredam emosi, tetapi dengan mengarahkan cara pandang hidup. Al-Qur’an mengajarkan cara melihat masalah sebagai ujian, bukan ancaman. Mengajarkan cara melihat kekurangan sebagai ladang sabar, bukan sumber putus asa.
Ketika cara pandang berubah, respon terhadap masalah pun berubah. Ujian tidak lagi melahirkan kepanikan, tetapi kesadaran. Kesulitan tidak lagi memicu keputusasaan, tetapi dorongan untuk mendekat kepada Allah.
Allah berfirman:
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini mengajarkan bahwa ujian adalah bagian dari kehidupan yang harus disikapi dengan kesabaran, bukan kegelisahan.
Al-Qur’an membantu manusia memahami bahwa tidak semua yang menyenangkan itu baik, dan tidak semua yang menyakitkan itu buruk. Dengan pemahaman ini, jiwa menjadi lebih stabil dan tidak mudah terguncang.
Tanda Jiwa yang Mulai Ditemani Cahaya Al-Qur’an
Dalam penjelasannya, Ustaz Asdan menyebut bahwa orang yang jiwanya ditemani cahaya Al-Qur’an akan menunjukkan tanda-tanda tertentu. Ia lebih tenang dalam bersikap, tidak mudah meledak dalam emosi, dan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Ketika diuji, ia berusaha bersabar. Ketika diberi nikmat, ia bersyukur.
Ketenangan ini bukan berarti hidupnya tanpa masalah, tetapi ia memiliki kekuatan batin untuk menghadapinya. Orang seperti ini juga cenderung membawa ketenangan bagi orang di sekitarnya. Kehadirannya menenangkan, bukan membebani.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an adalah seperti buah utrujjah, baunya harum dan rasanya enak.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menggambarkan bahwa Al-Qur’an tidak hanya memberi manfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memancarkan kebaikan kepada lingkungan sekitar.
Dari sinilah kita memahami bahwa kegelisahan hati bukan tanda kurangnya kesibukan atau materi, tetapi tanda hati yang belum sepenuhnya terhubung dengan Al-Qur’an. Ketika hubungan itu terbangun, jiwa akan menemukan ketenangannya. Bukan karena hidup menjadi ringan, tetapi karena hati menjadi kuat.