MQFMNETWORK.COM | BANDUNG – Menghafal Al-Qur’an bukanlah perjalanan yang mudah. Dibutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, dan keteguhan hati untuk menjaga semangat di tengah rutinitas yang panjang. Namun, bagi Hafsah An-Najla, santriwati asal Magetan, Jawa Timur, setiap proses yang dijalani menjadi bagian dari ikhtiar untuk semakin dekat dengan Kalamullah.
Kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil. Dalam prosesi Haflah Takrim Tahfidz Al-Qur’an XIII Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia yang diselenggarakan pada Sabtu (27/6/2026), Hafsah menjadi salah satu santri yang diwisuda setelah berhasil menyelesaikan hafalan sebanyak 29 juz Al-Qur’an selama mengikuti Program Tahfidzul Qur’an.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa dengan bimbingan yang tepat, lingkungan yang mendukung, serta doa dari banyak pihak, impian menjadi penghafal Al-Qur’an dapat diwujudkan.
Perjuangan Menghafal 29 Juz Al-Qur’an dalam Waktu Satu Tahun
Keberhasilan Hafsah tidak diraih dalam waktu singkat tanpa tantangan. Selama kurang lebih satu tahun menjalani pendidikan di Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia, ia menjalani proses pembelajaran yang menuntut konsistensi, disiplin, dan kesabaran.
Setiap hari diisi dengan aktivitas murojaah (mengulang hafalan), menambah hafalan baru, menyetorkan hafalan kepada ustazah, hingga mengikuti berbagai pembinaan karakter yang menjadi bagian dari kurikulum pesantren.
Ketekunan tersebut mengantarkan Hafsah pada capaian yang membanggakan, yakni berhasil menghafal 29 juz Al-Qur’an. Prestasi itu tidak hanya menjadi kebahagiaan bagi dirinya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para santri lainnya untuk terus menjaga semangat dalam menapaki jalan sebagai penghafal Al-Qur’an.
Bagi Hafsah, kesempatan belajar di Baitul Quran merupakan karunia besar yang patut disyukuri. Ia menyadari bahwa perjalanan menghafal Al-Qur’an tidak mungkin dilalui seorang diri, melainkan berkat pertolongan Allah SWT serta dukungan dari banyak pihak.
“Saya merasa bersyukur telah diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menghafal Qur’an. Saya juga berterima kasih kepada semuanya yang telah memberi saya kesempatan untuk menghafalkan Al-Qur’an, khususnya kepada para donatur dan ustazah-ustazah yang telah membimbing saya selama pembelajaran. Semoga apa yang telah saya dapatkan di sini dapat memberikan manfaat untuk diri saya dan orang lain,” tutur Hafsah.
Ungkapan tersebut mencerminkan bahwa keberhasilan seorang penghafal Al-Qur’an bukan hanya tentang banyaknya ayat yang dihafal, tetapi juga tentang tumbuhnya rasa syukur, kerendahan hati, dan keinginan untuk menghadirkan manfaat bagi sesama.
Program Beasiswa Baitul Quran DT Peduli Bentuk Generasi Berakhlak dan Penghafal Al-Qur’an
Keberhasilan Hafsah juga menjadi gambaran nyata dari dampak Program Beasiswa Baitul Quran yang didukung oleh para donatur melalui DT Peduli. Program ini tidak hanya memberikan akses pendidikan bagi para santri untuk menghafal Al-Qur’an, tetapi juga menghadirkan pembinaan yang menyeluruh, mulai dari penguatan akhlak, kedisiplinan, hingga pembentukan karakter Islami.
Perubahan tersebut turut dirasakan oleh keluarga Hafsah. Hamzah, selaku wali santri, mengaku melihat perkembangan yang signifikan selama putrinya mengikuti pendidikan di Baitul Quran.
Menurutnya, program beasiswa yang dijalankan memberikan manfaat yang jauh lebih besar daripada sekadar membantu proses pendidikan.
“Alhamdulillah, dengan program beasiswa ini banyak manfaat yang kami rasakan. Terutama dari program tahfidz, kegiatan belajar mengajar, dan berbagai pembinaan lainnya yang sangat memengaruhi karakter anak. Banyak perubahan yang terlihat, terutama dalam akhlak, kedisiplinan, dan sikapnya. Harapan kami, semoga ke depan anak-anak yang mengikuti program ini bisa menjadi pejuang agama dan bermanfaat bagi banyak orang,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para donatur yang selama ini menjadi bagian penting dalam keberlangsungan program beasiswa Baitul Quran.
“Semoga Allah menambah keberkahan untuk Baitul Quran Daarut Tauhiid, para donatur, dan seluruh pihak yang terlibat dalam program beasiswa ini,” tambahnya.
Dukungan para donatur menjadi salah satu fondasi penting dalam mencetak generasi Qurani. Melalui kontribusi tersebut, semakin banyak anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia memperoleh kesempatan untuk belajar, menghafal Al-Qur’an, serta mendapatkan pendidikan karakter yang menjadi bekal dalam kehidupan.
Mengabdi Bersama DT Peduli, Melanjutkan Perjalanan Menebar Manfaat
Wisuda tahfidz bukanlah akhir dari perjalanan Hafsah. Sebaliknya, momen tersebut menjadi awal dari pengabdian yang lebih luas kepada masyarakat.
Setelah menyelesaikan Program Tahfidzul Qur’an di Baitul Quran Pesantren Daarut Tauhiid Indonesia, Hafsah akan melanjutkan masa khidmat bersama DT Peduli Jawa Timur. Pengabdian ini menjadi wadah untuk mengamalkan ilmu yang telah dipelajari sekaligus berkontribusi dalam berbagai aktivitas sosial, pendidikan, dan dakwah yang dijalankan DT Peduli.
Langkah tersebut sejalan dengan semangat Baitul Quran Daarut Tauhiid yang tidak hanya mencetak para penghafal Al-Qur’an, tetapi juga melahirkan insan-insan yang siap mengabdikan diri, memberikan manfaat bagi masyarakat, serta menjadi agen perubahan yang membawa nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah Hafsah An-Najla menjadi bukti bahwa setiap dukungan yang diberikan kepada pendidikan Al-Qur’an akan melahirkan manfaat yang berkelanjutan. Dari seorang santriwati yang tekun menjaga hafalan, tumbuh harapan akan hadirnya generasi Qurani yang tidak hanya mampu menghafal ayat-ayat Allah, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan serta menginspirasi masyarakat untuk terus menebarkan kebaikan.
(Kia/Cristi A. Sarif)