MQFMNETWORK.COM | Bandung Barat – Musibah longsor yang melanda Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu 24 Januari 2026, kembali mengingatkan bahwa bencana bukan sekadar peristiwa alam, tetapi juga ujian kesiapsiagaan manusia. Tragedi ini menelan puluhan korban jiwa dan memicu operasi pencarian serta penanganan darurat berskala besar.
Hingga proses evakuasi terakhir, tim SAR gabungan telah menemukan puluhan korban meninggal dunia. Upaya pencarian dilakukan dengan pola kerja on off demi menjaga keselamatan personel, mengingat kondisi lereng yang masih labil dan berpotensi longsor susulan.
Bencana Tidak Datang Sendiri
Pakar geologi longsoran dari Institut Teknologi Bandung, Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa longsor Pasirlangu merupakan hasil interaksi faktor alam yang kompleks dengan aktivitas manusia. Longsoran di bagian hulu menutup alur sungai dan membentuk bendungan alami. Ketika bendungan ini jebol, material lumpur, pasir, dan batu bergerak cepat mengikuti jalur sungai menuju kawasan permukiman.
Fenomena ini dikenal sebagai aliran lumpur atau mudflow, bahkan dapat berkembang menjadi aliran debris yang memiliki daya rusak sangat tinggi. Kondisi ini menjelaskan mengapa kerusakan parah terjadi hingga ke wilayah hilir yang tidak berada langsung di zona sumber longsor.
Tanggap Darurat Harus Cepat dan Terkoordinasi
Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jawa Barat, Teten Ali Mulku Engkun, menegaskan bahwa penanganan bencana longsor harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi lintas sektor.
Dalam wawancara yang mengudara di Radio MQFM Bandung pada program Sudut Pandang Jumat, 30 Januari 2026, Teten menyampaikan bahwa Kabupaten Bandung Barat dapat memanfaatkan sumber daya tingkat provinsi dalam situasi tanggap darurat.
Menurutnya, longsor dan banjir bandang membutuhkan percepatan mobilisasi personel, logistik, serta alat berat. Basarnas berperan sebagai leading sector dalam pencarian dan penyelamatan, didukung oleh BPBD, TNI, Polri, relawan, dan unsur lainnya dengan pengawasan ketat aspek keselamatan.
Jawa Barat Etalase Bencana
Teten Ali Mulku Engkun juga menyebut Jawa Barat sebagai etalase bencana di Indonesia. Artinya, wilayah ini memiliki hampir seluruh potensi bencana yang ada, mulai dari longsor, banjir, gempa bumi, hingga pergerakan tanah.
Karena itu, pemahaman terhadap potensi bencana menjadi hal mendasar. Masyarakat dan pemerintah daerah didorong untuk mengenali lingkungan masing-masing, memahami jenis bahaya yang mengintai, serta menyiapkan langkah-langkah strategis yang relevan dengan kondisi wilayahnya.
Salah satu rujukan penting adalah platform INARisk yang memuat peta kerawanan bencana dan dapat diakses sebagai dasar perencanaan mitigasi.
Bencana Tidak Bisa Dihindari Mitigasi Jadi Kunci
Menurut Teten, bencana adalah keniscayaan yang tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun, dampaknya bisa diminimalkan melalui mitigasi yang tepat dan berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya kesadaran bencana di tingkat masyarakat, termasuk mengenali tanda-tanda alam yang sering diabaikan. Misalnya, aliran sungai yang tiba-tiba menyusut atau hilang saat hujan masih berlangsung dapat menjadi indikator adanya sumbatan di hulu.
Kesadaran ini perlu dibarengi dengan kesiapan jalur evakuasi, rambu peringatan, serta sistem peringatan dini yang terintegrasi.
Dari Tanggap Darurat ke Rehabilitasi
Pasca fase tanggap darurat, perhatian harus bergeser ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Penataan ulang kawasan zona merah menjadi agenda penting agar permukiman tidak kembali dibangun di wilayah berisiko tinggi.
Teten Ali Mulku Engkun menyebutkan bahwa rehabilitasi tidak hanya soal pembangunan fisik, tetapi juga pemulihan sosial dan psikologis warga terdampak. Hunian sementara menjadi bagian dari proses transisi menuju pemulihan yang lebih permanen dan aman.
Alarm Bagi Kita Semua
Longsor Pasirlangu bukan hanya duka bagi Kabupaten Bandung Barat, tetapi juga alarm bagi seluruh Jawa Barat. Peristiwa ini mengingatkan bahwa mitigasi tidak bisa ditunda dan kesiapsiagaan harus dibangun jauh sebelum bencana terjadi.
Ketika masyarakat mengenali lingkungannya, memahami bahayanya, dan pemerintah menghadirkan langkah-langkah strategis yang tepat, maka risiko dapat ditekan. Di sinilah bencana tidak lagi sekadar tragedi, tetapi pelajaran penting untuk membangun ketangguhan bersama.