ar rahman ar rahim

Makna dan Hikmah Pengulangan Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam Surat Al-Fatihah

Tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang sanggup menghitung nikmat Allah, apalagi menjangkau hakikat rahmat dan kasih sayang-Nya. Dalam Al-Qur’an surat Ibrahim ayat 34, Allah SWT berfirman:

“Dan jika kamu hendak menghitung nikmat Allah, dengan alat tercanggih apapun, pastilah kamu tidak akan bisa menghitungnya.”

Betapa banyaknya nikmat dan rahmat Allah yang Dia berikan kepada kita sebagai makhluk-Nya.

Namun, mengapa dalam pembukaan Al-Qur’an, yaitu surat Al-Fatihah — yang kita baca minimal 17 kali sehari semalam dan menjadi inti dari setiap rakaat sholat serta syarat sahnya sholat — Allah SWT menekankan dua sifat-Nya yang sama, yaitu ar-Rahman dan ar-Rahim, bahkan pengulangan itu terjadi dua kali? Pertama di ayat pembuka Bismillahirrahmanirrahim, dan kedua di ayat ketiga ar-Rahmanirrahim.

Ayat ketiga surat Al-Fatihah menyimpan rahasia ilahi yang menakjubkan. Di satu sisi, ayat ini mengingatkan bahwa rahmat Allah meliputi segala sesuatu: dari hembusan nafas hingga pancaran matahari, dari air hujan hingga bisikan hati seorang yang berdzikir. Di sisi lain, perbedaan nuansa antara ar-Rahman dan ar-Rahim membuka cakrawala tafsir yang sangat luas, termasuk rahasia dan hikmah mengapa Allah mengulang kedua kalimat tersebut dalam surat Al-Fatihah.

Ar-Rahman berarti kasih sayang Allah untuk semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, sedangkan Ar-Rahim adalah kasih sayang Allah yang khusus diberikan kepada orang yang beriman. Ar-Rahman sifatnya sementara, hanya ada di dunia. Maka, Allah memberikan ar-Rahman kepada semua makhluk-Nya, baik muslim maupun kafir, tumbuhan, binatang, dan lain-lain. Contohnya adalah pancaran sinar matahari, udara, air, kekayaan, dan kesehatan — semuanya adalah bentuk rahmat ar-Rahman Allah. Sedangkan ar-Rahim, menurut para ulama, hanya khusus untuk orang yang beriman. Di dunia, wujud ar-Rahim Allah adalah hidayah kepada agama. Ketika kita merasakan nikmat dalam menjalankan ibadah, bersedekah, atau memaafkan, itu adalah rahim Allah di dunia. Sedangkan rahim Allah di akhirat adalah surga, karena tidak semua makhluk Allah dimasukkan ke dalam surga. Para ulama meneliti beberapa tafsir mengenai alasan pengulangan lafadz ar-Rahman, dan ar-Rahim di ayat ketiga. Salah satunya adalah pendapat Syekh Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir Al-Manar. Beliau menjelaskan bahwa hikmah pengulangan ini adalah untuk menegaskan bahwa tarbiyah (pendidikan dan pembinaan) Allah, sebagaimana disebut dalam ayat kedua Rabbil ‘Alamin, bukan atas dasar kebutuhan atau kepentingan Allah terhadap makhluk-Nya. Artinya, pendidikan, pembinaan, bimbingan, dan pemberian Allah kepada kita bukan karena Allah membutuhkan kita untuk meraih manfaat atau menolak mudharat, melainkan semata-mata karena rahmat dan kasih sayang Allah yang Dia curahkan kepada makhluk-makhluk-Nya. Allah Maha Kuasa dan Maha Kaya, tidak membutuhkan makhluk-Nya sedikit pun. Demikian pula tarbiyah syar’iyah, yaitu perintah dan larangan Allah, diberikan atas dasar kasih sayang-Nya. Allah tidak memerintahkan atau melarang untuk memberatkan atau menyusahkan hamba-Nya, tetapi semata-mata karena rahmat ar-Rahman dan ar-Rahim.

Dalam ilmu ushul fiqh, perintah dapat diklasifikasikan menjadi tiga:

1. Perintah yang menguntungkan pihak yang memerintah, sedangkan yang diperintahkan tidak mendapatkan keuntungan apa pun.

2. Perintah yang menguntungkan kedua belah pihak, baik yang memerintah maupun yang diperintahkan.

3. Perintah yang hanya menguntungkan yang diperintahkan, sementara yang memerintahkan tidak mendapatkan keuntungan apa pun.

Dalam konteks perintah dan larangan Allah, tentu tidak dimaksudkan untuk menyusahkan hamba, melainkan untuk kebaikan mereka berdasarkan rahmat-Nya. Dengan mengikuti petunjuk Allah SWT, manusia dapat meraih keselamatan di dunia dan akhirat.

Program: Inspirasi Quran – Tadabbur Al-Qur’an
Narasumber: Ustadz Firman Afifudin Saleh, M.Ag
Penyiar: Muhammad Huda