MQFMNETWORK.COM, Bandung – Wacana pendidikan militer bagi pelajar kembali mencuat setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyampaikan gagasan tersebut sebagai solusi atas maraknya kekerasan dan krisis kedisiplinan di sekolah. Wacana ini mendapat respons pro-kontra di mana ada yang menilai cara itu efektif membentuk karakter. Akan tetapi tak sedikit yang khawatir akan pendekatan yang terlalu keras dan bertentangan dengan prinsip pendidikan humanis.
Program tersebut digulirkan demi pendidikan karakter yang berbasis militer bagi siswa, khususnya yang dianggap bermasalah seperti terlibat tawuran, perundungan, atau kecanduan gim daring. Program tersebut direncanakan melibatkan TNI dan Polri, dengan pelatihan di barak militer mulai 2 Mei 2025.
Wacana ini memicu pro dan kontra, sebagian orang tua mendukung berharap pendekatan ini dapat membentuk disiplin dan tanggung jawab pada anak. Namun, sejumlah pihak termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), mengkritisi pendekatan ini sebagai bentuk hukuman yang bisa melanggar hak anak dan prinsip pendidikan inklusif.
Tantangan dan Realita Lapangan
Fenomena menurunnya karakter siswa menjadi perhatian serius. Indikator seperti meningkatnya kasus perundungan, rendahnya empati dan kurangnya disiplin menunjukkan adanya krisis karakter di kalangan pelajar. Pandemi Covid-19 turut memperburuk kondisi ini dengan pembelajaran jarak jauh yang mengurangi interaksi sosial dan pembinaan karakter secara langsung.
Data Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan pasca pandemi mencatat, secara rata-rata angka indeks untuk karakter siswa menurun dibandingkan hasil indeks tahun sebelum pandemi. Saat itu, indeks karakter siswa jenjang pendidikan menengah berada di angka 69,52, turun dua point dari angka indikatif tahun lalu (71,41).
Melihat fenomena itu, pendidikan karakter menjadi aspek krusial dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan empati terhadap sesama. Oleh karena itu, sejumlah pihak menilai, pendekatan dalam membangun karakter siswa perlu dirancang secara komprehensif dan berkelanjutan.
Potensi dan Tantangan
Pendekatan pendidikan militer dianggap memiliki potensi dalam membentuk disiplin dan tanggung jawab siswa. Melalui pelatihan yang terstruktur dan tegas, siswa diharapkan dapat mengembangkan sikap positif dan etos kerja yang tinggi.
Namun, pendekatan ini juga memiliki keterbatasan, kekhawatiran muncul terkait kemungkinan pendekatan yang terlalu keras dan tidak sesuai dengan prinsip pendidikan yang humanis. Selain itu, belum ada kajian komprehensif mengenai efektivitas pendidikan militer dalam konteks pembinaan karakter siswa di Indonesia.
Sebagai informasi, pendidikan di indonesia mengedepankan nilai-nilai pancasila, yang mencakup religiositas, nasionalisme, kemandirian, gotong royong, dan integritas. Pendekatan pendidikan militer perlu dievaluasi kesesuaiannya dengan nilai-nilai tersebut.
Pendidikan karakter yang efektif seharusnya mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dalam proses pembelajaran sehari-hari, bukan melalui pendekatan yang bersifat hukuman atau paksaan. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa setiap pendekatan dalam pendidikan karakter sejalan dengan prinsip-prinsip dasar pendidikan nasional.
Pengamat Pendidikan, Dosen Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Jejen Musfah, MA mengatakan, Hal fundamental yang perlu direvolusi adalah pendidikan dalam keluarga dan masyrakat. Tidak boleh terjebak hanya pada pendidikan militer, tapi juga alternatif lain seperti pesantren madrasah dan sebagainya yang memiliki succes story. Sejatinya, setiap anak memang perlu pendekatan yang berbeda-beda sehingga perlu ada pendidikan yang dinamis yang mampu membangun karakter anak tersebut.
Disamping itu, Ki Darmaningtyas mengungkapkan tri pusat pendidikan Ki Hajar Dewantara tidak sepenuhnya berfungsi. Peran keluarga sebesar 50 persen, pergaulan 20 persen, dan sekolah 30 persen. Perlu memperkuat pendidikan lingkungan keluarga dan juga harus ada evaluasi yang lebih mendalam dari para akademisi terkait dengan kebijakan tersebut.
Program: Bincang Sudut Pandang
Narasumber: Pengamat Pendidikan, Dosen Uin Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. Jejen Musfah, MA