tka

MQFMNETWORK.COM | Bandung – Hasil Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 untuk jenjang SD dan SMP kembali memunculkan perhatian publik. Data nasional menunjukkan bahwa capaian siswa, khususnya pada mata pelajaran Matematika, masih berada pada level yang memprihatinkan. Rata-rata nilai Matematika siswa SD tercatat 43,41, sementara siswa SMP berada di angka 40,34. Di sisi lain, nilai Bahasa Indonesia berada di kisaran 60 untuk kedua jenjang pendidikan tersebut. 

Temuan ini memunculkan pertanyaan besar, apakah rendahnya hasil TKA sekadar persoalan kemampuan akademik peserta didik, atau justru menjadi cerminan dari masalah yang lebih mendasar dalam sistem pendidikan nasional?

Bagi banyak pemerhati pendidikan, hasil TKA bukan sekadar angka statistik. Di balik angka tersebut tersimpan gambaran mengenai kualitas pembelajaran, efektivitas kebijakan pendidikan, kesiapan guru, hingga budaya belajar yang berkembang di masyarakat.

TKA Sebagai Potret Kondisi Pendidikan

Pemerintah sendiri menegaskan bahwa TKA tidak hanya berfungsi sebagai alat ukur kemampuan individu, tetapi juga sebagai instrumen untuk memetakan kondisi pendidikan secara lebih luas.

Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan sebelumnya menyebut bahwa hasil TKA merupakan gambaran nyata kondisi pendidikan yang ada saat ini dan dapat menjadi dasar evaluasi terhadap proses pembelajaran yang berlangsung di sekolah. 

Karena itu, ketika capaian numerasi siswa masih berada pada kisaran angka 40, banyak pihak menilai persoalan yang terjadi tidak dapat dilihat hanya dari kemampuan siswa semata.

Persoalan Pendidikan Bersifat Sistemik

Aktivis Pendidikan sekaligus Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, menilai rendahnya hasil TKA harus dipahami sebagai persoalan yang bersifat sistemik.

Dalam perbincangan mengenai hasil TKA 2026, ia menjelaskan bahwa kualitas pendidikan tidak dapat diukur hanya dari satu aspek. Menurutnya, capaian siswa merupakan hasil dari keseluruhan ekosistem pendidikan yang melibatkan kebijakan, kurikulum, guru, sekolah, keluarga, hingga lingkungan sosial tempat anak tumbuh.

Ia menilai bahwa rendahnya nilai TKA seharusnya menjadi alarm untuk melakukan evaluasi yang lebih menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional.

“Kalau hasilnya rendah, jangan langsung menyalahkan anak. Yang harus dilihat adalah sistem yang membentuk proses belajar mereka,” ujarnya.

Terlalu Fokus pada Administrasi

Menurut Indra Charismiadji, salah satu tantangan yang selama ini dihadapi dunia pendidikan adalah masih besarnya perhatian terhadap aspek administratif dibandingkan kualitas proses belajar.

Guru sering kali dibebani berbagai tugas administrasi yang menyita waktu dan energi mereka. Akibatnya, fokus terhadap pengembangan pembelajaran dan pendampingan siswa menjadi berkurang.

Padahal, menurutnya, kualitas interaksi antara guru dan peserta didik merupakan salah satu faktor terpenting dalam meningkatkan hasil belajar.

Ia menilai perbaikan pendidikan harus dimulai dengan mengembalikan fokus utama sekolah pada proses pembelajaran yang bermakna.

Literasi dan Numerasi Belum Menjadi Budaya

Rendahnya nilai Matematika dalam TKA juga menunjukkan bahwa persoalan numerasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Menurut Indra Charismiadji, kemampuan numerasi tidak cukup dibangun melalui hafalan rumus atau latihan soal semata.

Anak-anak perlu dibiasakan untuk berpikir logis, memecahkan masalah, dan memahami konsep dalam kehidupan sehari-hari.

Hal yang sama juga berlaku untuk literasi. Kemampuan membaca bukan hanya soal mengeja kata, tetapi memahami informasi, menganalisis gagasan, dan menarik kesimpulan secara kritis.

“Pendidikan seharusnya membangun cara berpikir, bukan hanya mengejar nilai ujian,” katanya.

Kurikulum Perlu Dievaluasi Secara Berkelanjutan

Dalam pandangan Indra Charismiadji, perdebatan mengenai kurikulum seharusnya tidak berhenti pada pergantian nama atau perubahan struktur mata pelajaran.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa kurikulum mampu menjawab kebutuhan peserta didik di era yang terus berubah.

Menurutnya, kurikulum harus memberi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, dan pemecahan masalah.

Kemampuan-kemampuan tersebut justru menjadi kompetensi yang paling dibutuhkan dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Peran Keluarga Tidak Bisa Diabaikan

Selain sekolah, keluarga juga memiliki peran besar dalam membentuk kualitas pendidikan anak.

Indra Charismiadji menilai bahwa proses pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Lingkungan keluarga merupakan tempat pertama anak belajar membangun kebiasaan membaca, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah.

Menurutnya, rendahnya capaian pendidikan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada sekolah.

Diperlukan kolaborasi yang lebih erat antara orang tua dan lembaga pendidikan agar proses belajar anak dapat berjalan secara optimal.

Ancaman bagi Kualitas SDM Masa Depan

Rendahnya hasil TKA bukan hanya persoalan pendidikan hari ini, tetapi juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

Jika kemampuan dasar seperti literasi dan numerasi masih rendah, maka daya saing generasi muda dalam menghadapi perkembangan teknologi, transformasi digital, dan persaingan global juga akan terpengaruh.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kemampuan membaca, memahami informasi, dan berpikir logis merupakan fondasi utama dalam pengembangan keterampilan yang lebih kompleks.

Karena itu, hasil TKA perlu dipandang sebagai peringatan dini yang harus segera ditindaklanjuti melalui langkah-langkah perbaikan yang konkret.

Momentum untuk Melakukan Pembenahan

Bagi Indra Charismiadji, hasil TKA 2026 seharusnya tidak hanya menjadi bahan diskusi sesaat setelah pengumuman nilai.

Menurutnya, temuan tersebut perlu dijadikan momentum untuk melakukan pembenahan pendidikan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas guru, penguatan budaya literasi, penyederhanaan beban administrasi sekolah, hingga penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak.

Ia menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak akan berubah hanya dengan mengganti kebijakan atau program secara berkala. Yang dibutuhkan adalah konsistensi dalam membangun ekosistem belajar yang sehat dan berkelanjutan.

Alarm yang Tidak Boleh Diabaikan

Hasil TKA SD-SMP 2026 menunjukkan bahwa Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar. Rata-rata nilai Matematika yang masih berada di kisaran angka 40 menjadi sinyal bahwa kemampuan numerasi siswa memerlukan perhatian serius. 

Sebagaimana disampaikan Indra Charismiadji, rendahnya capaian tersebut tidak dapat dilihat semata-mata sebagai kegagalan peserta didik, melainkan sebagai refleksi dari berbagai persoalan yang masih terjadi dalam ekosistem pendidikan nasional.

Jika Indonesia ingin mewujudkan visi pembangunan sumber daya manusia yang unggul menuju masa depan, maka hasil TKA tahun ini harus menjadi alarm yang mendorong evaluasi dan perbaikan nyata. Sebab kualitas pendidikan hari ini akan menentukan kualitas bangsa di masa yang akan datang.