MQFMNETWORK.COM | Bandung – Pembatasan penggunaan gawai di sekolah tidak akan berjalan efektif jika hanya dibebankan pada aturan tertulis. Kunci keberhasilannya justru terletak pada peran guru dan orang tua sebagai aktor utama dalam membentuk kebiasaan digital anak.
Di tengah derasnya arus teknologi, anak tidak cukup hanya diarahkan dengan larangan. Mereka membutuhkan pendampingan yang konsisten dan contoh nyata dari lingkungan terdekatnya.
Guru Bukan Sekadar Penegak Aturan
Di sekolah, guru berada di garda terdepan. Tidak hanya mengawasi kepatuhan siswa terhadap aturan gawai, tetapi juga menjadi teladan dalam penggunaan teknologi yang bijak.
Pengamat Pendidikan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr Jejen Musfah, MA, menilai bahwa guru memiliki peran strategis dalam mengarahkan fungsi gawai sebagai alat belajar, bukan sumber distraksi.
Menurut Jejen yang mengudara di Radio MQFM Bandung dalam program Sudut Pandang Selasa, 03 Februari 2026, kemampuan editorial dan pedagogik guru perlu terus ditingkatkan agar mampu mengelola pembelajaran di era digital. Guru tidak cukup hanya melarang, tetapi juga harus mampu menjelaskan alasan, dampak, dan alternatif penggunaan teknologi secara sehat.
Orang Tua Adalah Cermin Pertama Anak
Peran orang tua tidak kalah penting. Kebijakan sekolah akan kehilangan makna jika di rumah anak justru melihat kebiasaan sebaliknya.
Jejen menegaskan bahwa anak belajar dari apa yang mereka lihat setiap hari. Jika orang dewasa di rumah terus-menerus terpaku pada gawai, sulit mengharapkan anak mampu mengendalikan diri.
Praktik penggunaan gawai secara bijak harus dicontohkan secara konsisten, baik di sekolah maupun di rumah. Mulai dari membatasi waktu layar, memilih konten yang sehat, hingga membangun kebiasaan berdialog tanpa gawai.
Sinkronisasi Sekolah dan Rumah
Salah satu kelemahan kebijakan larangan gawai adalah kurangnya sinkronisasi antara sekolah dan keluarga. Anak sering berada dalam dua dunia yang berbeda.
Di sekolah mereka dibatasi, di rumah mereka bebas tanpa arahan. Ketimpangan ini justru berpotensi melahirkan kebingungan dan perilaku kompensasi penggunaan gawai secara berlebihan.
Jejen menilai bahwa komunikasi aktif antara sekolah dan orang tua harus diperkuat. Sosialisasi terkait peran gawai, literasi digital, dan etika bermedia perlu dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya saat muncul polemik.
Mendidik Bukan Mengisolasi
Tujuan pendidikan bukan menjauhkan anak dari realitas, tetapi menyiapkan mereka untuk hidup di dalamnya. Dunia digital adalah kenyataan yang tidak bisa dihindari.
Dengan peran guru dan orang tua yang selaras, sekolah dapat menjadi ruang pembelajaran yang aman sekaligus relevan. Anak tidak hanya patuh pada aturan, tetapi juga memahami makna di baliknya.
Di sinilah keberhasilan aturan gawai diuji. Bukan pada seberapa ketat larangan diterapkan, tetapi seberapa kuat nilai dan kesadaran yang tertanam dalam diri anak.