Esensi Ramadhan sebagai Syahrul Qur’an
Ramadhan sering kali disambut dengan gegap gempita persiapan fisik, mulai dari penyusunan menu sahur hingga persiapan pakaian lebaran. Namun, KH. Hery Saparjan mengingatkan bahwa hakikat Ramadhan adalah momentum untuk mendekatkan hati kepada Al-Qur’an. Jika Al-Qur’an benar-benar meresap ke dalam jiwa, seseorang akan merasakan kelembutan hati yang luar biasa dan kemudahan untuk tergerak melakukan kebaikan.
Interaksi dengan Al-Qur’an di bulan suci ini tidak boleh sekadar menjadi rutinitas tahunan yang tanpa makna. Sejatinya, Al-Qur’an hadir sebagai pembersih jiwa dan penata kembali hati yang mungkin sempat tercerai-berai oleh urusan duniawi. Ketika seseorang mulai merasakan getaran haru saat membaca ayat-ayat Allah, itulah tanda bahwa hidayah sedang bekerja di dalam batinnya.
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 185:
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِ
“Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Tanda Al-Qur’an Telah Masuk ke Dalam Hati
Salah satu indikator kuat bahwa Al-Qur’an telah menetap di hati adalah perubahan perilaku atau akhlak. Seseorang yang sebelumnya mudah marah akan menjadi lebih pemaaf, dan lisan yang biasanya gemar bergibah akan menjadi lebih terjaga. Al-Qur’an yang meresap ke hati akan memancarkan cahaya dalam bentuk sifat sabar, tenang, dan shalat yang jauh lebih khusyuk.
Selain itu, akan muncul rasa rindu yang mendalam untuk terus berinteraksi dengan kalam-Nya, bukan semata-mata demi mengejar target khatam. Rasa rindu ini lahir karena kesadaran bahwa manusia sangat membutuhkan bimbingan Tuhan dalam setiap helaan napasnya. Jika Al-Qur’an hanya berhenti di tenggorokan tanpa menyentuh hati, maka perubahan karakter yang mulia akan sulit untuk dicapai.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ
“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
Mewujudkan Akhlak Qur’ani Setelah Ramadhan
Tujuan akhir dari kedekatan dengan Al-Qur’an adalah terbentuknya pribadi yang bertakwa secara utuh. Ketakwaan tersebut tidak hanya tampak selama bulan suci, tetapi harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari setelah Ramadhan berlalu. Al-Qur’an harus menjadi standar moral dalam berbisnis, berkeluarga, dan bermasyarakat agar keberkahannya meliputi seluruh aspek kehidupan.
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai titik balik untuk tidak lagi menjadikan Al-Qur’an sebagai pajangan di lemari. Jadikan ia sebagai wirid harian yang menuntun setiap langkah kaki agar tidak terjerumus ke dalam kemaksiatan. Dengan hati yang diterangi cahaya wahyu, kita akan mampu menghadapi segala ujian hidup dengan penuh ketenangan dan keyakinan.
Sebagaimana Allah berfirman dalam surah Al-Anfal ayat 2:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakal.”