Qur'an

Meluruskan Niat di Tengah Gempuran Godaan

Menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan spiritual yang mulia, namun tantangan terbesarnya bukan pada proses menghafalnya, melainkan pada menjaga (murajaah) dan mengamalkannya. KH. Hery Saparjan menekankan bahwa kunci utama keistikamahan adalah niat yang murni karena Allah. Tanpa niat yang benar, hafalan akan terasa menjadi beban berat dan mudah hilang saat godaan duniawi datang menyapa.

Banyak penghafal merasa sulit menjaga konsistensi karena kurangnya doa memohon kekuatan. Kita harus menyadari bahwa kemampuan menjaga ayat adalah murni hidayah dan pertolongan Allah, bukan sekadar kekuatan memori manusia. Oleh karena itu, iringilah setiap proses menghafal dengan permohonan agar Allah menetapkan ayat-ayat-Nya di dalam dada dan perilaku kita sehari-hari.

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mengingatkan betapa mudahnya hafalan itu lepas:

تَعَاهَدُوا الْقُرْآنَ فَوَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَهُوَ أَشَدُّ تَفَصِّيًا مِنَ الإِبِلِ فِى عُقُلِهَا

“Jagalah Al-Qur’an! Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh Al-Qur’an itu lebih cepat lepasnya daripada unta dari ikatannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Strategi “Memaksakan Diri” Demi Keistikamahan

Istikamah sering kali menuntut pengorbanan berupa rasa malas dan lelah. KH. Hery menyarankan agar para penghafal memiliki sifat “bersungguh-sungguh” dan terkadang harus “memaksakan diri” untuk tetap murajaah meski jadwal sedang padat. Kedisiplinan adalah harga mati bagi siapa saja yang ingin hafalannya berbekas di hati.

Selain itu, cara terbaik agar hafalan terasa nikmat adalah dengan mentadaburi maknanya. Ketika kita mengerti apa yang kita baca, hati akan merasa tenang dan bahagia karena seolah sedang berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Menjelang Ramadhan, pilihlah waktu-waktu utama seperti setelah sahur untuk mengulang hafalan agar lebih melekat dan memberi energi spiritual bagi jiwa.

Allah SWT berfirman dalam surah Al-Ankabut ayat 49:

بَلْ هُوَ اٰيٰتٌۢ بَيِّنٰتٌ فِيْ صُدُوْرِ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَۗ

“Bahkan (Al-Qur’an) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berilmu…”

Mengamalkan Ayat Sebagai Bentuk Penjagaan Tertinggi

Hafalan yang paling kuat adalah hafalan yang diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. Menjaga lisan, berbakti kepada orang tua, dan amanah dalam bekerja adalah bentuk nyata dari pengamalan Al-Qur’an. Seorang penghafal Al-Qur’an memikul beban moral untuk menjadi teladan bagi sekitarnya, sehingga akhlaknya harus mencerminkan kemuliaan wahyu yang ia bawa.

Jangan pernah merasa puas hanya dengan banyaknya hafalan, tapi berusahalah agar setiap ayat mengubah satu demi satu kebiasaan buruk kita menjadi baik. Keistikamahan dalam beramal, meski sedikit, jauh lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang hanya dilakukan sesekali. Dengan begitu, Al-Qur’an akan menjadi sahabat sejati yang membimbing kita hingga ke surga-Nya kelak.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari:

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling kontinu (istikamah) meskipun sedikit.” (HR. Bukhari).