AL QUR'AN

Ketika Kita Mengira Al-Qur’an Hanya Memberi Pahala

Banyak umat Islam membaca Al-Qur’an setiap hari, tetapi tidak banyak yang memahami bagaimana posisi Al-Qur’an kelak di hari kiamat. Dalam siaran MQFM Bandung, Ustadz Suherman Ar-Razi menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Al-Qur’an tidak berhenti pada tilawah saja. Justru di akhirat nanti, Al-Qur’an akan hadir sebagai saksi bagi manusia dan saksi itu bisa memihak atau memberatkan.

Dalam kajian QS. Ath-Thariq ayat 13–17, dijelaskan bahwa Al-Qur’an bukanlah bacaan biasa. Ia adalah kalimat yang memiliki kedudukan besar, tegas, dan menentukan. Karena itu, siapa pun yang bersentuhan dengannya akan dimintai pertanggungjawaban. Ustadz Suherman mengingatkan bahwa kebaikan membaca Al-Qur’an tetap besar, tetapi pahala itu tidak cukup jika tidak diikuti dengan pengamalan.

Allah berfirman:

اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ ١٣ وَّمَا هُوَ بِالْهَزْلِۗ ١٤
“Sesungguhnya Al-Qur’an adalah perkataan yang memisahkan (antara benar dan salah). Dan Al-Qur’an itu bukan senda gurau.”
(QS. Ath-Thariq: 13 –14)

Ayat ini menjadi dasar bahwa Al-Qur’an membawa konsekuensi: siapa yang mengikutinya akan selamat, dan siapa yang mengabaikannya akan dimintai pertanggungjawaban.

Ketika Al-Qur’an Datang sebagai Pembela di Hari Kiamat

Dalam siaran MQFM, Ustadz Suherman menyampaikan bahwa banyak hadis sahih yang menggambarkan bagaimana Al-Qur’an akan membela orang-orang yang setia kepadanya. Al-Qur’an akan “membela” orang yang membaca dan berusaha mengikuti petunjuknya. Ia datang membawa syafaat bagi mereka yang dekat dengannya di dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“اقْرَؤُوا الْقُرْآنَ، فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ القِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ.”

“Bacalah Al-Qur’an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya.”
(HR. Muslim)

Syafaat ini tidak diberikan kepada semua orang, tetapi khusus diberikan kepada mereka yang:

  1. membaca Al-Qur’an dengan istiqamah,
  2. menjaga kehormatannya,
  3. berusaha memahami kandungannya,
  4. berusaha mengamalkan ajarannya.

Inilah yang disebut Ustadz Suherman sebagai “hubungan aktif” dengan Al-Qur’an. Hubungan yang bukan hanya lisan, tetapi hati dan perbuatan.

Namun Hati-Hati, Al-Qur’an Juga Bisa Menjadi Penuntut

Penjelasan penting yang disampaikan Ustadz Suherman adalah bahwa Al-Qur’an juga dapat menjadi penuntut di hari kiamat. Ayat-ayat yang pernah dibaca manusia akan menjadi saksi bahwa ia tahu kebenaran, tetapi tidak melaksanakannya. Inilah yang menjadi peringatan keras bagi orang yang hanya membaca Al-Qur’an tanpa berusaha mempraktekkannya dalam kehidupan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ”

“Al-Qur’an itu menjadi hujjah (pembela) bagimu atau justru menjadi penuntut atasmu.”
(HR. Muslim)

Ustadz Suherman menegaskan bahwa inilah maqam Al-Qur’an yang sering dilupakan. Banyak orang bangga membaca Al-Qur’an, tetapi masih bermaksiat, masih melalaikan shalat, atau tidak memedulikan batasan halal dan haram. Orang seperti ini justru terancam karena Al-Qur’an akan “berbicara” di hari kiamat:

  1. “Aku perintahkan ini, tetapi engkau tidak melaksanakannya.”
  2. “Aku melarang ini, tetapi engkau melanggarnya.”
  3. “Engkau membaca ayat-Ku, tetapi tidak mengindahkannya.”

Al-Qur’an bukan hanya menilai bacaan seseorang, tetapi ketaatan setelah bacaan itu dilakukan.

Empat Tahap Hubungan Manusia dengan Al-Qur’an

Dalam siaran MQFM, Ustadz Suherman menyebut ada empat tahap penting yang menentukan bagaimana posisi Al-Qur’an bagi seseorang kelak di hari kiamat:

  1. Membaca (Tilawah)

Ini adalah pintu awal. Pahala besar sudah dijanjikan bagi setiap huruf yang dibaca. Namun ini bukan tujuan akhir.

  1. Memahami (Tadabbur)

Tidak cukup membaca, ayat harus direnungkan. Tanpa memahami, seseorang tidak akan tahu apa yang harus ia lakukan.

  1. Mengamalkan (Tathbiq)

Ini adalah inti dari ketakwaan. Ayat-ayat diterapkan dalam kehidupan: ibadah, akhlak, keluarga, pekerjaan, dan hubungan sosial.

  1. Membela (Difa’i)

Bentuk tertinggi hubungan dengan Al-Qur’an membela ajaran-Nya, menjaga kehormatannya, dan tidak membiarkan wahyu diremehkan.

Empat tahap inilah yang menentukan apakah Al-Qur’an akan menjadi “pembela” atau “penuntut”.

Sahabat atau Saksi Berat? Kita yang Menentukan

Di akhir kajian, Ustadz Suherman menyampaikan pesan yang sangat menggetarkan hati,“Al-Qur’an akan memperlakukan manusia sesuai cara manusia memperlakukannya di dunia”.

Jika kita jadikan Al-Qur’an:

  1. cahaya jalan,
  2. petunjuk harian,
  3. sumber keputusan,
  4. dan bekal ibadah,

maka Al-Qur’an akan datang membela dengan sangat kuat di hari kiamat.

Tetapi jika Al-Qur’an hanya:

  1. hiasan rak,
  2. bacaan tanpa pengamalan,
  3. suara yang didengar tetapi tidak diikuti,

maka ia akan menjadi saksi yang menuntut seseorang di hadapan Allah.

Dan pada hari itu, tidak ada pembela yang lebih kuat daripada Al-Qur’an dan tidak ada tuntutan yang lebih berat daripada kesaksiannya