Jebakan Rasa Bangga yang Mengintai di Balik Ketaatan
Melakukan berbagai ritual ibadah secara rutin terkadang memunculkan sebuah celah berbahaya berupa rasa puas diri atau ujub yang sangat halus. Sahabat MQ perlu waspada karena perasaan merasa lebih saleh atau lebih istimewa dibandingkan orang lain sering kali menyelinap tanpa disadari di dalam kalbu. Ketika seseorang merasa bahwa kesalehan yang diraih merupakan hasil murni dari kehebatan pribadinya, di situlah awal mula kerugian spiritual terjadi.
Kelalaian mengontrol hati saat berada di puncak ketaatan dapat mengubah amal yang mulia menjadi sia-sia di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Menghargai proses hijrah dan perbaikan diri tentu sangat baik, namun menjadikannya sebagai alat untuk memandang rendah manusia lain adalah sebuah kekeliruan besar. Ketulusan dalam beramal menuntut jiwa untuk selalu merasa kerdil dan butuh terhadap pertolongan-Nya di setiap waktu.
Bahaya dari rasa bangga terhadap diri sendiri ini disebutkan dalam sebuah riwayat yang menjelaskan tentang perkara-perkara merusak bagi seorang mukmin:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم: اتَّقُوا الظُّلْمَ ؛ فَإنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ القِيَامَةِ . وَاتَّقُوا الشُّحَّ ؛ فَإِنَّ الشُّحَّ أهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ . حَمَلَهُمْ عَلَى أنْ سَفَكُوا دِمَاءهُمْ ، وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ
Artinya: Dari Jâbir bin ‘Abdillah Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Berhati-hatilah kalian terhadap kezhaliman karena kezhaliman itu adalah kegelapan-kegelapan di hari Kiamat. Dan berhati-hatilah kalian terhadap sifat kikir karena kekikiran itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Kekikiran itu mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan mereka.”
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Muslim (no. 2578), Ahmad (III/323), al-Bukhâri dalam al-Adabul Mufrad (no. 483), ‘Abd bin Humaid (no. 1141), al-Baihaqi (VI/93 dan X/134) dan dalam kitab Syu’abul Iimaan (no. 10338), dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah (no. 4161)
Mengetahui hadis ini mendorong diri untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak merasa bersih dari noda dosa.
Mengikis Sifat Kikir yang Dituruti dalam Kehidupan Sehari-hari
Sifat kikir bukan sekadar enggan berbagi harta benda, melainkan juga mencakup ketidakmauan untuk memberikan kelapangan hati dan maaf bagi sesama manusia. Sahabat MQ yang mendambakan kebahagiaan sejati dapat mengamati bagaimana keterikatan yang berlebihan pada ego sering membuat diri menjadi kaku dan egois. Ketika keinginan nafsu untuk mempertahankan kenyamanan pribadi terus dituruti, kelonggaran spiritual di dalam kalbu akan semakin menyusut.
Membiasakan diri untuk melonggarkan genggaman terhadap urusan duniawi merupakan bagian penting dari metode pembersihan jiwa atau muhasabah. Mengikuti dorongan untuk selalu mementingkan diri sendiri hanya akan melahirkan kecemasan baru yang tidak berujung dalam kehidupan bermasyarakat. Menolak untuk berbagi kebaikan sekecil apa pun lambat laun akan mengeraskan dinding pembatas kalbu dari limpahan rahmat-Nya.
Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan penegasan mengenai keberuntungan orang-orang yang mampu menjauhkan diri dari sifat kikir tersebut dalam Surah At-Taghabun ayat 16:
وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” Kelapangan untuk berinfak dan berbagi menjadi kunci pembuka pintu ketenangan.
Menata Niat Agar Terhindar dari Harapan Palsu Pujian Makhluk
Mengharapkan apresiasi atau ucapan terima kasih dari sesama manusia atas kebaikan yang telah diperbuat adalah bentuk halus dari ketergantungan pada makhluk. Sahabat MQ yang budiman tentu mengerti bahwa kekecewaan mendalam sering kali muncul akibat dari ekspektasi penghargaan yang tidak kunjung didapatkan. Ketika orientasi amal bergeser demi meraih simpati publik, energi batin akan terkuras habis untuk memuaskan penilaian yang berubah-ubah.
Melatih ketulusan batin berarti berani melakukan kebaikan secara sembunyi-sembunyi tanpa perlu menunjukkan eksistensi diri di ruang-ruang pujian duniawi. Fokus utama diubah sepenuhnya untuk mencari rida ilahi yang sifatnya abadi dan menentramkan jiwa dari kepalsuan apresiasi manusia. Kedamaian sejati akan terasa mengalir deras saat batin telah merdeka dari belenggu keinginan untuk selalu dianggap penting.
Keharusan menjaga kemurnian niat ini selaras dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surah Al-Bayyinah ayat 5:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.” Ayat ini menjadi pengingat abadi agar niat selalu terjaga dari noda ria.