MOVE ON

Masalah Hidup Tidak Akan Habis Sikap yang Salah Membuatnya Berat

Hidup tidak pernah bebas dari masalah. Setiap manusia diuji dalam berbagai bentuk: sakit yang datang tiba-tiba, rezeki yang naik-turun, hubungan keluarga yang rumit, tekanan pekerjaan, hingga cobaan dari lingkungan sosial. Namun dalam siaran MQ FM Bandung, Aa Gym menegaskan bahwa masalah bukanlah sumber penderitaan. Yang membuat masalah terasa berat adalah cara seseorang menyikapinya. Hati yang tidak bergantung kepada Allah akan merasa kewalahan meskipun menghadapi masalah kecil, sedangkan hati yang bertawakal dapat menghadapi ujian besar dengan tenang.

Pemateri membuka kajian dengan pelurusan penting: masalah dunia bukan alasan untuk meminta kematian. Banyak orang ketika tertekan merasa bahwa mati adalah jalan keluar. Padahal Rasulullah ﷺ melarang meminta mati karena beban hidup. Dalam siaran dijelaskan penyebabnya: kematian tidak selalu membawa istirahat. Jika amal seseorang sedikit, jika dosanya banyak, jika hidupnya belum dipenuhi taubat maka kubur bukan tempat istirahat, melainkan tempat azab. Alam kubur berlangsung sepanjang usia dunia. Jika dunia berjalan 10.000 tahun lagi, maka ia menanggung 10.000 tahun kondisi kuburnya.

Karena itu, yang perlu dilakukan bukan menghindar dari masalah, tetapi memperbaiki cara menghadapinya. Masalah adalah bagian dari skenario Allah alat penyucian jiwa dan pengangkat derajat. Ketika seseorang memahami bahwa masalah adalah bagian alami dari perjalanan menuju akhirat, ia berhenti mengeluh dan mulai memperbaiki hati. Dari sinilah lahir kesadaran bahwa yang perlu dibenahi bukan keadaan, tetapi diri. Ketika hati benar, masalah menjadi ringan. Ketika hati salah, nikmat pun terasa seperti masalah.

Rumus Sabar dan Syukur, Dua Sayap Hidup Orang Beriman

Dalam kajian tersebut, Aa Gym menjelaskan dua aset terbesar orang beriman: sabar dan syukur. Keduanya adalah dua sayap yang membuat seseorang mampu terbang melewati berbagai keadaan hidup. Ketika mendapat nikmat, ia bersyukur. Ketika mendapat ujian, ia bersabar. Dua-duanya adalah kebaikan, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi ﷺ bahwa keadaan orang beriman selalu berada dalam kebaikan baik ketika ia diberi nikmat maupun diuji.

Siaran memberikan ilustrasi sederhana bahwa syukur tidak harus menunggu nikmat besar. Sebuah jerawat kecil di hidung pun bisa menjadi bahan syukur karena Allah masih memberi kesehatan, organ tubuh masih lengkap, dan ujian itu kecil dibandingkan nikmat lain yang lebih banyak. Bahkan hilangnya dompet pun bisa dilihat secara positif: “Alhamdulillah yang hilang dompetnya saja, bukan celananya,” ujar Aa Gym dengan humor yang khas. Ini bukan candaan kosong, melainkan cara memandang hidup dengan hati yang bersyukur selalu melihat yang tersisa, bukan hanya yang hilang.

Sabar pun demikian. Sabar bukan pasrah atau tidak berbuat apa-apa. Sabar adalah aktif menjaga amal ketika diuji. Sabar berarti tetap salat dengan khusyuk, tetap jujur dalam kesempitan, tetap berbuat baik dalam tekanan. Sabar bukan sikap diam, tetapi sikap bertahan dalam ketaatan. Maka sabar dan syukur adalah dua energi spiritual yang membuat hidup lebih ringan. Tidak ada keadaan yang merugikan orang beriman; semuanya adalah cara Allah mendidik dan mengangkat derajatnya.

Ketika kedua sayap ini diterapkan, seseorang tidak lagi melihat masalah sebagai musuh. Masalah menjadi guru. Kesulitan menjadi proses pendewasaan. Dan nikmat menjadi pintu syukur. Hidup menjadi lebih lembut dijalani karena hati berada di tempat yang semestinya.

Puncak Pengelolaan Hati

Jika sabar dan syukur adalah sayap, maka ridha adalah puncak tertinggi ketenangan jiwa. Ridha bukan berarti seseorang tidak merasakan sedih, perih, atau lelah. Ridha berarti menerima sepenuhnya bahwa apa pun yang terjadi adalah ketetapan Allah. Dalam kajian, Aa Gym mengutip hadis riwayat Muslim yang melarang seseorang berkata: “Seandainya tadi aku melakukan ini, tentu akan jadi begitu.” Nabi ﷺ menjelaskan bahwa ucapan seperti itu membuka pintu setan. Yang benar adalah berkata: “Ini sudah takdir Allah, dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi.”

Ridha membuat seseorang berhenti hidup di masa lalu. Ia tidak lagi membayangkan skenario lain dari peristiwa yang sudah lewat. Ia tidak lagi menyalahkan orang lain atau menyalahkan takdir. Ia menerima, lalu melangkah. Ridha juga membuat seseorang tidak takut berlebihan terhadap masa depan. Ia tahu bahwa apa pun yang terjadi, Allah telah menuliskan takdir terbaik baginya. Ridha bukan pasif; ia adalah puncak ikhtiar dan tawakal. Seseorang tetap harus berusaha sekuat tenaga, tetapi setelah itu ia menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Inilah kemerdekaan sejati.

Dalam siaran, Aa Gym menjelaskan bahwa ridha dapat mengubah seluruh hidup seseorang. Masalah yang sama terasa berbeda ketika hati ridha. Ujian berat terasa ringan. Keadaan sulit terasa tertata. Hidup tidak lagi dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai perjalanan yang seluruhnya berada dalam genggaman Allah. Ridha membuat manusia menemukan ketenangan yang tidak tergoyahkan oleh keadaan apa pun.

Inilah rumus lengkap untuk “move on” dari masalah hidup sabar saat diuji, syukur saat diberi nikmat, dan ridho atas ketetapan Allah. Siapa yang mempraktekkannya akan merasakan hidup yang lebih damai, lebih kuat, dan lebih tenang. Masalah tetap ada, tetapi hati tidak lagi hancur karenanya.