Transformasi Hati Melalui Sikap Rida
Rida adalah sebuah pencapaian spiritual di mana seorang hamba menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada, baik itu yang manis maupun yang pahit. Dalam psikologi Islam, rida bukan berarti pasif atau menyerah pada nasib tanpa usaha, melainkan sebuah kondisi hati yang tetap tenang dan tidak bergejolak saat kenyataan tidak sesuai dengan keinginan. Ketika badai ujian datang, rida bertindak sebagai jangkar yang menjaga jiwa agar tidak karam dalam samudera kesedihan.
Banyak orang terjebak dalam penyesalan masa lalu yang berkepanjangan atau kecemasan masa depan yang berlebihan. Hal inilah yang sering kali menambah beban mental dan menciptakan kegelapan jiwa yang semakin pekat. Dengan bersikap rida, seseorang sebenarnya sedang memberikan izin kepada hatinya untuk beristirahat dari rasa lelah akibat menentang takdir yang sudah terjadi. Rida adalah obat yang mampu mengubah persepsi kita terhadap rasa sakit menjadi sebuah proses penyembuhan.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam memberikan gambaran yang sangat indah tentang bagaimana sikap rida dan sabar menjadi karakter utama seorang mukmin yang tangguh. Beliau bersabda dalam sebuah Hadis Riwayat Muslim:
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
“Sungguh menakjubkan keadaan orang mukmin, seluruh urusannya adalah baik dan itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali orang mukmin. Jika tertimpa kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika tertimpa kesusahan ia bersabar, maka itu baik baginya.”
Tawakal sebagai Puncak Ketenangan Jiwa
Sikap rida secara otomatis akan menuntun seseorang menuju puncak ibadah hati, yaitu tawakal atau berserah diri sepenuhnya kepada Allah. Tawakal adalah pengakuan bahwa setelah semua ikhtiar maksimal dilakukan, hasil akhirnya sepenuhnya berada di bawah kendali Sang Pencipta. Dengan bertawakal, kita memindahkan beban masalah dari pundak kita yang lemah ke dalam kekuasaan Allah yang Maha Kuat, sehingga tekanan batin yang dirasakan akan perlahan sirna.
Orang yang bertawakal tidak akan mudah hancur oleh kegagalan, karena ia yakin bahwa Allah selalu memiliki skenario yang lebih indah. Ia memahami bahwa apa yang melewatkannya memang tidak ditakdirkan untuknya, dan apa yang menimpanya tidak akan pernah bisa melesat darinya. Ketenangan ini muncul karena adanya rasa aman di bawah perlindungan Zat Yang Maha Mengatur Segala Urusan.
Janji Allah bagi mereka yang mampu menyandarkan urusannya dengan tulus sangatlah nyata. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ath-Thalaq ayat 3:
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ
“Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya.”
Meraih Balasan Rida Allah yang Hakiki
Puncak dari segala ketenangan adalah ketika seorang hamba tidak hanya rida kepada takdir Allah, tetapi ia juga meraih rida dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rida adalah jalan dua arah; jika kita rida dengan pemberian Allah yang mungkin tampak sedikit atau ujian yang terasa berat, maka Allah pun akan rida kepada kita. Tingkatan ini adalah kebahagiaan tertinggi yang bisa dicapai oleh jiwa manusia, baik di dunia maupun di akhirat.
Dunia ini hanyalah tempat persinggahan yang penuh dengan dinamika perubahan. Jika kita mencari ketenangan pada makhluk atau materi, kita akan sering kecewa. Namun, dengan mengejar rida Allah, kita sedang membangun fondasi kedamaian yang abadi. Ujian yang tadinya dianggap sebagai beban, justru akan dipandang sebagai “undangan” dari Allah agar kita terus mengetuk pintu rahmat-Nya melalui rida dan sabar.
Janji akan keharmonisan hubungan antara hamba dan Pencipta-Nya ini diabadikan dalam Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah ayat 8:
رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ
“Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.”