Persiapan Matang sebagai Kunci Keberhasilan Ibadah
Persiapan merupakan setengah dari keberhasilan, sebuah prinsip universal yang sangat ditekankan dalam urusan ibadah. K.H. Fahrudin dalam kajian Kitab Al-Hikam menjelaskan bahwa para ulama salaf terdahulu tidak pernah menganggap remeh kedatangan bulan Ramadan. Mereka telah mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelumnya, yakni mulai bulan Rabiulawal, sebagai bentuk penghormatan dan kerinduan yang mendalam terhadap bulan suci. Persiapan ini bukan sekadar euforia, melainkan upaya sistematis untuk memastikan bahwa saat Ramadan tiba, kondisi spiritual mereka sudah berada pada titik tertinggi.
Proses persiapan yang panjang ini bertujuan untuk membangun konsistensi dan ketahanan mental. Dengan memulai latihan beribadah jauh-jauh hari, para ulama memastikan bahwa jiwa mereka sudah terbiasa dengan ritme ketaatan, seperti memperbanyak shalat malam dan tilawah, sehingga tidak merasa kaget atau terbebani dengan perubahan pola hidup yang drastis saat Ramadan. Hal ini mencerminkan hikmah bahwa ibadah yang berkualitas tidak lahir dari keterpaksaan sesaat, melainkan dari pembiasaan yang dipupuk dengan penuh kesabaran selama berbulan-bulan.
Lebih jauh lagi, persiapan dini ini berfungsi sebagai penyaringan niat agar murni hanya karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam rentang waktu enam bulan tersebut, mereka melakukan introspeksi diri, membersihkan penyakit hati, dan menata ulang orientasi hidup mereka. Dengan demikian, ketika hilal Ramadan tampak, mereka tidak lagi sibuk beradaptasi dengan rasa lapar atau kantuk, melainkan langsung tancap gas untuk menyelami samudera ampunan dan keberkahan yang Allah hampiri di bulan tersebut.
Analogi yang menarik dipaparkan dalam video kajian adalah perbandingan dengan persiapan Piala Dunia yang dilakukan Qatar selama 12 tahun demi pertandingan yang hanya berlangsung singkat. Jika urusan duniawi yang fana saja memerlukan dedikasi tahunan, maka Ramadan yang menjanjikan pahala seribu bulan seharusnya mendapatkan perhatian yang jauh lebih besar. Hal ini selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Al-Hasyr ayat 18:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.”
Filosofi Menanam di Bulan Rajab dan Syakban
Memasuki bulan Rajab dan Syakban, intensitas persiapan spiritual harus semakin ditingkatkan karena kedua bulan ini adalah jembatan utama menuju Ramadan. Para ulama memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai urutan bulan-bulan ini: bulan Rajab adalah waktu untuk menanam benih-benih kebaikan, bulan Syakban adalah masa untuk menyiram dan memupuk tanaman tersebut agar tumbuh subur, sedangkan bulan Ramadan adalah saatnya memanen buah dari segala jerih payah yang telah dilakukan. Tanpa adanya proses menanam di bulan Rajab dan menyiram di bulan Syakban, mustahil seseorang akan mendapatkan panen raya ketakwaan yang manis saat Ramadan berakhir.
Pola ini mengajarkan kita tentang pentingnya proses dalam setiap pencapaian spiritual. Tidak ada ketaatan yang tumbuh secara ajaib tanpa usaha yang konsisten. Oleh karena itu, di bulan Rajab dan Syakban, seorang muslim dianjurkan untuk mulai memperbanyak puasa sunah dan istigfar sebagai bentuk “menyiram” hati yang kering. Dengan demikian, hati akan menjadi lembut dan siap menerima limpahan rahmat yang jauh lebih besar di bulan Ramadan nanti.
Persiapan ini diperkuat dengan doa yang masyhur dipanjatkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat sejak memasuki bulan Rajab untuk memohon keberkahan waktu:
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ
“Allahumma bariklana fi Rajaba wa Sya’bana wa ballighna Ramadhana.”
(Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syakban, serta sampaikanlah (usia) kami pada bulan Ramadan).
Target Utama Menjadi Hamba yang Bertakwa
Seluruh rangkaian persiapan yang dilakukan selama berbulan-bulan tersebut bermuara pada satu target utama yang telah ditetapkan oleh Allah, yaitu derajat takwa. Takwa bukan sekadar melakukan ritual ibadah secara fisik, melainkan lahirnya kesadaran mendalam dalam hati untuk selalu merasa diawasi oleh Allah sehingga timbul rasa takut untuk melanggar larangan-Nya dan semangat untuk menjalankan perintah-Nya. Ramadan adalah “madrasah” tahunan yang didesain khusus untuk melatih pengendalian diri dan ketajaman spiritual manusia.
Target ini sangat mahal harganya karena takwa adalah sebaik-baik bekal bagi seorang manusia untuk menghadap Sang Pencipta. K.H. Fahrudin mengingatkan bahwa keberhasilan Ramadan tidak dilihat dari seberapa mewah hidangan berbuka atau seberapa baru pakaian saat Idulfitri, melainkan dari seberapa besar perubahan perilaku dan kualitas iman seseorang setelah Ramadan berlalu. Persiapan yang matang sejak enam bulan sebelumnya akan membantu seseorang mempertahankan konsistensi takwa tersebut bahkan setelah bulan suci berakhir.
Tujuan besar ini tertuang jelas dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183 yang menjadi landasan utama perintah puasa:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”