Keluarga

Transformasi Menuju STA: Suami Takut Allah

Dalam membangun keluarga yang bahagia, Aa Gym sering menekankan pentingnya profil suami yang memiliki prinsip STA atau Suami Takut Allah. Sahabat MQ perlu memahami bahwa suami yang takut kepada Allah jauh lebih menenangkan daripada suami yang sekadar takut kepada istri. Jika seorang suami hanya takut kepada istrinya, ia mungkin akan berbuat baik hanya saat di depan mata, namun bisa jadi berbeda saat di belakang. Sebaliknya, suami yang takut kepada Allah akan selalu menjaga amanahnya karena ia sadar bahwa Allah Maha Melihat setiap gerak-geriknya.

Ketakwaan seorang suami akan memancar dalam cara ia memimpin dan menyayangi keluarganya. Ia tidak akan berlaku kasar atau zalim karena ia tahu bahwa kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Sang Pencipta. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 34 mengenai tanggung jawab seorang pemimpin keluarga:

الرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ

Artinya: Laki-laki (suami) adalah pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain, dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.

Suami yang memiliki ketakwaan kuat akan senantiasa berusaha membawa istri dan anak-anaknya menuju surga. Ia menjadi teladan dalam ibadah dan kesabaran, sehingga suasana rumah tangga pun menjadi lebih teduh. Bagi Sahabat MQ, memiliki pasangan yang takut kepada Allah adalah anugerah terbesar, karena cinta yang dilandasi ketakwaan tidak akan mudah luntur oleh ujian duniawi yang silih berganti.

Peran Penting ITA: Istri Takut Allah

Keharmonisan rumah tangga tentu tidak bisa hanya diperjuangkan oleh satu pihak, melainkan butuh dukungan dari istri yang memiliki prinsip ITA atau Istri Takut Allah. Aa Gym berpesan kepada para istri agar fokus memperbaiki hubungannya dengan Allah terlebih dahulu sebelum menuntut perubahan pada suami. Istri yang takut kepada Allah akan menjaga lisannya dari keluhan yang tidak perlu dan selalu berusaha menjadi penyejuk hati bagi keluarganya.

Istri yang salehah adalah perhiasan dunia yang paling berharga karena ia mampu menjaga kehormatan diri dan ketaatannya kepada Allah di mana pun ia berada. Rasulullah saw. memberikan gambaran indah mengenai ciri istri yang terbaik dalam sebuah hadis:

خَيْرُ النِّسَاءِ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا مَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Artinya: “Sebaik-baik wanita (istri) adalah yang menyenangkan suami jika dipandang, menaatinya jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami pada diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suami.” (HR. An-Nasa’i).

Dengan landasan takut kepada Allah, Sahabat MQ yang berstatus sebagai istri akan mendapati bahwa melayani keluarga adalah bentuk ibadah yang sangat mulia. Ketulusan dalam menjalankan peran sebagai ibu dan istri akan melahirkan energi positif yang luar biasa di dalam rumah. Jika istri sudah “selesai” dengan dirinya dan hanya berharap rida Allah, maka tantangan dalam rumah tangga akan dihadapi dengan lebih anggun dan bijaksana.

Mewujudkan Surga di Dalam Rumah Tangga

Rumah yang dilandasi ketakwaan bersama akan menjadi tempat tinggal yang penuh dengan ketenangan (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah). Sahabat MQ diajak untuk saling mengingatkan dalam kebaikan, bukan saling menghakimi saat terjadi kesalahan. Komunikasi yang dibangun bukan lagi berdasarkan ego, melainkan berdasarkan prinsip saling mencari rida Allah Swt. agar kelak bisa berkumpul kembali di surga-Nya.

Pesan terindah dalam sebuah pernikahan adalah tekad untuk saling menyelamatkan dari api neraka, sebagaimana perintah Allah Swt. dalam Surah At-Tahrim ayat 6:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.

Mari kita jadikan rumah tangga sebagai laboratorium ketaatan dan kesabaran. Tidak perlu ada perdebatan mengenai hal-hal kecil yang tidak bermanfaat, melainkan fokuslah pada bagaimana agar setiap anggota keluarga semakin kenal dan yakin kepada Allah Swt. Dengan visi yang sama menuju akhirat, Sahabat MQ akan dapati bahwa rintangan seberat apa pun justru akan semakin mempererat ikatan cinta karena Allah.